by

Strategi NU Ciptakan Perdamaian di Afghanistan

Kabar Damai  | Senin, 30 Agustus 2021

Jakarta | kabardamai.id | Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud memaparkan  bahwa sejak 2010, NU berperan aktif dalam upaya menciptakan perdamaian di Afghanistan. Kala  itu, kiai-kiai di lingkungan NU sudah mulai menginisiasi untuk mengajak diskusi para pemangku kepentingan di Afghanistan.

Melansir NU Online, pada 2010 itu utusan Taliban dan pemerintah Afghanistan diundang untuk hadir dan melakukan dialog di Hotel Borobudur, Jakarta. Namun saat itu, kedua belah pihak masih belum bisa duduk bersama membahas perdamaian bagi Afghanistan.

“Saya awalnya berpikir ketika duduk itu bisa saling bercerita, kemudian muncul rasa kemanusiaannya. Akhirnya saya buka, di mana saja bisa duduk, walaupun masih (duduk) berkelompok. Tetapi menurut saya itulah momen pertama bisa kumpul di Jakarta,” katanya dalam diskusi daring bertajuk Taliban Menang, Indonesia Menang, pada Rabu, 25 Agustus 2021.

Lalu  pada 2011, upaya membangun dialog dalam rangka menciptakan perdamaian di Afghanistan pun terus dilakukan. Tim PBNU turut hadir dalam konferensi internasional tentang perdamaian Afghanistan pada 29 November hingga 2 Desember 2011 di Istanbul, Turki.

Saat itu, Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan Katib Syuriyah KH Yahya Cholil Staquf menghadiri konferensi bertajuk The Project for Islamic Cooperation for a Peaceful Future in Afghanistan itu. Sebuah pertemuan yang diselenggarakan World Organization for Resource Development and Education (WORDE) yang berkantor di Washington DC.

Dalam konferensi tersebut, para ulama Afghanistan bertukar pikiran dengan cendekiawan Islam dari seluruh dunia untuk menguatkan potensi pemimpin agama dalam meluruskan jalan perdamaian di Negara yang baru saja dikuasai Taliban ini.

Kiai Marsudi mengungkap bahwa NU mengusulkan agar kelompok-kelompok di Afghanistan yang saling berkonflik itu bisa bersatu. Sebab, para kiai ketika berpikir sederhana dan yakin Afghanistan bersatu karena masyarakat di sana cenderung seragam, terutama mengenai mazhab keagamaannya.

Baca Juga: Mengulik Dampak Kemenangan Taliban bagi Indonesia

“Itu awalnya berpikir sederhana. Karena mazhab keagamaan dan tarekatnya hampir sama semua, tetapi masih bertengkar dan tidak bisa bersatu. Ternyata setelah dilihat lebih dalam lagi, suka dan klan di sana lebih kuat walaupun mazhab dan tarekatnya hampir sama semua. kita terus menyampaikan hal-hal supaya bisa membentuk sebuah pemerintahan,” terang Kiai Marsudi, dikutip dari nu.or.id  (26/8).

Kemudian pada akhir 2013 dan pertengahan 2015, ulama-ulama Afghanistan kembali diundang untuk ke Indonesia. Pada kesempatan ini, para kiai NU mengajak mereka untuk menyaksikan peradaban Islam yang ada di Indonesia dengan membawanya ke pesantren-pesantren.

Ingin Seperti Indonesia

“Kita bawa mereka ke pesantren-pesantren, universitas-universitas, dan pusat-pusat peradaban  Islam di Indonesia. Saat melihat itu, mereka sampai menangis dan bilang ‘saya ingin seperti ini’. Ketika kita datangkan ke pesantren dan universitas, mereka berdiskusi tentang peradaban, mereka menangis karena ingin negaranya seperti Indonesia,” ujar Kiai Marsudi.

Dari pertemuan-pertemuan itulah, ulama Afghanistan berkeinginan untuk mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama di negaranya. Menanggapi itu, para kiai NU pun memberikan izin pendirian organisasi dengan nama yang sama persis di Afghanistan.

“Karena NU sudah bersama melakukan berkolaborasi dan ingin orang Afghanistan mempunyai negara yang kuat, maka akhirnya NU pun boleh menjadi organisasi dan sudah berdiri di 34 provinsi di sana,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Ekonomi Darul Uchwah Jakarta itu.

Upaya menghidupkan dialog untuk menciptakan perdamaian di Afghanistan itu berlanjut pada 30 Juli 2019, saat menerima beberapa utusan Taliban di Kantor PBNU. Dialog pun tercipta dengan tujuan agar para kelompok berkepentingan di sana dapat bersatu dan mendirikan negara yang baik.

“Ketika 30 Juli 2019 itu, Taliban dengan pemimpinnya Mullah Abdul Ghani Baradar itu datang ke PBNU dan menyampaikan tiga hal. Pertama, ingin bisa mengambil alih pemerintahan tapi secara damai,” jelas Kiai Marsudi.

Kedua, Taliban menginginkan agar lepas dari cap teroris yang telah distempelkan banyak masyarakat dunia, termasuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat di Indonesia. Taliban, kata Kiai Marsudi, meminta bantuan NU untuk membantu agar cap teroris itu bisa lepas.

“Ketiga, mereka (Taliban) minta bantuan diplomasi (kepada PBNU) agar Amerika Serikat segera bisa keluar dari Afghanistan. Dari PBNU, yang paling utama menyampaikan kepada delegasi Taliban, bersama kelompok-kelompok yang ada di sana bisa bersatu. Itu tahun 2019,” ujarnya.

Para kiai NU meyakini, persatuan di Afghanistan seharusnya bisa bersatu. Sebab, Indonesia dengan ratusan suku, ras, dan agama saja bisa bersatu. Sementara Afghanistan, keberagaman masyarakat tidak terlalu kompleks atau cenderung seragam.

“Kenapa mereka tidak bisa bersatu? Maka kita dorong Taliban untuk bisa melakukan musyawarah yang bisa menemukan titik temu atau konsensus nasional seperti Indonesia. Itu yang diminta NU kepada Mullah Abdul Ghani Baradar dengan delegasinya,” tandasnya.

Hal lain yang disampaikan PBNU kepada Taliban, lanjut Kiai Marsudi, yakni soal banyaknya bermacam organisasi kemasyarakatan dan keagamaan yang ada di Indonesia, tetapi bisa mengimplementasikan nasionalisme atau cinta tanah air.

“Kita sampaikan kepada mereka juga agar jangan sampai Taliban itu punya potret yang menakutkan seperti saat dulu memiliki kekuasaan (1996-2001). Itulah posisi NU. Masukan-masukan sudah kita sampaikan ke Taliban,” bebernya.

 

Waspada kebangkitan kelompok radikal

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mewanti-wanti agar masyarakat Indonesia waspada atas kemenangan yang telah diraih Taliban di Afghanistan. Ia menegaskan, kemenangan Taliban jangan sampai membangkitkan kembali gerakan kelompok radikal di Indonesia.

“Yang harus kita waspada dan jaga, jangan sampai kemenangan Taliban ini membangkitkan lagi, memberikan motivasi kepada kelompok radikal di dalam negeri kita, dengan mencontoh kemenangan Taliban, sehingga mereka bergerak lagi untuk meraih kemenangan dengan dalih jihad fii sabilillah. Ini kan memaknai jihad dengan sempit,” kata Kiai Said.

“Provokasi seperti itu yang harus diwaspadai. Sekali lagi, yang kita khawatirkan atau yang kita waspadai, jangan sampai kemenangan Taliban mempengaruhi kepada kelompok radikal di Indonesia ini. Membangkitkan kembali semangat jihad dan meraih kemenangan,” ujarnya. [nu.or.id]

 

Editor: Ahmad Nucholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed