by

Sound of Borobudur Ungkap Persaudaraan Lintas Bangsa

Kabar Damai I Sabtu, 26 Juni 2021a

Jakarta I kabardamai.id I Menparekraf RI Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, Candi Borobudur merupakan mahakarya yang menyimpan berbagai ilmu pengetahuan dan rekam jejak peristiwa dan fenomena masyarakat Jawa kuno.

Candi yang terletak di Magelang, Jawa Tengah itu memiliki narasi visual panel relief yang sarat akan makna, mulai dari nilai hidup, moral, pengetahuan agama, sejarah, budaya, dan seni, termasuk musik.

“Kita banyak belajar melalui Borobudur, salah satu keajaiban dunia yang menyimpan 1.460 relief,” ujar Sandiaga dalam Konferensi Internasional Sound of Borobudur bertajuk ‘Music Over Nations: Menggali Jejak Persaudaraan Lintas Bangsa Melalui Musik’ di Magelang, Jawa Tengah, dan juga secara daring, Kamis, 24 Juni 2021, dikutip dari republika.co.id (25/6).

Dilansir dari Republika, relief-relief itu menegaskan bahwa masyarakat Jawa kuno telah mengenal berbagai macam seni pertunjukan, mulai dari seni drama, tari, sastra, hingga musik. Singkatnya, pada tahun 700–800 Masehi, seni musik telah melekat pada kegiatan ritual upacara, budaya, dan hiburan masyarakat, sebagai media ekspresi, komunikasi, dan diplomasi.

Dari itu semua terkuak bagaimana jejak peradaban dan relasi yang dimiliki Indonesia dengan dunia internasional. Sandiaga pun menganggap kini saat yang tepat untuk menggali sumber pengetahuan dari Candi Borobudur, yang menggaungkan nilai-nilai universal yang terdapat pada reliefnya.

Baca Juga: Menag: Saya Optimis Borobudur Jadi Pusat Ibadah Umat Buddha Dunia

“Ternyata, nilai toleransi, menghargai keberagaman, persahabatan antarbangsa telah dijunjung leluhur kita. Kita perlu belajar dari sini,” kata Sandiaga.

Menurut Sandiaga, Sound of Borobudur akan menjadikan Indonesia tidak hanya sebagai pusat musik dunia, tetapi juga pusat tradisi dunia. Ajang ini juga dapat membangun sebuah gerakan bersama di tingkat dunia untuk menggali dan menghidupkan kembali jejak persaudaraan lintas bangsa yang diwariskan oleh leluhur Indonesia melalui musik.

Sound of Borobudur diharapkan menjadi perpustakaan dan pusat musik dunia, berdasarkan bukti yang ada di dalam relief dan dikuatkan oleh karya ilmiah yang ditulis oleh para akademisi yang ahli di bidangnya. Selain itu, ada juga bukti dari aspek cultural studies, arkeologi, antropologi, etnomusikologi, dan sejarah.

Sasaran yang tak kalah penting adalah memperkaya khazanah instrumen musik nusantara dan dunia yang terkait dengan relief Borobudur, yang bisa terkait langsung dengan dunia pendidikan musik yang dapat dilakukan di dalam kawasan. Sandiaga menyebut, contoh kegiatannya bisa berupa wisata pendidikan (edutourism) dan wisata musikal.

“Kedua program ini bisa dilakukan secara hybrid,” tutur Sandiaga.

Memastikan Adanya Toleransi Antarsuku dan Antaragama

Pengampu Utama Yayasan Padma Sada Svargantara sekaligus Programmer Sound of Borobudur, Purwa Tjaraka, mengatakan bahwa sudah saatnya fakta peradaban tentang Borobudur ini diperkenalkan sebagai aset bangsa yang tidak hanya membanggakan sebagai klaim.

“Tapi juga menyiratkan dan memberi pelajaran bahwa bangsa ini dulu berkumpul, bersatu, bermain musik bersama, dan dipastikan punya rasa toleransi antarsuku dan antaragama,” ungkap Purwa dalam kesempatan yang sama.

Purwa menjelaskan, terdapat banyak studi yang membuktikan adanya hubungan erat antara tinggi rendahnya peradaban suatu suku bangsa dan kompleksitas musiknya.

“Musik tidak memilah-milah suku atau agama. Semua suku bangsa di dunia ini menjadikan musik sebagai kebutuhan hidup yang sudah bersatu dengan jiwa dan raga,” ujar Purwa.

Sumber Inspirasi Kemanusiaan dan Peradaban

Tiga tahun lalu, Konferensi Internasional Borobudur ke-3 (3rd Borobudur International Conference) telah digelar di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya pada Jumat, 4 Mei 2018.

Sejumlah tokoh agama, lembaga, dan masyarakat umum dari tujuh negara hadir pada kegiatan tahunan ini.

Direktur Utama PT TWC, Edi Setijono menuturkan, penyelenggaraan konferensi ini menjadi momentum untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara, terlebih di tahun politik Indonesia ini. Kerena itu, konferensi kala itu mengangkat tema “Borobudur as an Inspiration of Humanity and Civilization”.

“Kami angkat tema tersebut mengingat tahun ini adalah tahun politik bagi Indonesia, sehingga diharapkan Borobudur bisa menjadi inspirasi untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perbedaan-perbedaan yang ada,” jelas Edi dalam sambutannya.

Edi mengemukakan, salah satu elemen dasar kemanusiaan adalah kebaikan. Elemen ini yang menjadikan kokoh seseorang di tengah masyarakat dengan segara perbedaan politik, agama, budaya, dan sosial.

“Melalui penyelenggaraan Konferensi Internasional di Borobudur ini, peserta konferensi dan masyarakat dunia diingatkan kembali akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan untuk membangun peradaban demi terciptanya keharmonisan dan kebersamaan,” paparnya, dikutip dari laman borobudurpark.com.

Edi berujar, konferensi saat itu  merupakan kerja sama antara PT TWC, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pendidikan & Kebudayaan dan Kementerian BUMN melalui Sinergi BUMN Hadir untuk Negeri. Ini menjadi forum penting, di mana para tokoh budaya dan agama dari berbagai komunitas hadir untuk menyampaikan pandangannya, berdialog tentang Borobudur.

“Borobudur telah menjadi inspirasi untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang beradab demi tercapainya kedamaian, keharmonisan hidup dan kesejahteraan bagi umat manusia di seluruh dunia,” imbuh Edi.

Dilansir dari laman borobudurpark.com, konferensi saat itu menghadirkan His Eminence Kyabje Dagri Rinpoche dari Serajey Monastic Univ India; I Made Andi Arsana, Penasehat Keluarga Mahasiswa Hindu UGM Yogyakarta; Yenny Wahid, Director of The Wahid Foundation; Hastho Bramantyo tokoh agama Buddha; Budi Subanar, tokoh agama Katholik; H. Syukriyanto tokoh agama Islam serta Diane Butler, Ph.D dari Universitas Udayana, Bali.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT TWC, Ricky P Siahaan, menambahkan, konferensi international Borobudur memiliki visi menciptakan hubungan antar-agama yang harmonis, untuk mempererat kebersamaan dalam perbedaan (unity in diversity) dan membangun perdamaian dunia.

“Kami ingin menyampaikan pesan-pesan moril yang dapat memberikan pencerahan dan kedamaian, menghasilkan solusi bagi berbagai isu-isu keagamaan dan kebudayaan, serta ruang bagi terwujudnya toleransi umat beragama di Indonesia,” jelas Ricky.

Selain itu, acara ini menjadi satu upaya memelihara dan melestarikan sejarah yang sangat luhur, serta meningkatkan daya tarik Candi Borobudur di mata wisatawan lokal dan mancanegara sebagai tempat ziarah keagamaan sekaligus warisan budaya dunia.

I Made Andi Arsana, penasihat Keluarga Mahasiswa Hindu UGM Yogyakarta menambahkan, Candi Borobudur tidak hanya ekslusif bagi satu agama. Warisan budaya dunia ini memiliki nilai yang universal bagi seluruh umat manusia dan alam semesta.

“Candi Borobudur menjadi magnet utama, yang mampu membawa kedamaian, memberi inspirasi bagi seluruh masyarakat yang mewakili beragam keilmuan,” ucapnya.

Menag Jadikan Borobudur Rumah Ibadah Buddha Dunia

Dalam perkembangan selanjutnya, Candi Borobudur diharapkan tidak hanya menjadi lokasi destinasi wisata. Candi Borobudur juga dapat menjadi rumah ibadah umat Buddha di dunia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam acara diskusi dengan Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha Kementerian Agama (Kemenag) Caliadi di rumah dinas Menag, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Jumat, 29 Januari 2021 lalu.

“Kita berharap segenap ormas keagamaan dan Majelis Buddha bersatu padu dalam mewujudkan Borobudur sebagai sentral rumah ibadah umat Buddha dunia. Misalnya dalam perayaan Waisak dan perayaan keagamaan lainnya,” ujar Menteri yang biasa disapa Gus Yaqut itu dikutip dari laman Kemenag.go.id (29/01).

Dalam pertemuan tersebut Yaqut juga membahas program penguatan persaudaraan umat Buddha. Dia meminta agar Ditjen Bimas Buddha berperan aktif dalam mengayomi ormas keagamaan dan berbagai Majelis Buddha di Indonesia.

“Hal ini bisa terwujud bila umat Buddha di Indonesia bersatu dan kita siap fasilitasi,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Bimas Buddha Caliadi menyampaikan komitmennya akan mengumpulkan seluruh ormas keagamaan dan Majelis Buddha untuk menyatukan suara umat Buddha Indonesia.

“Terima kasih atas arahan dan dukungan Bapak Menteri kepada umat Buddha dan kami di Ditjen Bimas Buddha akan selalu memberikan pelayanan terbaik kepada umat Buddha di Indonesia,” tandasnya. [republika/borobudurpark/kemenag]

 

Penyunting: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed