by

Sosok Inspiratif Zarifa Ghafari, Wali Kota Perempuan Termuda Afghanistan yang Diancam Taliban

Kabar Damai I Rabu, 25 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Sosok Wali Kota perempuan pertama Afghanistan, Zarifa Ghafari yang bertugas di Kota Maidan Shar, Maidan Wardak ini menuai sorotan di tengah konflik Taliban dan Afghanistan. Ia menjadi perbincangan publik lantaran enggan meninggalkan kota tersebut dan kepasrahannya dalam menghadapi kelompok Taliban.

“Saya duduk menunggu mereka (Taliban) datang. Tidak ada orang yang akan membantu saya dan keluarga saya. Dan mereka akan membunuh orang-orang seperti saya. Saya juga tidak bisa meninggalkan keluarga. Lagi pula, ke mana saya akan pergi?”

Zarifa Ghafari, wali kota perempuan Afghanistan paling muda, melontarkan kalimat itu ketika Taliban kembali menguasai kursi pemerintahan pertengahan Agustus lalu. Ghafari yang merasa tidak bisa berlindung tahu dirinya akan dibunuh. Pasalnya, ia sudah lama menjadi incaran Taliban karena menjadi pemimpin dan kerap mengadvokasikan pemberdayaan perempuan. Citranya itu adalah wajah yang harus dihilangkan bagi kelompok radikal fundamentalis itu.

Perempuan berusia 27 tahun itu sering menjadi sasaran rencana pembunuhan yang selalu gagal. Namun, pada November tahun lalu, Ghafari yakin Taliban membunuh ayahnya, Abdul Wasi Ghafari, sebagai balas dendam dirinya menjadi wali kota Maidan Shar.

Ayahnya yang  seorang kolonel pasukan operasi khusus militer Afghanistan juga telah lama dibenci Taliban.  Ghafari mengatakan ayahnya menjadi salah satu pilar yang menguatkannya bertahan melewati berbagai ancaman dan upaya pembunuhan.

“Saya sudah beberapa kali diancam. Mereka menjadikan saya target. Saya selamat dan tetap melakukan pekerjaan saya. Mereka ingin melihat saya hancur, makanya mereka membunuh ayah saya,” ujarnya kepada The New York Times.

Pada masa krusial ini, keselamatan Ghafari yang sebelumnya selalu dilindungi menjadi sangat rapuh dan bisa dihancurkan kapan saja. Tidak hanya itu, kembalinya Taliban di kursi pemerintahan adalah kiamat untuk perempuan Afghanistan. Pasalnya, mereka melarang perempuan untuk bekerja dan menempuh pendidikan, menyuruh mereka menutup wajah dengan burka di tempat umum, dan harus selalu ditemani mahram jika bepergian.

Optimis dengan Masa Depan Afghanistan

Dalam keadaan seperti ini, Ghafari tidak pernah merasa putus asa. Dalam unggahannya di media sosial dia selalu bersikap optimis akan masa depan Afghanistan.

“Orang muda tahu apa yang sedang terjadi. Mereka memiliki media sosial. Mereka berkomunikasi. Saya yakin mereka akan terus berjuang untuk progres dan hak kita. Saya merasa ada masa depan untuk negara ini,” ujarnya dikutip dari NPR.

Zarifa Ghafari merupakan anak seorang Jenderal Afganistan, Abdul Wasi Ghafari. Ia lahir pada 1992 di kota Paktia. Zafira merupakan anak tertua dari delapan bersaudara. Sejak kecil ia bertanggung jawab sejak dini, mengambil air, berbelanja, dan merawat saudara-saudaranya. Taliban berkuasa ketika dia berusia empat tahun.

Zafira pernah bersekolah di Halima Khazan Highschool, Gardez, Provinsi Paktia (2007-2009) dan kemudian ke Universitas Punjab, Delhi, India, di mana ia dianugerahi gelar BA. dan MA Ekonomi (2009-2015).

Wanita 29 tahun ini, sebelum menjabat sebagai wali kota, pernah berprofesi sebagai wirausaha dan memiliki sebuah stasiun radio populer yang ditujukan untuk wanita di Wardak, Afganistan. Ia memenangkan pemilihan walikota pada 2018. Sosoknya disorot lantaran menjadi wanita pertama dan termuda dalam sejarah yang memenangkan pemilihan wali kota di Afganistan.

Berdasarkan afghan-bios.info, saat pertama kali menjabat sebagai wali kota ia sempat mendapatkan intervensi dari tokoh berpengaruh Afganistan. Namun, ia tetap diangkat sebagai Wali Kota Maidan Shahr berdasarkan keputusan presiden dan pengangkatannya dikonfirmasi oleh pemerintah provinsi sesuai keputusan.

Dalam mengamban tugas sebagai wali kota, Zarifa Ghafari sadar bahwa ia menjadi garda terdepan dalam membela hak-hak perempuan Afganistan. Dalam akun twitter-nya ia pernah menuliskan, “Tugas saya adalah membuat orang percaya pada hak-hak perempuan dan kekuatan perempuan,” katanya

Zarifa Ghafari pernah terpilih sebagai International Woman of Courage oleh Menteri Luar Negeri AS pada 2020. Lebih lanjut, BBC memasukkan Ghafari sebagai salah satu dari 100 Inspiring Influential Women dari seluruh dunia pada 2019.

Melansir laman She The People, Sabtu 21 Agustus 2021 berikut yang perlu Anda ketahui tentang sosok pemimpin muda Zarifa Ghafari:

  1. Zarifa Ghafari menjadi wali kota pertama di Afghanistan pada 2018. Dia menjabat di provinsi Wardak dan diberi tanggung jawab menjaga kesejahteraan tentara dan warga sipil yang terluka selama serangan teror di Kabul.
  2. Zarifa Ghafari terpilih sebagai perempuan yang penuh Keberanian di tingkat Internasional oleh Menteri Luar Negeri AS pada tahun 2020.
  3. Setelah menduduki kantornya, dia lolos dari beberapa upaya pembunuhan terhadapnya. Ketika ayahnya dibunuh, dia mengatakan bahwa Taliban tidak ingin dia menjadi wali kota dan itulah sebabnya mereka membunuh ayahnya.
  4. BBC memasukkan Zarifa Ghafari sebagai salah satu dari 100 Inspiring Influential Women dari seluruh dunia pada tahun 2019.
  5. Zarifa Ghafari lulus dari Universitas Punjab di Chandigarh, India

Tetap Bertahan dalam Penolakan

Hari pertamanya menjadi wali kota perempuan Afghanistan pun tidak berlangsung mulus pada Juli tahun itu. Alih-alih menjadi momen bahagia dan bersejarah untuk Afghanistan, massa laki-laki beramai-ramai datang membawa batu dan melemparnya ke arah kantor wali kota. Mereka meminta Ghafari segera turun dari posisinya. Alasan demonstrasi itu tidak jauh-jauh dari nilai misogini.

Mereka tidak suka Ghafari menjadi wajah perempuan berdaya yang memimpin kota Maidan Shahr. Belum lagi Gubernur Provinsi Wardak saat itu, Mohammad Arif Shah Jahan, juga tidak setuju perempuan menduduki posisi pemimpin.

Bukannya merasa takut dengan ancaman seperti itu, Ghafari merasa semakin terbakar dan berjanji pada Presiden Ghani dia tidak akan mundur. Ia kemudian menyuarakan ketidakadilan itu lewat kampanye di media sosial #IWillFightForRight dan membuktikan perempuan juga memiliki hak dan kekuatan yang seharusnya tidak dipandang enteng.

Baca Juga: Mengenal 5 Anggota Perempuan Paskibraka Nasional 2021

“Saya selalu mencoba untuk membuktikan kekuatan dan kemampuan perempuan,” ujar Ghafari kepada Time.

Ghafari berjuang dengan kampanyenya itu selama sembilan bulan sampai akhirnya Jahan turun dari posisinya sebagai gubernur pada 2019. Saat itu, Ghafari pun bisa menjalankan tugasnya sebagai wali kota perempuan Afghanistan pada usia 26 tahun. Hal pertama yang ia lakukan ialah menciptakan ruang aman untuk berbelanja khusus perempuan, mencabut politikus korup dari posisinya, dan fokus pada proyek lingkungan serta kebersihan kota.

Akan tetapi, masa jabatannya tentu tidak berjalan mulus. Laki-laki yang menjadi koleganya di posisi pemerintahan sering memandangnya rendah hanya karena Ghafari perempuan berusia muda. Kadang, dia harus menunjukkan amarah agar dia bisa menjalankan tugas. Itu pun juga tidak lepas dari bahan candaan laki-laki.

“Ketika perempuan ingin bekerja di lingkungan yang sangat konservatif, dia harus menyembunyikan diri yang sebenarnya dan menjadi keras atau tidak ada orang yang akan mendengarkannya. Saya harus membuktikan kepada mereka perempuan tidak lemah,” ujarnya.

Ghafari yang kerap aktif menyuarakan hak perempuan Afghanistan dan teguh dalam posisinya sebagai pemimpin walaupun terus diserang menerima penghargaan International Women of Courage dari State Department AS, Maret lalu. Dalam pidatonya menerima penghargaan itu dia menekankan perempuan belum melupakan masa berkuasa Taliban dan selalu dirundung rasa khawatir.

Kepada Time Ghafari mengatakan, “Selama lebih dari 60 tahun, laki-laki selalu memiliki kesempatan, tapi mereka belum menemukan solusi untuk konflik yang sedang berlangsung. Saya yakin kita, perempuan, bisa melakukannya dengan lebih baik dibandingkan orang lain.”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed