by

Tantangan dan Dampak Pembelajaran Daring

Oleh: Amadea Syafa

Pembelajaran secara daring merupakan salah satu alternatif yang dilakukan di tengah pandemi covid-19. Tentunya hal tersebut memberikan pengaruh kepada siswa, baik pengaruh positif maupun negatif.

Terdapat beberapa daerah yang telah menerapkan pembelajaran secara daring sejak 16 Maret 2020. Penggunaan aplikasi seperti whatsApp, Google Classroom, Zoom dan LMS (Learning Management System) adalah media yang dapat digunakan dalam sistem pembelajaran daring.

Pada dasarnya pembelajaran secara daring memberikan pengaruh positif maupun negatif, baik kepada siswa maupun kepada guru. Namun karena ada beberapa hal yang terjadi selama pembelajaran berlangsung, siswa mengeluhkan tentang keefektifan pembelajaran secara daring selama ini.

Dampak positif dan negatif dari pembelajaran online terhadap prestasi di masa pendemi diantaranya Meningkatkan kemandirian siswa dalam mencari informasi baru mengenai pembelajaran, mengajarkan sebagian siswa disiplin waktu, mengasah pola pikir siswa untuk mengembangkan dirinya, dan Menumbuhkan rasa tanggu jawab yang tinggi pada siswa.

Selain itu, pembelajaran online terhadap prestasi siswa diantaranya: Membuat siswa mengalami kesulitan belajar dalam memahami materi. Banyaknya guru yang menggunakan metode penugasan kepada siswa. Dampak Negative terhadap akhlak, yaitu dikarenakan siswa wajib memiliki Handphone android, karena semua tugas yang diberikan oleh guru biasanya melalui aplikasi Whaatsap, sekilas memang memudahkan bagi siswa, karena cukup membuka grup WA mereka sudah bisa mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya.

Baca Juga: Komnas HAM RI Kembangkan Mekanisme Mediasi Daring

Namun dibalik kemudahan itu juga ada dampak negatifnya yaitu porsi waktu antara mengerjakan tugas dengan bermain game, maka porsi waktu bermain game jauh lebih lama daripada porsi waktu mengerjakan tugas, sehingga pada akhirnya siswa lebih banyak bermain gamenya daripada mengerjakan tugas.

Hal ini berdampak siswa menjadi kecanduan bermain game, sehingga mestinya waktu yang ada digunakan untuk hal-hal yang positif menjadi terabaikan, apalagi orang tuanya yang selalu menekankan kedisiplinan dalam melaksanakan ibadah seperti sholat menjadi terganggu, sehingga terjadilah pertengkaran antara orang tua dengan anaknya, dikarenakan anaknya tidak mau melaksanakan perintah orang tuanya. Hal inilah yang menjadi penyebab menurunnya akhlak siswa dari dampak negative pembelajaran daring ini.

Keadaan darurat nasional yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia yang disebabkan oleh COVID 19 mengharuskan proses belajar mengajar harus dilakukan dariNG dan dilaksanakan di rumah. Pemberlakuan sekolah virtual mulai dari SD,SMP, SMA hinga Perguruan Tinggi pun harus menjalankan proses pendidikan dengan jalan virtual. Pemberlakuan sekolah virtual ini, merupakan jalan terbaik untuk keberlangsungan proses pendidikan. Sebab pendidikan adalah pilar-pilar peradaban. Majunya negara bergantung pada majunya pendidikan.

Salah satu penentu keberhasilan pembelajaran secara virtual adalah kompetensi guru. Guru akan berusaha sedapat mungkin agar kegiatan pembelajaran yang dilakukan berhasil. Guru berperan sebagai pengorganisasi lingkungan belajar dan sekaligus sebagai fasilitator belajar. Untuk memenuhi itu, maka guru harus memenuhi aspek guru sebagai: model, perencana, peramal, pemimpin, dan penunjuk jalan atau pembimbing ke arah pusat-pusat belajar.

Sebagai rekomendasi kedepannya, seluruh komponen yang berkecimpung didunia pendidikan khususnya disekolahan yang dibutuhkan komunikasi dan koordinasi serta kolaborasi yang baik antar elemen. Kompetensi dan keterampilan guru dalam pembelajaran hingga melek informasi sesuai dengan situasi zaman diperlukan. Guru juga harus dapat mengukur dan membebani beban belajar peserta didik. Beban belajar peserta didik harus logistik dan waktu baik materi maupun waktu.

Guru tidak boleh hanya sendiri-sendiri memberikannya secara mandiri tetapi tidak menentukannya. Tidak lupa juga guru dapat memberikan apresiasi kepada peserta didik agar tujuan pembelajaran tercapai. Selain itu, kurikulum yang pembelajaran berani adalah kurikulum yang fleksibel dan menghadapi perubahan zaman, baik pandemik maupun yang lainnya.

Penulis: Amadea Syafa, Alumni SMAN 1 Pontianak

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed