by

Suara Dentuman Meriam Karbit, Kemeriahan Budaya Ramadan di Pontianak

Kabar Damai I Jumat, 16 April 2021

 

Pontianak I Kabardamai.id I Selain karena dapat menambah pahala melalui keutamaan-keutamaannya, Ramadan juga selalu dinanti lewat serba-serbinya yang menarik perhatian banyak orang. Sebut saja menjamurnya Pasar Juadah, buka puasa bersama, tradisi membangunkan sahur, dan masih banyak lagi yang selalu dirindukan setiap tahunnya.

Begitu pula dengan masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat. Selain karena Sotong Pangkong yang menarik wisatawan dari luar daerah untuk datang dan mencicipinya setiap Ramadan tiba, yang tidak kalah menarik dari Ramadan di Pontianak ialah karena adanya suara dentuman Meriam Karbit yang melegenda sejak dahulu kala, saat Pontianak baru didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada tahun 1771.

 

Meriam Karbit dan Sejarah Kota Pontianak

Melansir laman resmi  pemerintah kota Pontianak, pada 24 Rajab 1181 Hijriah yang bertepatan pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi, rombongan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka hutan dipersimpangan tiga sungai yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal yang diberi nama Pontianak. Berkat kecakapannya dalam mengelola wilayah kemudian mengantarkan Pontianak menjadi daerah yang maju dan menjadi kota perdagangan dan pelabuhan.

Menurut cerita dari mulut ke mulut, berdirinya Pontianak tidak terlepas dari adanya hantu kuntilanak yang kemudian dihalau Sultan Pontianak dengan menembakkan meriam, sedangkan dalam berbagai sumber dan literatur lebih jelas menyebutkan bahwa yang dimaksud hantu tersebut ialah sarang bajak laut.

Karena telah ada sejak dahulu, membunyikan meriam karbit kemudian menjadi tradisi dan terus dilaksanakan secara turun temurun. Terlebih saat datangnya bulan puasa, suara dentuman meriam karbit direpresentasikan sebagai cara untuk mengusir hantu, adapun hantu yang dimaksud dalam konteks ini ialah hawa nafsu kita sendiri.

Baca Juga : Mewujudkan Toleransi Hindu dan Kristen dengan Tradisi Ngejot

Meriam karbit yang ada di Pontianak bukanlah meriam berukuran kecil, bahkan diameternya ada yang mendapai 50 sampai 100 meter. Biasanya turut dihias dengan berbagai gambar menarik dan diletakkan di sekitaran Sungai Kapuas. Karena memiliki diameter yang besar ini yang kemudian menyebabkan suara dentumannya juga sangat keras pula.

Perang meriam karbit selalu dilaksanakan selama Ramadan dan puncaknya pada malam Idul Fitri. Semua masyarakat turun ke sekitaran Sungai Kapuas untuk menyaksikan festival Meriam Karbit. Karena tersohornya, festival meriam karbit tidak hanya selalu dinanti oleh masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat namun juga wisatawan dari dalam dan luar negeri.

 

Tanpa Festival Namun Boleh Dimainkan Masyarakat

Pandemi Covid-19 menyebabkan semua aktifitas yang bersifat masal dan menyebabkan kerumunan dilarang. Hal ini turut berdampak pada ditiadakannya festival meriam karbit pada Ramadan dan Idul Fitri pada tahun 2021 ini. Walaupun demikian, masyarakat Pontianak menerima keputusan pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak tersebut.

Dikutip dari Liputan6 walaupun festival ditiadakan, namun wali kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono memberi izin kepada masyarakat apabila ingin tetap memainkannya. Hal ini sebagai salah satu cara menjaga tradisi yang sudah ada sejak dahulu.

“Ini sudah menjadi tradisi, siapa saja boleh memainkannya,” ungkap Edi

Walaupun demikian, Edi menekankan agar selama memainkan meriam karbit, warga tetap harus menerapkan secara ketat untuk mencegah penularan Covid-19. Selain itu, Edi juga mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersinergis dan senantiasa memutus mata rantai penyebaran Covid di Kota Pontianak.

 

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed