Suicide dan Suicidal Thought Serta Respon Masyarakat Terhadapnya

Opini81 Views

Penulis: Alisyah Salsabila

“Tolong!” “aku butuh teman bicara” “aku sudah benar-benar lelah”. Kata-kata tersebut mungkin saja sering terlintas di pikiran beberapa orang, namun tidak banyak yang dapat mengungkapkannya secara langsung. Terlebih lagi tidak semua orang memiliki jaminan rasa aman terhadap lingkungan dan orang-orang yang dapat dipercayanya.

Tekanan yang membuat mereka stress dan terbebani, tidak adanya jaminan keamanan dan kedamaian dalam hidup, serta tidak adanya pihak pendukung yang dapat membangkitkan orang tersebut dalam keputusasaan menjadi beberapa alasan meningkatnya kasus bunuh diri di Indonesia.

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kondisi depresi pada individu merupakan problem kesehatan masyarakat yang cukup serius menjadi penyebab utama bunuh diri. Seseorang melakukan bunuh diri banyak disebabkan karena stress yang tidak tidak dapat diterima oleh keadaan psikisnya serta kegagalan coping Mechanism dalam mengatasi masalah. Bunuh diri adalah suatu bentuk Tindakan agresif merusak diri  sendiri serta dapat menghilangkan nyawa.[1]

Menurut WHO pada tahun 2019 terdapat sekitar 800.000 kasus meninggal karena bunuh diri per tahun di dunia. Faktanya angka bunuh diri lebih tinggi  pada usia muda.[2] di Indonesia Angka kasus bunuh diri berdasarkan Sistem Registrasi  Sampel yang dilakukan  Badan Litbangkes pada tahun 2016 pertahun terdapat 1.800 orang atau setiap hari terdapat 5 orang yang melakukan bunuh diri, dimana 47,7% korban bunuh diri terdiri dari usia 10-39 tahun yang merupakan usia pra remaja hingga usia produktif.[3]

Dalam tindakan bunuh diri beberapa didahului pemikiran suicidal yang tidak jarang diperlihatkan ke orang terdekat atau sosial media. Pemikiran suicidal (suicidal thought atau suicidal ideation) merupakan pikiran mengenai cara untuk membunuh diri  sendiri. Ide-ide ini bisa saja hanya berupa angan-angan tentang alasan untuk bunuh diri hingga rencana untuk bunuh diri secara rinci.

Berdasarkan beberapa kasus yang ada fase suicidal thought bisa bersifat sementara dan masih mungkin untuk ditangani. Beberapa contoh dari suicidal thought antara lain: merasa tidak punya harapan untuk hidup, merasa tidak bernilai dan orang lain akan lebih menyadari keberadaannya jika dia mati, berpikir untuk bunuh diri baik secara umum maupun secara spesifik (mengenai cara dan waktunya), membuat pesan terakhir, melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan diri, dan lain-lain.

Baca juga: Kolaborasi Pentahelix: Solusi atas Darurat Kekerasan Seksual di Indonesia

Di indonesia bentuk-bentuk dari suicidal thought masih belum dianggap serius oleh masyarakat. Bentuk-bentuk tindakan dari suicidal ideation biasanya hanya dianggap caper (cari perhatian). Orang yang menampakkan niat untuk bunuh diri biasanya dianggap tidak akan benar-benar bunuh diri dan hanya mengemis empati orang-orang disekitarnya.

Kenapa indonesia kurang bisa menerima Tindakan bunuh diri dan suicidal ideation? Masyarakat cenderung skeptis tentang kedua hal tersebut terutama suicidal ideation diantaranya karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang beragama. Sebenarnya agama yang dianut bukan menjadi masalah di sini, namun pemahaman mereka terhadap agama sering kali membuat mereka berpikir bahwa setiap masalah dalam hidup pasti ada jalan keluarnya jika orang tersebut berpegang teguh pada agamanya.

Mental yang lemah dianggap sebagai kurangnya keimanan mereka terhadap agama yang dianut. Kesehatan mental dan latar belakang seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri menjadi hal nomor sekian yang diperhatikan.

Tindakan preventif yang paling memungkinkan dilakukan oleh orang terdekat dari pelaku bunuh diri adalah  memberikan  dukungan berupa perhatian, arahan serta bantuan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dialami oleh seseorang  atau keluarga.

Mencegah Tindakan bunuh diri dan suicidal thought dapat dilakukan oleh orang yang berpengalaman seperti  psikiater, dokter, psikolog, pendidik, dll. Karena persoalan bunuh diri ini sangat kompleks, maka berdasarkan pendekatan melalui ilmu kesehatan masyarakat terdapat beberapa hal yang perlu disikapi sebagai usaha untuk pencegahan sejak awal yakni meningkatkan peran, fungsi  dan tugas keluarga, juga dukungan masyarakat.

Perilaku bunuh diri dan orang-orang yang memiliki pikiran bunuh diri semakin sering dijumpai dewasa ini. Angka bunuh diri terus meningkat karena tingginya angka depresi terutama oleh usia produktif dan remaja. Beberapa kasus  tidak jarang didahului dengan pikiran untuk bunuh diri. Perilaku ini bukan tidak bisa dicegah terutama orang yang masih pada tahap suicidal thought.

Namun banyak dari masyarakat Indonesia yang masih menyepelekan orang-orang dengan perilaku suicidal thought karena kurangnya pemahaman terhadap Kesehatan mental. Tindakan preventif yang paling mungkin dilakukan masyarakat adalah pengungkapan rasa empati serta bantuan untuk mengatasi masalah yang dialami orang yang ingin bunuh diri.

Referensi

[1] Dwinara Febrianti, dan Neli Husniawati. “Hubungan tingkat depresi dan faktor resiko ide bunuh diri pada remaja SMPN.” Jurnal Ilmiah Kesehatan 13.1 (2021): hlm. 86.

[2] dr.Agung Frijanto, Sp.KJ, MH., Depresi dan Bunuh Diri, Selasa 06 September 2022, diakses dari: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1450/depresi-dan-bunuh-diri, diakses pada Minggu 05 Maret 2023, pukul 15.53 WIB.

[3] Kemenkes RI, Kemenkes Beberkan Masalah Permasalahan Kesehatan Jiwa di Indonesia, dipublikasikan pada : Kamis, 07 Oktober 2021diakses dari: https://www.kemkes.go.id/article/print/21100700003/kemenkes-beberkan-masalah-permasalahan-kesehatan-jiwa-di-indonesia.html, diakses pada Minggu 05 Maret 2023, pukul 16.24 WIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *