by

Tahun Baru, Semangat Baru Melawan Intoleransi

-Opini-33 views

Oleh: Hamka Husein Hasibuan

Media sosial sebagai ruang bersama yang semua orang bisa bebas berekspresi di dalamnya, menjadi masalah tersendiri bagi bangsa ini. Pasalnya, ruang bebas itu justru sering diisi dengan berbagai macam bentuk informasi negatif, konten destruktif, serta narasi-narasi provokasi.

Sepanjang tahun 2021 ini, kita disuguhkan dengan berbagai macama narasi kebencian atas dasar ideologi kelompok, hasutan untuk melawan pihak yang dianggap sebagai musuh, dan merebaknya konten-konten inteleransi yang tidak menghargai perbedaan dan keragaman bangsa.

Di penghujung tahun ini, semua orang pun berharap dengan harapan yang sama, agar bangsa ini jauh dari kegaduhan dan keributan yang menyebabkan polarisasi dan konflik.

Akankah harapan kita akan pupus juga nantinya? Apakah harapan kita itu harus mengalami hal yang sama dengan dengan harapan kita di penghujung tahun lalu?

Mulai dari Diri Sendiri

Agar resolusi 2022 itu tidak sekadar harapan tahunan tanpa ada realisasi, maka kuncinya sebenanarnya ada pada diri setiap orang. Kita harus memulai membersihkan narasi kebencian dan intoleran itu dari diri kita masing-masing. Mulai dari diri sendiri adalah kunci.

Dalam konteks inilah, saya teringat dengan pidato penutup Quraish Shihab yang menyentuh dan sempat viral di media sosial. Dalam pidato itu, Qurasih Shihab bercerita, dulu ada sesorang manusia yang ingin mengubah dunia. Akan tetapi, di tengah perjalanan mimpinya itu pupus, dan ia tidak bisa menjalankan, maka ia turunkan mimpinya “ingin mengubah bangsa.”

Baca Juga: 2022 Tahun Toleransi : Menjadikan Islam Indonesia Barometer Moderasi Beragama

Ternyata itu juga tidak bisa ia lakukan. Ia turunkan ingin mengubah sukunya. Itu juga tidak bisa ia lakukan. Ia turunkan ingin mengubah keluarganya. Sampai akhirnya ia berada di pembaringan sakitnya, ia berucap: “seandainya dulu saya mulai dari mengubah diri saya sendiri, niscaya setalah mengubah diri saya, saya akan bisa mengubah keluarga, bisa mengubah suku, bisa mengubah bangsa, dan seterusnya.”

Di akhri pidato itu, Quraish Shihab menyatakan –dan ini adalah poin pentingnya –jika kita ingin mengubah dunia lebih damai, maka hal yang pertama dilakukan adalah mengubah diri kita dulu. Kita mulai dari diri. Menanamkan nilai-nilai perdamaian pada diri kita.

Jika tidak bisa intoleransi aktif, setidaknya –lagi-lagi masih menurut Pak Qurasih –toleransi fassif. Jika tidak bisa aktif melakukan perlindungan terhadap kelompok lain, setidaknya jangan merusak, menghina, dan mecemooh keyakinan atau kelompoknya.

Bersikap Kritis

Setelah memulai dari diri sendiri, baru hal yang paling urgen kita lakukan –terutama di media sosial –adalah bersikaf kritis terhadap informasi, konten, dan meteri yang ada di dunia maya. Dunia maya adalah dunia baru, di mana fakta, opini, nilai bertebaran secara bebas. Kita perlu sikap selektif-verifikatif.

Wujud dari sikap kritis itu adalah, kita tidak terjebak tidak terjebak pada disiformasi yang dapat memecah belah masyarakat. Kita perlu menjaga sikap rasional dan pikiran terbuka. Melakukan cek and recak. Membandingkan satu dengan yang lainnya.

Kita harus belajar berpikir terbuka dalam melihat perbedaan komentar dari berbagai pihak di media sosial. Karena orang bisa belajar melihat mana komentar dangkal, mana yang mendalam dan mana orang yang nalarnya bagus dalam menggunakan di medsos.

Kebiasaan pengguna media sosial, cenderung  hanya mau membaca, mendengar, dan menyebar yang sesuai dengan ideologi dari kelompoknya saja. Belum bisa bisa memfilter informasi dengan baik. Ideologi kelompok ada tolak ukur segalanya. Inilah yang menyababkan terjadinya pembenaran diri secara terus menerus di kelompok itu.

Oleh karenanya, cara terbaik menghadapi medsos akhirnya adalah dengan memperdalam kemampuan untuk merenung atau reflektif diri dengan membiasakan membaca esai atau tulisan-tulisan berbobot. Ini agar daya kritis kita bisa terus terasah.

Jika memulai dari diri sendiri merupakan gerak ke dalam, maka bersikap kritis adalah gerak keluar. Refleksi adalah gerak ke dalam sekaligus gerak keluar. Untuk itu, resoluusi tahun 2022 untuk membersihakan narasi kebencian dan intoleran tidak perlu muluk-muluk, mari kita mulai dari diri kita masing-masing dan membiasakan diri untuk selalu bersikap kritis. [jalandamai]

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed