by

Survei Kemenag: Religiusitas Masyarakat di Masa Pandemi Meningkat

Kabar Damai | Jumat, 23 Juli 2021

Jakarta | kabardamai.id | Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama melalukan survei tentang Urgensi Layanan Keagamaan di Masa Pandemi. Salah satu temuannya terkait meningkatnya religiusitas masyarakat di masa pandemi.

Melansir laman Kementerian Agama RI, hal itu disampaikan Kepala Balitbangdiklat Kemenag, Achmad Gunaryo. Menurutnya, tingkat relijiusitas masyarakat Indonesia secara umum meningkat, terlebih di masa Pandemi Covid-19.

“Survei kita lakukan secara daring, pada 8-17 Maret 2021. Ditemukan, mayoritas responden merasa semakin relijius (taat beragama) sejak mereka mengalami/menjalani pandemi Covid-19. Nilainya mencapai 81%,” kata Achmad Gunaryo saat menjadi narasumber pada Mejelis Reboan Diskusi Kebijakan Keagamaan, Rabu, 21 Juli 2021.

Achmad Gunaryo menambahkan, sebanyak 97% responden juga merasa keyakinan/keberagamaan secara psikologis membantu dalam menghadapi Pandemi Covid-19 dan dampaknya.

“Kondisinya, masih sedikit layanan konsultasi psiko-spiritual (psikologi keagamaan) yang tersedia. Menurut teori, dalam situasi krisis, seperti pandemi Covid-19 ini, ketika orang mengalami ketakutan, penderitaan, atau penyakit  sering mengalami pembaruan spiritual,” papar Achmad Gunaryo, dikutip dari laman kemenag.go.id (21/7).

Secara rinci, meminjam teori dan instrumen FICA Spiritual History Tool yang dikembangkan Puchalski (1996), sejumlah temuan atas pertanyaan dalam survei ini adalah sebagai berikut:

  • Kebanyakan responden sangat setuju dan setuju (55,1%), merasa Covid memengaruhi keyakinan/praktik keberagamaan.
  • Sebanyak 61.6% responden merasa bahwa pandemi Covid yang berlangsung lama mendorong mereka menemukan makna hidup.
  • Mayoritas responden (81%) merasa semakin relijius (taat beragama) sejak mengalami/menjalani pandemi Covid-19.
  • Mayoritas responden (97%) merasa keyakinan/keberagamaan mereka membantu (secara psikologis) mereka menghadapi Covid dan dampaknya.
  • Sebanyak 86,7% responden berupaya terhubung dengan (mencari support dari) pemuka agama dan komunitas agama mereka.
  • Selama menjalani pandemi, mayoritas responden (89,4%) merasa mendapat dukungan mental-spiritual (ada support system) dari pemuka agama dan komunitas agamanya.
  • Saat isolasi/menyendiri, ragam aktivitas dilakukan. Sebanyak 56,3% mendengar/membaca kitab suci, 47,2% mendengar ceramah, dan 42,8% dzikir/meditasi.
  • Sedikit sekali yang konsultasi-psikologis khusus. Hanya 22,1% responden yang mengaku pernah mendapat konseling psikologis-keagamaan, selama menjalani pandemi ini.

“Survei-daring ini bersumber dari sebanyak 1.550 respon para penderita Covid-19, penyintas, dan masyarakat di 34 Provinsi dengan cukup tersebar dan sebangun dengan populasi masyarakat Indonesia. Dengan Metode Accidental sampling (non-probabilitas), temuan hanya berlaku bagi responden. Selanjutnya dilakukan pengumpulan informasi kualitatif, dengan mewawancara per telepon 20 informan terpilih,” pungkas Achmad Gunaryo.

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Komunitas Agama

Pandemic Covid-19 tak hanya meningkatkan religiusitas masyarakat tetapi juga mengubah tata cara kehidupan manusia di seluruh dunia mulai dari interaksi sesama maupun proses berhubungan dengan Tuhan.

Beberapa orang mengurung diri di rumah, menghindari tempat keramaian, dan menunda perjalanan ke tempat lain. Sebagian lainnya mengubah tata cara bersalaman dari berjabat tangan dan berpelukan menjadi salam menggunakan siku dan kaki.

Wabah virus corona juga berdampak dalam kehidupan keagamaan umat manusia. Sejumlah gereja, masjid, kuil, dan sinagoga mengubah tata cara ibadah demi menahan penyebaran penyakit Covid-19.

Apa saja pengaruh virus corona terhadap kehidupan beragama umat manusia di dunia? Berikut ulasan BBC Worls Service yang diunggah dalam laman BBCIndonesia.com:

Islam

Masjidil Haram di Mekah biasanya dipenuhi oleh ribuan peziarah, tetapi jumlah itu kini berkurang drastis.

Larangan mengunjungi Mekah dan Madinah juga masih diberlakukan. Berbagai umat Muslim dari seluruh dunia biasanya datang untuk menjalani ibadah umrah yang berlangsung sepanjang tahun.

Kemudian ada sekitar delapan juta umat Muslim menunaikan ibadah haji ke sana setiap tahun. Pada tahun ini hanya menerima 60 ribu jamaah haji dari local Arab Saudi dan hanya beberapa Negara yang mendapat ijin dari pemerintah Saudi.

Hindu

Bagi umat Hindu, saban tahun di bulan Maret  adalah waktunya Holi – “festival warna” – dirayakan. Perayaan Holi merupakan peringatan kemenangan kebaikan atas kejahatan, serta musim semi, cinta dan kehidupan baru.

Sebagai bagian dari perayaan, orang-orang melemparkan bubuk berwarna di udara dan saling melukis wajah.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengatakan tidak akan ambil bagian dalam perayaan publik Holi kali ini. Ia menyarankan agar orang-orang menghindari pertemuan ramai dan besar.

Baca Juga: Kemenag: Revitalisasi KUA untuk Penguatan Moderasi Beragama

Walau demikian, pada perayaan Holi pada Maret tahun 2020 lalu masih banyak umat Hindu India turun ke jalan merayakan Holi selama akhir pekan, meskipun mereka tetap mengambil tindakan pencegahan, seperti mengenakan masker wajah.

Beberapa dari mereka tidak mau mengambil risiko, seperti yang diungkapkan Nicky Singh yang tinggal di Amritsar, di negara bagian Punjab, India.

Nicky memilih tinggal di dalam rumah dan bertukar salam melalui telepon daripada merayakan Holi di tempat ramai.

“Karena, bersin saja sudah cukup untuk membuat waspada. Itulah perasaan umum di sini. Saya merasa senang bahwa saya memilih keamanan daripada perayaan,” katanya.

Katolik

Di Vatikan, sejak awal merebaknya virus Corona pada Maret5 tahun 2020 lalu, Paus Fransiskus memilih untuk tidak menyampaikan berkat tradisional Minggu dari teras jendela yang menghadap Lapangan Santo Petrus.

Sebagai gantinya ia menyampaikan berkat Minggu secara langsung melalui media internet, dalam upaya untuk mengurangi keramaian di Vatikan. Ini dilakukan saat jutaan orang di Italia bagian utara tengah menjalani karantina.

Gereja-gereja Katolik dari Ghana hingga Amerika Serikat dan Eropa telah mengubah cara melaksanakan Misa guna menghentikan infeksi.

Para imam gereja meletakkan hosti atau roti sakramen di tangan para jemaat daripada di lidah. Mereka juga berhenti memberi anggur di piala komunal.

Alih-alih berjabatan tangan saat tanda perdamaian dalam prosesi ibadah, anggota jemaat diminta cukup mendoakan orang yang duduk di sebelah mereka. Sekalipun paham pentingnya langkah-langkah semacam itu, beberapa jemaat merasa kehilangan. [kemenag/bbc]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed