by

Susila Medsos dalam Hindu

Pengemban Dharma yang budiman di manapun berada, semoga Sukino Bhawantu (sejahtera lahir bathin).  Dengan altar ketulusikhlasan dan permata pikiran nun suci, puji syukur kita haturkan karena berkat cahaya kasih Hyang Widhi Wasa sampai detik ini, kita  masih dapat berkarma dan berbakti, dengan menghaturkan pangastungkara panganjali “Om Swastyastu”.

Di dewasa ayu (hari baik) ini, Mimbar Hindu kembali hadir, berbagi cahaya pengetahuan tentang “Susila Medsos”.

Pengemban Dharma yang berbahagia, telah disadari bahwa sekarang ini era digitalisasi, mata sejuta umat di dunia tertuju pada handphone. Bahkan handphone telah menjadi kebutuhan primer. Di sinilah samudera pengetahuan didapat. Orang juga mendapat kebebasan berpendapat, mengekspresikan dirinya.

Akibatnya, virus kebohongan, ujaran kebencian menjadi pandemi moralitas yang secara berlahan menggeroti kemapanan sosial. Sampah Sad Ripu, Sapta Timira, Tri Mala berserakan di media sosial. Adakah rambu-rambu lalulintas di dunia maya ini yang patut kita patuhi, baik itu dharma negara dan dharma negara.

Negara telah hadir melalui Undang-Undang ITE (informasi transaksi elektronik) bahwa konten ilegal kesusilaan, penghinaan, pencemaran, perjudian bisa masuk dalam pidana dan perdata.

Baca Juga: Bersatu dengan Kristus

Sebagai mahluk sosial, setiap orang ingin di hormati, disayangi, dikasihi, dan dicintai. Dengan cinta kasih, kita akan damai (santih). Bara dendam, kebencian, dan fitnah (Asuri Sampad) tetap juga akan mengintip pelaku jalan Daiwi Sampad. Mana mungkin dan mana bisa manusia untuk tidak marah, benci, bahkan iri hati karena ini adalah eksistensi manusia. Sehingga, manusia disebut bhuta ya, manusa ya, dan dewa ya. Lalu sadarlah bahwa yang utama itu adalah saat marah, benci, jangan mengumbar di media sosial.

Slokatama Bhagawadgita BAB XVI. SLOKA 2 menyebutkan: Ahimsa satyam akrodhas, tyagah cantir apaisunam, daya bhutesw aloluptwam, mardawam hrir scapalam. “Tiada menyakiti makhluk lain, berpegang kepada kebenaran, tidak pemarah, melepaskan diri dari ikatan duniawi, tenteram, tidak suka memfitnah kasih sayang terhadap sesama makhluk, tidak tamak, lemah lembut, sopan santun dan teguh akan iman”.

Lalu apa kabar kebencian, dendam, dan irihati pengguna media sosial?  Ini gerbang menuju neraka. Dalam Bhagawadgita XVI.21 dijelaskan, “Triwidham narakasye dam, dwaram nacanam atmanah, kamah krodhas tatha lobhas, tasmad etat trayam tyajet.” Ada tiga pintu gerbang neraka yang meruntuhkan atma, yaitu nafsu, sifat pemarah, dan loba. Oleh karena itu tinggalkanlah ketiga ini”.

Pengemban Dharma di manapun berada. Akun media sosial facebook, WA, IG, youtube, Line, Twit, Telegran menjadi trend. Menu yang ditampilkan mampu mengakomodasi keinginan penggunanya (nitizen). Hal itu membuat teman yang jauh jadi dekat, dan teman di samping menjadi jauh, asyik dengan gadget-nya. Inilah dunia sekarang.

Modernitas dengan kemajuan teknologinya mempunyai kekuatan menggilas pundi-pundi tradisi dan keyakinan kita. Gending Bali sudah nyindir “made cenik lilig montor ibi sanja” bahwa kita telah tergilas oleh kemajuan teknologi, bahwa modernitas, meminjam istilah A. Giddens, “juggernaut” kekuatannya menggilas. Adalah fakta bahwa manusia sekarang dininabobokan oleh kecanggihan teknologi.

Apakah sedemikian negatifnya efek dari teknologi? Bukankah teknologi mempermudah hidup dan agama mempermulia hidup. A. Einstein dengan bijak menyebut  ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh.

Nikmat media sosial akan menenggelamkan manusia ketika tiada kendali. Spritualitas pun akan rapuh, tindak kekerasan, HOAK menjadi virus yang efektif menebar kebencian, fitnah, kebohongan. Radhakrisnan menyatakan bahwa ”kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Pekembangan sains dan teknologi tidak disertai dengan kemajuan yang sama dibidang spiritualitas, bahkan spiritualitas makin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme peradaban modern”.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia semakin pintar memparasitkan diri kepada alam dan mengejar hidup yang sifatnya kebendaan saja. Sastra agung Nitisastra “singgih ri tekaning yuganta kali tan hana lwihe sangkeng mahadhana, tan waktan sura, guna, pandita, widagda sami mangayap ing sang dhaneswara” bahwa di zaman kali yuga ini yang paling utama adalah material (uang), tidak menghiraukan orang pemberani, bijaksana, orang suci dan berpengetahuan, semuanya tunduk dan mendewakan materi (hedonism).

Kini, sorga neraka media sosial sejatinya ada di pikiran sebagaimana yang tertuang dalam teks Wrhaspatitattwa, 16. “Pikiranlah yang menyebabkan sang pribadi menikmati sorga. Pikiran yang menyebabkan sang pribadi jatuh ke neraka. Pikiran yang menyebabkan menjadi binatang. Pikiran yang menyebabkan menjelma menjadi manusia. Pikiran jua yang menyebabkan orang mendapatkan kelepasan”.

Susila media sosial di mata Hindu justru menjadi media untuk mengenal diri dan mengendalikan diri. Sehingga, yang disharing adalah yadnya utama pengetahuan.  Gunakanlah media sosial sebagai yadnya utama membagi pengetahuan, jnana yadnya.

Pengemban dharma di manapun berada. Yang menjadi inti dalam susila media sosial adalah kemampuan diri untuk mengolah dan mengendalikan diri, mulat sarira, awakta rumuhun warah dening hayu. Yaitu, tindakan instrospeksi diri, bercermin pada diri. Dengan demikian niscaya akan damai di hati dan harmoni.

Kunci utama susila media sosial adalah memegang irama harmoni pikiran. Pikiran lah yang menjadi sumber segala apa yang dilakukan. Pikiran lah yang memungkinkan orang dapat melihat, mendengar dan sebagainya. Pikiran pula lah yang menjadi sumber hawa nafsu, sumber perbuatan baik dan buruk. Karenanya, pikiran itu harus dikendalikan.

Pikiran lah yang merupakan sumbernya nafsu. Dialah yang menggerakkan perbuatan yang baik maupun yang buruk. Oleh karena itu, pikiran lah yang segera patut dikendalikan. Indriya adalah sorga dan neraka, sumber bahagia dan celaka. Bila ia dapat dikendalikan, seseorang akan mendapatkan sorga. Bila tidak terkendali, orang akan mendapatkan neraka.

Dalam Sarasamuscaya 71 disebutkan: Nyan pajara waneh, indriya ikang sinangguh swarganaraka, kramanya yan kawasa kahretanya, yaika saksat swarga ngaranya, yapwan tan kawasa kahretanya saksat naraka ika. Artinya: Inilah lagi yang akan diuraikan, nafsu yang dianggap penyebab sorga ataupun neraka. Jika nafsu itu dapat dikuasai pengendaliannya itulah merupakan sorga namanya apabila tidak dapat dikuasai pengekangannya ituah merupakan neraka.

Dari uraian sloka di atas, jelas lah bahwa pengendalian diri sangat penting untuk memperoleh keselamatan. Pikiran dan indriya itu dihindari dari melakukan sesuatu yang terlarang, tercela, dan melakukan segala sesuatu yang pada akhirnya tidak menyenangkan. Benda-benda duniawi  dengan daya pikatnya sangatlah membantu kelangsungan hidup manusia. Namun, orang yang menganggap materi itu adalah segalanya, terjebak dalam nikmat materi tersebut, laksana semut mati karena gula pada kenikmatan itulah sesungguhnya penderitaan. Demikian juga di media sosial, bagi yang terjebak nikmat media social, di sana jua sumber penderitaan.

Pengemban dharma di manapun berada, demikian Mimbar Hindu pekan ini. Semoga bermanfaat. Haywa cumacad wang, samasta jana norana cacadnia ning praja (jangan sekali sekali menghina cacat orang karena tiada yang sempurna di dunia ini). Semoga damai dan harmoni selalu saya akhiri dengan parama Santi Om Santih Santih Santih Om.

Alit Aryawati Apriltini, S.Ag (ASN Kemenag Bali)

Sumber: kemenag.go.id/read/susila-medsos-dalam-hindu-8npdg

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed