by

Spirit Moderasi Beragama untuk Penguatan Demokrasi Indonesia

Kabar Damai I Selasa, 02 November 2021

Jakarta I kabardamai.id I Unsur agama masih terus menjadi sumber problem-problem kemanusiaan. Segala sesuatu dalam kehidupan ini hampir selalu dikaitkan dengan unsur agama. Dalam konteks pendidikan, ekonomi, budaya, tak terkecuali politik. Namun anehnya, pemahaman agama  dan praktik beragama justru kerap memicu kontroversi, keributan dan pertengkaran. Atas nama agama individu maupun kelompok justru membenci pihak lain yang berbeda. Bahkan dalam level tertentu, perbedaan pendapat justru memicu permusuhan  dan  kekacauan, di mana tidak sedikit ditemukan orang yang rela melakukan aksi radikalisme dan terorisme mengatasnamakan agama. Lebih-lebih agama tersebut adalah Islam.

Sudah saatnya kita mengembalikan makna hakikat agama, mendorong umat beragama untuk berperilaku yang sesuai dengan syariat agamanya masing-masing. Perilaku yang baik, perilaku saling tolong-menolong, saling memaafkan, mengedepankan tabayun dan solidaritas atau ukhuwah. Maka spirit moderasi dalam beragama perlu diketengahkan. Agar agama benar-benar menjadi sumber kedamaian, keselamatan, sebagai sarana untuk membuktikan kepasrahan diri secara total kepada Allah.

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Muslim) “umat pertengahan/moderat” agar kamu  menjadi \saksi atas [perbuatan] manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas [perbuatan] kamu,” [QS. al-Baqarah: 143].

K.H. Mamang Muhammad Haerudin, Da’i LDNU dan Founder Al-Insaaniyyah Center mengungkapkan bahwa Wasathîyyah sendiri merupakan kata atau istilah yang berakar dari kata “wasath”, yang menurut Ibnu Faris dalam karyanya, “Muʼjam Maqâyîs al-Lughah”, dimaknai sebagai sesuatu yang di tengah, adil, baik, dan seimbang. Dalam bahasa yang umum digunakan dalam keseharian kita hari ini, terutama dalam konteks beragama dan berbangsa, wasathîyyah seringkali diterjemahkan dengan istilah moderat atau bersikap netral dalam segala hal.Spirit moderasi beragama ini harus dikedepankan. Kita sangat memerlukan sikap moderat dalam beragama dan dalam konteks apa pun. Moderasi beragama akan membuat kita, sebagai umat beragama tetap mengedepankan rasionalitas dan hati nurani. Jangan sampai ghîrah beragama justru mencoreng prinsip agama itu sendiri.

“Kemudian kalau ditilik lebih dalam melalui sejarah agama kita, maka istilah wasathîyyah atau moderat ini tidak bisa dipisahkan dengan kisah dua kelompok yang sangat masyhur dalam sejarah Islam yaitu kaum Khawarij dan kaum Murjiah. Siapa mereka? Kaum Khawarij adalah salah satu sekte atau aliran dalam Islam yang awalnya berada di pihak Khalifah Ali ibn Abi Thalib. Namun akhirnya mereka membelot bahkan mengafirkannya karena dianggap tidak lagi menegakkan hukum Allah Swt., ketika menerima peristiwa tahkîm (arbitrase) yang diajukan oleh kelompok Muawiyah, yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Syam pasca perang Shiffin tahun 37 H,” terang Mamang dalam Khutbah Salat Jumat Virtual yang diselenggarakan oleh Public Virtue, Jumat (29/10/2021).

Kelompok ini berpandangan bahwa semua hukum harus didasarkan kepada hukum Allah Swt., sebagaimana yang tertera di dalam al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi Saw. sesuai dengan apa yang mereka pahami secara tekstual. Sehingga dengan pemahaman tekstualnya, mereka menganggap Sayyidina Ali tidak lagi istiqamah di jalan Allah dengan menerima diplomasi atau perdamaian yang diajukan oleh pihak pemberontak, yang dalam hal ini adalah Muʼawiyah dan sahabat-sahabatnya.

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Harus Segera Merespon Situasi Regresi Demokrasi di Indonesia

Mereka mengklaim setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah sebagai pengkhianat agama dan orang yang tidak sependapat dengan mereka dianggap kafir (murtad). Sementara itu di pihak lain, muncul juga kelompok yang menamakan diri sebagai Murjiah. Salah satu konsep pemikiran kelompok ini adalah bahwa kemaksiatan tidak akan mempengaruhi keimanan. Artinya, tidak ada orang yang menjadi kafir karena kemaksiatan yang dilakukan selama ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Contoh peristiwa sejarah tadi harus kita jadikan pelajaran, agar kita yang hidup di zaman modern seperti sekarang ini, tidak mudah terjerumus pada provokasi, perang saudara, saling menjatuhkan, dan apalagi melakukan pengrusakan. Hal itu sangat relevan dengan konteks kehidupan zaman ini di mana kita kerap kali dihadapkan pada realitas yang menyesakkan dada, misalnya, di saat momen Pilkades, Pilbup/Pilwalkot, Pilgub, maupun Pilpres. Realitas masyarakat yang mudah sekali terpengaruh ujaran kebencian, termakan berita bohong, gontok-gontokan dan seterusnya. Moderasi itu sebetulnya bagaimana kita bisa hidup secara proporsional. Cinta atau benci, senang atau sedih, bahagia atau bergembira dan seterusnya agar seperlunya saja, tidak perlu berlebihan dan kelewat batas.

Begitu juga sebagaimana tertera dalam sabda Rasulullah Saw.,

Mamang kemudian menuturkan Indonesia, bangsa kita sekalian, di mana Islam merupakan agama mayoritas penduduk negeri ini, harus kita pastikan keamanan dan kedamaiannya. Semboyan bhinneka tunggal Ika harus dibuktikan secara konkret. Di dunia maya maupun nyata, solidaritas sosial kita harus tetap terjaga. Karena bagaimana pun kita ini bersaudara. Kita harus belajar dari negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di Timur Tengah yang negaranya terperosok ke dalam perang saudara, berbaku hantam, saling membenci dan bahkan membunuh.

“Islam sendiri wajahnya sangat beragam di Indonesia. Ada wajah Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdlatul Wathan, Salafi-Wahabi, Jemaah Tabligh, termasuk eks Front Pembela Islam dan Hizbut Tahrir Indonesia. Dua ormas yang mendaku Islam yang juga telah dibubarkan Pemerintah ini tetap saudara kita, meskipun mereka berbeda. Kita hanya boleh membenci perilakunya yang buruk, tetapi jangan membenci orangnya. Sebab selama ia  masih hidup, ia masih punya kesempatan bertobat dan mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Mari kita buktikan bahwa Islam dan umat Muslim rahmatan li al-ʻâlamîn,” ujar Mamang. 

Atas realitas yang beragam tersebut, khatib sendiri menyadari tidak mudah untuk membangun perdamaian dan demokrasi di Indonesia. Perlu waktu dan proses yang lama. Oleh karena itu, izinkan khatib menyampaikan pengalaman di mana dahulu pernah “belajar merunduk” selama tidak kurang dari dua tahun hidup dan menjadi bagian dari saudara-saudara Muslim yang kerap disebut dengan kelompok atau komunitas hijrah. Komunitas hijrah ini mudah sekali dikenali, selain karena diikuti oleh para selebriti yang hijrah, juga akibat efektifnya pengaruh media sosial, sehingga dakwah mereka mudah dipahami dan digemari oleh kalangan awam sekalipun.

“Belajar merunduk” itu didasari agar khatib mengenal mereka dari dalam, bukan sekedar dari “katanya dan katanya”, tetapi hidup bersama mereka, melakukan kebiasaan-kebiasaan, termasuk memanajemen sebuah program untuk pemberdayaan umat. Pemberdayaan umat ini yang menurut hemat khatib masih banyak dilalaikan oleh kebanyakan umat Muslim mainstream. Maka tidak aneh, jika dakwah komunitas hijrah bisa jauh melesat lebih menarik, viral, memberdayakan dan lebih menarik, viral, memberdayakan dan merangkul segala kalangan tanpa fanatik ormas.

“Terakhir, demokrasi di Indonesia harus kita perkuat. Ini demi persatuan dan kesatuan NKRI. Agar tidak ada saudara-saudara kita yang menderita sehingga ingin memisahkan diri dari NKRI, terlebih mereka yang ingin mengubah NKRI menjadi khilafah Islamiyah. Kuncinya kita harus mengedepankan spirit moderasi dalam beragama. MUI Pusat, PBNU, PP Muhammadiyah, berikut ormas-ormas agama non-Muslim harus duduk bersama, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, bermusyawarah dari hati ke hati, agar kehidupan  kita  di Indonesia semakin harmonis,” pungkasnya.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed