by

Sweet Tooth: Serial Relevan dengan Situasi Pandemi dan Upaya Manusia Menghadapinya

Kabar Damai I Selasa, 03 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sweet Tooth diadaptasi dari komik DC berjudul sama yang ditulis dan digambar oleh Jeff Lemire. Adaptasi Sweet Tooth dibintangi oleh Nonso Anozie, Will Forte, Christian Convery dan cerita dinarasikan oleh aktor kenamaan sekaligus produser James Brolin. Musim pertama Sweet Tooth berisi 8 episode yang kemungkinan besar akan dilanjutkan ke musim kedua.

Sweet Tooth adalah serial yang menceritakan petualangan seorang anak bernama Gus di dunia post-apokalips. Dikisahkan, kehidupan manusia dan dunia sudah hancur karena wabah virus misterius yang belum ditemukan obatnya. Di tengah kekacauan tersebut, ada sebuah fenomena yang unik. Setiap perempuan yang melakukan persalinan setelah wabah, melahirkan anak setengah manusia setengah bintang yang disebut hibrida.

Baca Juga: Ini 5 Filem Epik Tentang Toleransi Beragama

Karena fenomena ini, banyak manusia yang menyalahkan hibrida dan memburu kepala mereka. Dunia semakin kacau karena tatanan sosial, hukum dan ekonomi hancur perlahan. Jumlah manusia semakin sedikit sementara wabah terus menerus mengintai. Serial Sweet Tooth mungkin cukup familiar bagi mereka yang pernah menonton film atau serial bertema post-apokalips.

Hal yang membedakan Sweet Tooth ialah misteri para hibrida. Bagaimana mereka muncul dan apa fungsi mereka pada ekosistem bumi. Singkatnya, hibrida dalam serial Sweet Tooth jadi daya tarik utama. Hibrida membuat cerita semakin kompleks dan menyenangkan untuk dieksplorasi. Jadi, kita bukan sekadar menonton para karakter yang mencoba bertahan hidup di tengah kiamat.

Relevan Dengan Kondisi Pandemi

Cerita post-apokalips mungkin jadi formula yang disenangi banyak orang. Namun, hal yang membuat Sweet Tooth terasa spesial adalah eksekusi cerita yang sangat relevan dengan kondisi nyata kita hari ini. Karena komik Sweet Tooth dirilis tahun 2009, serial ini terasa seperti memprediksi kondisi Covid-19 yang sedang melanda kita. Bahkan kondisi Covid-19 hari ini mungkin menjadi salah satu inspirasi yang berpengaruh pada serial ini. Sutradara dan produser menyisipkan kondisi real kita sekarang dalam serialnya.

Karena sama-sama membicarakan wabah virus, saat menonton kita terasa berkaca. Semua variabel yang muncul dalam serial adalah gambaran kondisi sosial kita hari ini. Dari mulai orang-orang yang memanfaatkan virus untuk keuntungan sendiri, ketakutan orang-orang terhadap orang yang terinfeksi virus, orang-orang yang abai dan skeptis terhadap penularan virus.

Lalu ada juga kondisi kembalinya keseimbangan bumi karena virus, ketidakmampuan pemerintah menangani wabah serta vaksin yang nggak berguna. Sweet Tooth juga menggambarkan ide humanisme, kesenjangan sosial serta kemiskinan.

Semua hal di atas terjadi terjadi pada kita hari ini. Sweet Tooth sepertinya ingin menggambarkan kondisi paling ekstrim dari wabah Covid-19 jika kita nggak mulai sadar akan bahaya virus yang sedang kita hadapi. Kemampuan Sweet Tooth untuk merefleksikan realita pada cerita komik inilah yang membuatnya punya nilai tinggi. Kalian nggak akan menyesal atau merasa sia-sia setelah menonton serial besutan Netflix ini.

Penuh Aksi dan Misteri

Hal terakhir yang membuat serial Sweet Tooth menarik adalah pendekatan dalam bercerita. Dari episode ke episode, serial yang bercerita tentang Gus ini konsisten mempertahankan unsur misteri dan aksi.

Kita bukan dibuat bertanya-tanya semata tapi juga disuguhkan dengan aksi-aksi yang cukup lengkap. Adanya The Last Man, kelompok pemburu hibrida dan Animal Defender, kelompok pembela hibrida membuat konfik serial Sweet Tooth semakin menarik.

Menonton Sweet Tooth di masa pandemi mau tak mau membuat saya berandai-andai bagaimana jika apa yang terjadi pada serial dystopia ini adalah sebuah refleksi potensi dari kondisi terkini? Tentunya membuat saya bergidik. Pasalnya, apa yang ditampilkan Sweet Tooth mengarah pada seberapa buruknya upaya manusia dalam menghadapi pandemi, memperlihatkan aspek terburuk yang muncul dari manusia.

Misalnya, dalam serial ini diperlihatkan bagaimana orang-orang begitu paranoid saat ada orang di antara mereka terinfeksi. Ujungnya, sampai muncul adegan mengerikan saat di suatu perumahan, ada salah satu warganya terkena, rumah beserta orangnya langsung dibakar sebagai bentuk upaya pencegahan agar tidak menginfeksi yang lain.

Padahal sebelumnya mereka tampak akrab, saling tertawa, dan merumpi bersama. Namun, saat terinfeksi, semua perasaan itu sirna seketika berubah menjadi rasa takut hingga parno Adegan ini mau tak mau membuat saya merefleksikan situasi terkini. Saat ini saya masih sering mendengar bagaimana orang-orang yang dinyatakan positif covid diperlakukan secara berlebihan layaknya aib.

Ada yang dikucilkan dan diperbincangkan, ada yang sampai takutnya ojek online mengantarkan makanan buat yang sedang isoman, hingga diusir dari kos-kosan. Bagaimana pandemi ini mengubah perilaku orang-orang, terlebih soal tingkat empati yang semakin rendah karena sikap pertahanan diri yang cenderung “pokoknya saya selamat, bodo amat orang lain”.

Bentuk pemikiran ini tentu berbahaya dan merupakan bibit potensi dari apa yang digambarkan dalam Sweet Tooth. Memang dalam cerita-cerita genre survival post-apocalypse, fenomena pemikiran ini sering ditampilkan. Dari banyaknya cerita sejenis yang ada, saya memaknai bahwa secara tidak langsung telah disepakati.

Yaitu, wajar kalau dalam kondisi keselamatan terancam, dalam bertahan hidup, hubungan sosial sudah tidak penting lagi yang berujung memudarnya rasa manusiawi dan empati. Betapa menakutkannya manusia jika sudah bersinggung pada usaha bertahan hidup.

Hal lain yang tampak menakutkan dari dunia Sweet Tooth adalah soal absennya pemerintah dalam penanganan pandemi. Dalam serial ini, kondisi dunia sudah sampai pada tahap tidak adanya hukum, sudah tidak ada lagi orang pemerintahan, dan runtuhnya tatanan sosial.

Yang ada tinggal orang-orang yang bertindak semaunya sendiri, main hakim sendiri. Orang-orang yang bertindak berdasar versi kebenarannya sendiri, termasuk orang-orang yang dengan mudahnya mencari kambing hitam lalu memutuskan siapa yang pantas bertahan hidup. Kondisi ini adalah bayangan mengerikan lainnya apabila pemerintah gagal menangani pandemi.

Meskipun ada banyak elemen depresif, serial Netflix satu ini bisa menyeimbangkan dirinya dengan tingkah menggemaskan Gus. Secara keseluruhan, Sweet Tooth masih dianggap sebagai serial yang cerah nan menyenangkan. Namun, selain Sweet Tooth muncul di momentum yang sesuai, ia berhasil jadi pengingat yang berharga. Beberapa aspek yang muncul dalam serial bisa jadi gambaran kondisi sosial kita hari ini. Betapa menakutkannya manusia jika berurusan dengan bertahan hidup.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed