by

Tangkal radikalisme dan Terorisme, Pemuda Harus Miliki Karakter Kebangsaan

Kabar Damai | Senin, 13 September 2021

Palembang | kabardamai.id | Virus intoleransi, radikalisme dan terorisme menjadi ancaman nyata bagi generasi muda di Indonesia. Karenanya,  generasi muda harus memiliki karakter kebangsaan sebagai upaya untuk menangkal virus tersebut. Untuk itu perlunya sikap kritis dan kewaspadaan untuk menjaga diri kaum muda tersebut dan lingkungan sekitar.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwahid  saat menjadi narasumber pada diskusi Forum Ngopi (Ngobrol Pemuda Indonesia), yang dihelat Rumah Mimbar Harmonisasi Indonesia (Ramai.ID) secara daring.

Acara yang mengangkat tema “Sinergitas pemuda dalam pembentukan karakter kebangsaan, guna menangkal paham intoleransi, radikalisme dan aksi terorisme” diselenggarakan di Palembang, Sabtu, 11 September 2021.

“Peran pemuda ini harus diposisikan sebagai ujung tombak strategis dalam menangkal paham intoleransi dan radikalisme yang ada di lingkungan sekitarnya. Para pemuda ini harus selalu ikut berperan aktif dalam menghormati, mengedepankan toleransi, perdamaian dan kerharmonisan di tengah-tengah masyarakat,” ujar Nurwakhid

Alumni Akpol tahuin 1988 ini menjelaskan, paham radikal terorisme ini bisa masuk ke individu-individu dan bukan dikaitkan dengan suatu agama. Karena semua orang bisa mempunyai potensi menjadi radikal,

Baca Juga: Waspada Potensi Radikalisme-Terorisme Atas Berkuasanya Taliban di Afghanistan

“Yang mana ini radikal terorisme yang mengatasnamakan agama ini sejatinya adalah musuh negara dan juga musuh agama. Kita diajarkan dan diwajibkan untuk menghargai, memberi kasih sayang dan bertoleransi, mencintai tanah air dan menghormati pemimpin yang sah,” ujar mantan Kabagbanops Detasemen Khusus (Densus)88/Anti Teror Polri ini.

Menurut Nurwakhid, kelompok intoleransi, radikal harus diperangi bersama jika konflik yang terjadi itu semakin besar. Jangan sampai bangsa Indonesia ini menjadi seperti negara-negara yang mengalami perang saudara seperti di Libya, Suriah, Afghanistan, Somalia, Nigeria, Yaman, Irak dan sebagainya.

“Karena konflik yang terjadi di negara-negara itu di duhulukan oleh tindakan radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama. Termasuk aksi terorisme yang terjadi di Indonesia,” jelas mantan Kapolres Gianyar ini.

Beragam Varian

Dikatakan Direktur Pencegahan, virus ideologi radikal dengan mengatasnamakan Islam, yang di mayoritaskan kaum takfiri dan wahabi memiliki varian yang vermacam-macam. Seperti wahabi dakwah, menonjolkan kepada intoleransi.

“Kemudian ada juga Wahabi, salafi politik, mereka yang mengikuti gerakan politik, seperti ihwalul muslimim yang berpusat di Inggris, dan ada juga yang mengikuti gerakan politik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), ini juga ada di Inggris. Belakangan juga kita tau bahwa tokoh KKB Benni Wenda dilindungi di Inggris, gerakan politik memanipulasi agama,” ujar perwira tinggi yang juga pernah menjadi Kapolres Jembrana ini.

Nurwakhid memberi contoh wahabi, salafi jihadis namanya Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al-Qaeda. Dikatakannya, karakter radikalisme adalah merasa paling benar, merasa paling suci, merasa paling ahli surga, playing victim merasa diperlakukan tidak adil, dizolimi, kriminalisasi, dan mereka menjustifikasi bahwa pemerintah ini sesat, tidak dipungkiri juga mereka menghalalkan segala cara atas nama agama.

Dalam kesempatan tersebut Nurwakhid juga berbicara mengenai dampak kemerdekaan Taliban terhadap Indonesia. Dimana Taliban ini adalah suatu faksi di Afganistan, dan sebenarnya untuk ideologi cenderung memakai mazhab Hanafi dan untuk taufidnya ke maturidiah. Tetapi pola kegiatan politiknya mirip dengan salafi, wahabi, yang di Indonesia berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah (JI).

“Jika kita mengetahui ketika Taliban berkuasa di 1996-2001 sangat terlihat bahwa mereka konserfatif dengan merusak patung Budha yang terbesar di dunia saat itu yang ada di Afganistan. Mungkin di Indonesia mirip dengan FPI yang pernah merusak patung di Purwakarta. Bedanya FPI ini tidak bersenjata, jika FPI bersenjata maka bisa lebih membahayakan,” ucap mantan Wakil Komandan Resimen Taruna (Wadanmentar) Akpol ini.

Dikatakan Nurwakhid, dampak kepada situasi di Indonesia terkait apa yang dilakukan Taliban di Afghanistan ini adalah bisa menjadi momentum atau sebagai motivasi terutama untuk jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, dimana Al-Qaeda ini pernah berkolaborasi dengan Taliban pada masa awal berdirinya Taliban.

“Pengaruhnya melalui penyebaran di dunia maya, selalu mengkaitkan kemenangan Taliban dengan kemenangan umat muslim. Dan hal ini memotivasi mereka menyatakan bahwa kita bisa, dan kelompok ini memframing bahwa Taliban mengusir negara Amerika. Ditambah lagi dengan adanya perkataan Indonesia dikuasai oleh asing seperti China, dan kelompok ini ingin untuk bisa seperti Taliban,” ujar mantan Kadensus 88/Anti Teror, Ditreskrim Polda DIY ini.

Dengan kejadian tersebut menurutnya hal ini yang harus diwaspadai oleh semua pihak yang ada di Indonesia termasuk juga terhadap para generasi muda,

“Ini adalah sesuatu yang menjadikan pelajaran bagi kita. Bangsa kita yang hebat dan kaya. Hanya dengan silahturahmi, gotong royong, menjaga toleransi, menjaga persatuan dan juga konsensus nasional Indonesia, karena radikal terorisme adalah proxy negara,” terangnya.

 

Tiga Aspek Pencegahan dan Peran Strategi Kaum Millenial

Mencermati kondoisi tersebut menurut Nurwakhid, BNPT selalu melakukan upaya pencehana terhadap penyebaran paham-paham tersebut. Sesuai amanat Undang-undang No. 5 tahun 2018 tentang Penanggulangan Terorisme ini, Pencegahan ini mencakup tigas aspek.

Pertama adalah Kesiapsiagaan Nasional. Dimana Kesiapsiagaan Nasional disini tidak hanya sekadar kesiapsiagaan fisik atau kesiapsiagaan pasukan, sistem manajemen, anggaran dan sebagainya.

Pencegahan yang kedua yaitu dilakukan dengan yang namanya Kontra Radikalisasi. Seperti diekatahui bahwa konten-konten intoleran dan radikal yang mendominasi Dunia Maya Maka dari itu perlu dilakukan Kontra Radikalisasi yang isinya adalah kontra ideologi kontra narasi dan kontra propaganda.

“Tujuannya adalah untuk meng-counter narasi narasi intoleran, radikal dan sebagainya,” ucapnya.

Sedangkan upaya Pencegahan yang ketiga yaitu dilakukan Deradikalisasi. Dimana Deradikalisasi ini diperuntukan untuk mereka yang sudah terpapar kadar tinggi, baik mereka yang telah menjadi tersangka terdakwa terpidana maupun narapidana terorisme dan mantan narapidana terorisme beserta keluarganya.

“Deradikalisasi ini didefinisikan sebagai upaya atau proses untuk mengembalikan seseorang yang sudah terpapar paham radikal untuk kembali menjadi moderat, atau minimal untuk mengurangi kadar keterpaparannya” jelasnya.

Dalam acara ini Koordinator Ramai.ID, Imam Santoso mengatakan peran strategis kaum milenial menjadi agent of change menjadi pionir dalam menangkal intoleransi dan radikalisme, revolusi digital, menjadi luar biasa dimasa sekarang ini.

“Generasi muda tidak terlepas dari gadget dari dunia media sosial, kita harus aktif dalam kegiatan positif menyebarkan konten perdamaian dengan menggaungkan nilai-nilai pancasila dan wawasan kebangsaan,” terangnya.

Imam santoso menambahkan seluruh warga bangsa termasuk para pemuda harus waspada terhadap oknum yang mengambil kesempatan dengan kemenangan Taliban di Afghanistan. Dimana mereka terus memberikan semangat dan membangkitkan masyarakat khususnya anak muda, jangan sampai warga bangsa ini terpengaruh dengan isu-isu bertebaran di media sosial.

“Indonesia berbeda jauh dengan negara Afghanistan. Jangan samakan Indonesia dengan Afghanistan. Kita harus bersyukur mempunya 4 pilar kebangsaan dalam menjaga kedaualatan bangsa negara Indonesia,” tandasnya.

Narasumber yang hadir dalam kesempatgan tersebut yaitu Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan mengatakan peran media sosial sangat luar biasa dalam penyebaran intoleransi dan paham radikalisme.

Hal tersebut dikarenakan media sosial ini mudah diakses, audiensi yang luas, bisa menggunakan nama samaran, kecepatan informasi, media yang interaktif, murah, bersifat multi media dan internetlah telah menjadi sangat mudah agar menjadi sumber pemberitaan.

“Dengan ini target mereka bukan hanya kalangan bawah saja untuk menjajakan pahamnya ada juga dokter, dosen yang terkena dimasjid-masjid bahkan ada di pasar-pasar pakai Toa dengan menanamkan sugesti bahwa merekalah yang bisa memberikan solusi dihari ini,”bebernya. [damailahindonesiaku.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed