by

Surat Wasiat Jihadis dan Ideologi Islamis

-Opini-118 views

Ridwan al-Makassary

 

Aksi “jihadis” di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri (31 Maret 2021) telah menggedor nurani. Pelakunya adalah Lukman berumur 26 tahun (pelaku bom bunuh diri di Makassar), Zakiah Aini berusia 25 tahun (pelaku teror di Mabes). Keduanya masih terbilang muda atau acap disebut kaum milenial karena lahir dan besar di era internet dan gadget, dan juga menganut Islamisme (sebuah gerakan yang menjadikan Islam sebagai ideologi perlawanan terhadap tatanan yang eksis, seperti Marxis yang mempropagandakan perlawanan kelas), yang tampak dari surat wasiat yang mereka tinggalkan. Di sini, Islamisme berbeda dengan Islam sebagai faith (keimanan), yang mengandung arti sebagai jalan keselamatan dan tidak melulu menjadi alat politik. Tulisan singkat ini ingin mengkaji pandangan ideologis Islamis, setelah menyajikan beberapa paham yang tertuang disurat wasiat tersebut.

Baca Juga : Islam Selalu Mengajarkan Perdamaian

Dalam surat wasiatnya, Lukman berpesan kepada ibunya bahwa“…Berenti maki ambil uang bank, karna uang bank itu riba dan tidak diberkahi Allah SWT”. Singkatnya, Lukman mengatakan bahwa uang bank haram dan tidak berkah. Dalam nada yang sama, Zakiah Aini juga berpesan untuk keluarganya, “berhenti berhubungan dengan Bank (kartu kredit) karena itu riba dan tidak diberkahi Allah. Penullis berpandangan paham menolak bunga bank adalah riba ini cukup kuat berhembus beberapa tahun belakangan.

Bahkan, di tanah air dan di Perth sendiri ada beberapa “ustad” yang memperjuangkan paham ini. Beberapa teman dan saudara juga acap menyuarakan ini. Padahal status hukum bunga bank juga beragam hasil penetapan hukumnya, seperti sebagian ulama Al-Azhar ada yang menyatakan haram dan ada yang menyatakan boleh. Lebih jauh, Zakiah menyebut pemerintah sebagai thagut, jangan membanggakan kafir, jihad sebagai amalan tertinggi, demokrasi dan pemilu, Pancasila dan UUD adalah ajaran kafir dan musyrik. Selebihnya adalah nasehat yang normatif yaitu “jangan tinggalkan shalat dan memakai hijab”. Di sini, hijab yang selalu bermakna pakaian cadar juga cenderung didengungkan dan memperoleh pengikut yang cukup banyak di kalangan Muslimah.

Penulis berpandangan bahwa pemahaman keduanya seirama dengan pemahaman ideologis yang berkembang di kalangan Islamis (pejuang Islam politik), yang cenderung bercorak skriptural dan tekstualis. Berikut ini beberapa pandangan ideologis Islamis, yang disampaikan secara ringkas, oleh karena keterbatasan ruang. Mesti dipahami di sini bahwa gerakan Islam politik sendiri memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain, namun secara umum ideologi mereka tampaknya serupa. Adapun yang membedakan di antara mereka biasanya cara mencapai tujuan tersebut.

 

Demokrasi

Secara umum, gerakan Islamis berpandangan bahwa sistem demokrasi adalah artefak buatan manusia dan penggunaannya tidak sesuai di dunia Muslim, termasuk Indonesia. HTI termasuk dalam kelompok ini, sehingga menolak demokrasi karena demokrasi bertentangan dengan ajaran Islam yang menetapkan bahwa kedaulatan ada di tangan Allah, bukan di tangan rakyat. Demokrasi dilarang diterima karena tiga alasan. Pertama, mereka yang berada di balik gagasan dan penyebarannya adalah Barat. Ini adalah salah satu bentuk invasi budaya. Kedua, demokrasi adalah ide imajiner yang tidak bisa diterapkan. Ketika mereka membengkokkan untuk menerapkannya, penipuan menjadi dasar untuk salah tafsir. Ketiga, demokrasi adalah buatan manusia. Itu ditetapkan oleh manusia untuk manusia.

 

Jihad

Di beberapa bagian Barat ada asumsi yang dipegang teguh bahwa Islam adalah agama teror, atau agama yang menunjukkan wajah kekerasan dan ditopang dengan cara jihad. Sampai taraf tertentu, pandangan serupa masih ada dalam pemikiran masyarakat Indonesia. Pandangan merendahkan bahwa Islam menempuh jalur jihad untuk mencapai tujuan religius dan politik diperkuat dengan terjadinya serangan 11 September di AS (WTC dan Pentagon), bom Bali pertama dan kedua, ledakan bom bunuh diri di berbagai wilayah. dunia seperti di Spanyol, dan serangan teroris Mujahidin di Mumbai, India. Singkatnya, tafsir umum gerakan Islam tentang jihad adalah perang. Dalam manifestasinya, di tanah air jihad adalah perang melawan pemerintah yang thagut dan kepolisian yang dianggap mendukung pemerintah.

 

Kesetaraan gender

Gerakan Islamis umumnya menolak kesetaraan gender. Argumen mereka adalah perempuan dan laki-laki diciptakan berbeda, sehingga tidak boleh menyamakan laki-laki dengan perempuan. Oleh karena itu, peran yang dimainkannya berbeda: peran perempuan lebih pada urusan rumah tangga dan tanggung jawab mencari nafkah (bread winner) dan kepemimpinan ada pada laki-laki. Dalam praktiknya, konsep kesetaraan gender yang berasal dari Barat tidak mampu menciptakan rasa hormat, perlindungan dan keamanan bagi perempuan. Padahal, gagasan program pembebasan perempuan dan pemberdayaan perempuan telah mengakibatkan degradasi perilaku dan kesengsaraan bagi perempuan Barat saat ini.

 

Pluralisme Agama

Dari lensa teoritis, pluralisme adalah ‘merayakan keberagaman’, dan tidak mengarah pada sinkretisme. Hal tersebut tidak didasarkan pada pendekatan dari satu agama atau pemahaman tertentu, yang hanya memperkuat ketidakmungkinan melibatkan banyak orang dengan titik keberangkatan yang berbeda (Madjid 1993). Lebih lanjut, pluralisme dapat digambarkan dalam dua kategori. Pertama, pandangan teologis liberal menyatakan ‘semua agama adalah sama, dan bahwa orang harus menerima pernyataan kebenaran orang lain sambil mempertahankan pernyataan kebenaran mereka sendiri’ (Berger dikutip dalam Bagby 2009, hlm. 483). Kedua, apa yang bisa disebut pluralisme pragmatis atau operasional (Berger dikutip dalam Bagby 2009, hlm. 483).

Dari perspektif ini, Berger menjelaskan bahwa pluralisme tidak menuntut seseorang untuk percaya bahwa semua agama adalah sama. Sebaliknya, pluralisme mensyaratkan penerimaan hak orang lain untuk mempercayai apa pun yang mereka pilih, menghormati dasar kemanusiaan orang lain, dan akhirnya kesediaan untuk bekerja sama dan bekerja sama dengan yang lain tanpa prasangka karena perbedaan agama atau ideologis. Namun, gerakan Islam politik umumnya menolak pluralisme agama karena disamakan dengan mewujudkan sinkretisme agama. Karenanya, gerakan Islamis umumnya menolak berhubungan muamalah dengan non-Muslim dan memandang mereka sebagai kafir yang mesti dimusnahkan.

 

Pancasila

Gerakan Islamis di Indonesia menolak Pancasila karena dianggap sebagai renungan para founding fathers dan tidak seharusnya menjadi dasar negara. Islam adalah sebuah sistem nilai yang utuh berdasarkan wahyu, yang mesti digunakan dalam berbangsa. Misalnya, HTI memiliki pandangan ambigu terhadap Pancasila. Di satu sisi, HTI mengklaim bahwa Pancasila dianggap sebagai ideologi kufur, yang bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, Pancasila harus ditolak. Di sisi lain, HTI juga mengaku secara terbuka menerima Pancasila sebagai seperangkat prinsip yang memuat beberapa gagasan baik dalam pilar-pilarnya, seperti keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan kemanusiaan. Persoalannya adalah beberapa gerakan Islam tampaknya menerima Pancasila hanya sebagai akal-akalan untuk  dapat beroperasi di Indonesia dan tetap mengajarkan ideologinya di kalangan anggotanya.

Sebagai penutup, jika ada pengajian yang tertutup atau konten dakwah di internet yang acap menyuarakan ideologi Islamis seperti di atas, maka mesti berhati-hati dan waspada karena boleh jadi menjadi entry point menjadi “jihadis” atau pelaku bom bunuh diri.

 

Ridwan al-Makassari,  Pekerja perdamaian yang sedang meniti jalan sunyi intelektual di Perth.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed