by

Afghanistan: Taliban, Perempuan dan Mazhab Hanafi

-Opini-92 views

Oleh Mukti Ali Qusyairi

Taliban, mengapa sebagian besar dunia “menjerit” ketika Taliban menguasa sebagian besar daerah Afghanistan dan Ibu Kota Kabul? Mengapa sebagian penduduk Afghanistan lebih memilih meninggalkan Afghanistan pasca Taliban menduduki Kabul? Jawaban yang didapatkan dari pernyataan-pernyataan yang ada adalah karena trauma terhadap cara Taliban memimpin dan mengatur kepemerintahan Afghanistan ketika dulu berkuasa.

Saya ingin menyebut satu saja di sini tentang sebuah trauma domestifikasi perempuan secara total: perempuan hanya di rumah saja, tidak boleh bersekolah, bekerja di ruang publik, perempuan nasibnya di tangan walinya, pasti dijodohkan dan tidak bisa dan tidak boleh memilih pasangan hidupnya sendiri, sekujur tubuh perempuan wajib ditutup rapat. Ini berdasarkan informasi yang saya gali dari pengalaman Bapak Ustadz Nasir Abas yang pernah hidup lama di Afghanistan.

Bahkan Ustadz Nasir bercerita, bahwa orang Afghanistan akan bilang punya anak tiga padahal sebenarnya dia punya anak lima, karena yang dua anaknya yang tidak disebutkan adalah perempuan.

Apakah cara pandang Taliban dalam memperlakukan perempuan seperti itu merujuk pada pandangan Mazhab Hanafi? Jawabannya jelas bukan dan tidak menggunakan pandangan Mazhab Hanafi. Ini sebuah ironi, di satu sisi Taliban mendaku bermazhab Hanafi. Tapi pada sisi lain Taliban tidak mengaplikasikan dan mengamalkannya.

Sebagian pendapat menyatakan bahwa Taliban mendomestifikasi perempuan dengan menggunakan cara pandang tradisi lokal Pastun. Akan tetapi sebagian pendapat menyatakan bahwa Taliban menggunakan cara pandangnya sendiri berdasarkan rumusan keagamaan para pemimpinnya yang kala itu kaku, eklusif, dan berambisi secara politis mewujudkan negara Islam yang eklusif. Sebab sebelum Taliban berkuasa, kehidupan perempuan normal saja bisa sekolah dan bekerja di ruang publik.

Baca Juga: Mengulik Dampak Kemenangan Taliban bagi Indonesia

Mazhab Hanafi menyatakan bahwa perempuan boleh membuka tangannya sampai ke siku di ruang publik dan boleh terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Sebab bukan aurat yang wajib ditutup. Sehingga perempuan menggunakan baju lengan pendek di ruang publik adalah diperbolehkan menurut Mazhab Hanafi. Lengan perempuan boleh terlihat laki-laki. Ini disampaikan oleh Syekh Abu Yusuf, seorang murid Imam Abu Hanifah.

Mazhab Hanafi juga berpendapat bahwa laki-laki lain boleh melihat muka dan gigi perempuan. Dengan kata lain, adalah absah ketika perempuan tersenyum dan memperlihatkan gigi-giginya di ruang publik.

Pandangan Imam Abu Hanifah yang kosmopolitan ini disebabkan latarbelakang kehidupannya yang saban hari menjadi pedagang di pasar, banyak bergaul, terbuka, dan non-Arab.

Sehingga Mazhab Abu Hanifah justru memberikan kebebasan bagi perempuan untuk bekerja di ruang publik. Dikatakan dalam salahsatu kitab Mazhab Hanafi, “lengan perempuan boleh terlihat lelaki di saat perempuan itu sedang mengaduk dan mengadon roti…” Artinya penjelasan ini menggambarkan perempuan bekerja di ruang publik.

Selain bekerja, perempuan juga berkewajiban bersekolah. Sebab banyak persoalan yang wajib diketahui perempuan, seperti soal haid, nifas, beranak, cara mendidik anak, beibadah, muamalah, dan yang lainnya. Sehingga mazhab Hanafi dan mazhab-mazhab yang lain menyetarakan lelaki dan perempuan dalam belajar dan bersekolah.

Jika Taliban kembali ke khittahnya sebagai pengikut Mazhab Hanafi, dengan menelaah dan mengulik kekayaan khazanahnya, maka ada harapan bagi masa depan perempuan yang cerah dan menggembirakan. Sebaliknya jika tidak kembali ke khittahnya dan mengedepankan ideologi Islamismenya maka masa depan suram (mades) bagi perempuan.

 

Mukti Ali Qusyairi, Ketua LBM PWNU DKI Jakarta dan Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed