by

Survei UGM: Konservatisme di Indonesia Masih Cukup Kuat

Kabar Damai | Selasa, 13 April 2021

Yogyakarta | kabardamai.id | Kepala Pusat Studi Pancasila UGM, Agus Wahyudi menyampaikan, data-data dari Survei Nasional Pandangan Publik Tentang Narasi Pancasila: Pancasila Sebagai Ideologi NKRI Vs Pancasila Sebagai Ideologi Untuk Wujudkan Negara Berbasis Islam menunjukkan, konservatisme masih cukup kuat.

“Peran pemerintah tetap penting dan perlu dalam mengelola dinamika ini,” kata Agus Wahyudi saat merilis hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Studi Pancasila UGM bekerjasama dengan Indonesian Presidential Studies (IPS) secara virtual, Jumat (9/4).

Nyarwi Ahmad., Ph.D, Direktur Indonesia Presidential Studies, mengatakan kekuasaan rezim Orde Baru telah menciptakan narasi tunggal dan dominan Pancasila. Pasca Orde Baru, konstestasi narasi Pancasila berkembang seiring menguatnya tiga ragam konservatisme, yaitu mainstreaming Nasionalism Konservatif, Konservatisme Islamis dan Konvergensi Konservatisme Nasionalisme dan Islamisme yang memunculkan narasi NKRI Bersyariah.

“Seiring dengan arus konservatisme tersebut juga muncul beragam Perda Syariah yang dirumuskan dan diterapkan sejumlah kabupaten/ kota dan propinsi-propinsi di Indonesia, dan kami  berasumsi tren tersebut membawa konsekuensi pada konstruksi pandangan publik terhadap Pancasila,” ujarnya, seperti dikutip ugm.ac.id.

Nyarwi berpandangan pasca reformasi tiga tren konservatisme terus berkembang di Indonesia. Mainstreaming Nasionalisme Konservatif ditandai dengan menguatnya pandangan bahwa Pancasila adalah satu-satunya ideologi negara yang dapat dipergunakan oleh pemerintah tidak hanya untuk mencapai tujuan negara, namun juga untuk menentukan konstruksi identitas bangsa Indonesia.

Sedangkan menguatnya mainstreaming Konservatisme Islamism adalah di kalangan organisasi-organisasi Islam. Selain suka beraliansi dengan aktor-aktor anti-demokrasi,  mereka juga secara intens menyuarakan nilai-nilai Islam sebagai dasar kehidupan masyarakat Indonesia.

“Sementara itu onvergensi konservatisme Nasionalisme dan Islam, Religous Nasionalism, tren terakhir ditandai dengan menguatnya pandangan atau gerakan NKRI Bersyariah,” ungkapnya.

 

90,6% Masyarakat Setuju Pancasila Ideologi NKRI

Selain itu, hasil survei tersebut, Nyarwi Ahmad menyebut, pandangan pertama, mayoritas masyarakat Indonesia (90.6 %) menyatakan setuju/sangat setuju dengan pandangan bahwa Pancasila adalah Ideologi NKRI yang dapat digunakan untuk menentukan identitas bangsa Indonesia.

Pandangan kedua, 63.5 % persen masyarakat juga sangat setuju/setuju dengan pandangan, Pancasila merupakan ideologi untuk mewujudkan negara-bangsa Indonesia yang religious berdasarkan agama mayoritas/Islam. Jumlah masyarakat yang menolak/tidak setuju dengan pandangan yang kedua tersebut sebesar 26.8 %.

Baca Juga : Ribut-Ribut Ekstremisme Kekerasan

Masyarakat yang mendukung pandangan kedua jumlahnya juga lebih besar yang tinggal di perkotaan dibandingkan dengan yang tinggal di pedesaan. Jumlah masyarakat yang menolak/tidak setuju dengan pandangan yang kedua tersebut yang tinggal di perkotaan lebih besar (30.9 %), dibandingkan dengan mereka yang menolak pandangan tersebut yang tinggal di perkotaan.

Jumlah masyarakat yang mendukung pandangan kedua yang tinggal di provinsi-provinsi yang sedang atau pernah memiliki atau menerapkan Perda Syariah tersebut jumlahnya 71.1 %, sedangkan mereka yang di tinggal di luar provinsi-provinsi tersebut 54.1 %.

Jika dilihat dari latar belakang ormas Islam, mereka yang menolak pandangan Pancasila adalah ideologi untuk mewujudkan negara bangsa Indonesia yang berbasis agama mayoritas /Islam terakhir ini juga cukup besar, di atas 25 %, yaitu Muhammadiyah sebesar 28.6 %, NU sebesar 25.2 %, organisasi Islam lainnya sebesar 28.6 % dan yang tidak terafiliasi dengan ormas Islam manapun sebesar 29.9 %.

Sementara itu, dari empat kategori generasi (Babby boomers, Gen X, Millenial/Y dan Post-Millenial/Z) jumlah mereka yang menyetujui pandangan pertama lebih besar dibandingkan dengan mereka yang yang mendukung pandangan kedua.

Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan waktu pengambilan data dari 11-25 maret 2021. Metode pengumpulan data dilakukan lewat awancara tatap muka [kuesioner] dengan responden: 1200 responden dan margin of error ± 2.9%.

Nyarwi menyebut, secara umum, mereka yang menganut pandangan pertama jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan mereka yang yang mendukung pandangan kedua.

“Trend ini terkonifirmasi dari berbagai kategori gender, desa-kota, kategori wilayah (propinsi-propinsi) yang pernah menerapkan perda Syariah dan non-Perda Syariah, afiliasi ormas sosial keagamaan, usia dan kategori generasi,” kata dia.

 

Pancasila Masih dapat Digunakan untuk Bangun Bangsa Seabad ke Depan

Hasil survei tersebut menandakan, Pancasila masih dapat digunakan sebagai ideologi Negara yang dapat digunakan untuk membangun Indonesia satu abad ke depan.

Selain menyiratkan harapan, data survey di atas, lanjut Nyarwi, juga menyimpan sejumlah pertanyaan.

Pertama, sejauh mana dua pandangan Pancasila di atas ada dalam pemikiran masyarakat kita?

Kedua, sejauh mana eksistensi kedua pandangan di atas yang ada di tengah-tengah masyarakat nantinya berimplikasi pada perkembangan demokratisasi di Indonesia?

Ketiga, apakah dua pandangan tentang Pancasila dapat memperkuat pelembagaan demokratisasi di Indonesia?

Keempat, atau sebaliknya, apakah terjadi arus balik, berupa nasionalism conservatism dan konservatisme Islam yang mewarnai narasi Pancasila yang nantinya bisa merontokkan sistem dan nilai-nilai demokrasi yang kita tumbuhkan sejak Pasca Reformasi di negeri ini?

Agus Wahyudi, M.Si., M.A., Ph.D., menambahkan pokok dari kegiatan riset yang dilakukan ingin melihat persepsi publik terhadap Pancasila nantinya dan dikembangkan oleh siapa. Salah satunya pemerintah harus tetap memegang peranan kunci dan penting di dalam rangka menginterprestasikan.

Dalam riset ini, katanya, bisa dilihat bagaimana fokus masyarakat dalam melihat konteks menyetujui spirit reformasi dan demokrasi. Bagaimana kemudian perkembangan Pancasila di ruang publik saat ini, apakah kondusif untuk memperkuat konsolidasi demokrasi atau malah justru sebaliknya.

“Jadi, dari survei ini nanti sebenarnya memberi indikasi kemungkinan-kemungkinan kecenderungan-kecenderungan itu dan kedepan apa yang bisa kita harapkan dari perkembangan masyarakat kita,” paparnya.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed