by

SOBAT Muda, Relasi Lintas Iman Kaum Muda Salatiga

Kabar Damai I Rabu, 28 April 2021

 

Salatiga I Kabardamai.id I Hadir dari tahun  2002, Percik (Persemaian Cinta Kemanusiaan) sudah memberi perhatian kepada persoalan hubungan lintas iman, seperti upaya  menjembatani kotak-kotak segregasi antar-agama yang semakin kuat. Untuk itu,  Lembaga Percik bersama-sama dengan Pondok Pesantren Edimancoro dan Sinode GKJ memprakarsai sebuah forum sarasehan lintas agama, disebut SOBAT.

Umam, Ketua Sobat Muda menjelaskan  “ Forum ini bertujuan membangun citizen based organization lintas agama di tingkat lokal yang mampu mencari penyelesaian bersama terhadap berbagai ketegangan dan konflik yang muncul dalam masyarakat. Salah satu prinsip yang dipakai adalah “Local problems are solved by local people (local resources),” ujarnya kepada peserta Peace Train ke 12, di Aula Kampoeng Percik, Jumat (23/4/2021).

Selama tiga tahun sarasehan ini berjalan, telah beberapa kali terjadi perubahan nama yang merupakan penyesuaian terhadap identitas forum ini. Dari Forum Sarasehan Ulama dan Pendeta (FSUP) yang hanya dihadiri oleh para Ulama dan pendeta, kemudian berubah menjadi Forum Sarasehan Umat Beragama (FSUB) pada saat peserta forum meluas ke berbagai lingkungan agama yang ada di Indonesia dan yang hadir bukan hanya pendeta dan Ulama.

Nama ini pun kemudian segera berubah menjadi Forum Sarasehan Umat Beriman (FSUB) karena peserta yang ingin bergabung dengan gerakan ini tidak hanya dari lingkungan agama-agama yang diakui oleh pemerintah saja. Dari dinamika bergerakan lintas iman tersebut, pada akhirnya ditemukan dan dikukuhkan hakikat strategi gerakan dengan label: SOBAT.

“Nama ini dianggap mampu  mengakomodasi esensi semiotika persahabatan lintas iman yang didasarkan pada:  nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan (sukarela), tidak saling membenci, saling mempercayai, jujur dan tidak berburuk sangka.  Dari pertemuan 30 orang di Pesantren Edi Mancoro itu, gerakan Sobat kini telah memiliki 32 simpul lokal di Jawa Tengah dan DIY, ” papar Umam menerangkan awal dari label pemberian julukan Sobat.

Baca Juga : Peserta PTI-12, Belajar Menyemai Kemanusiaan di Kampoeng Percik

Strategi pendekatan Sobat pada dasarnya berupaya untuk memperbaiki relasi hubungan lintas agama melalui penciptaan hubungan pertemanan (Sobat) yang bertujuan, menciptakan trust melalui mengenal liyan secara langsung—tidak lagi belajar Islam dari kacamata Kristen atau sebaliknya, memperbaiki relasi antar komunitas lintas iman yang masih dilandasi saling mencurigai.

Lebih jauh Dwi menambahkan strategi lain dari Gerakan Sobat “Yang jelas kami ingin membangun local network dan juga Polling local resources utnuk mendorong pemecahan masalah sosial local.”

 

Gerakan Sobat Muda yang Diprakarsai Kaum Muda

Sobat Muda merupakan sebuah wadah SOBAT bagi kaum muda, yang semula bernama “Rumpun Bambu”. Sejumlah kegiatan yang pernah dilakukan: Diskusi-diskusi, “spiritual journey”, meditasi, dan acara-acara yang bertujuan untuk mempererat hubungan pertemanan dari para peserta yang berlatar belakang agama-agama yang berbeda, dan isu Perkawinan beda agama.

Gerakan Sobat Muda sendiri sudah berkembang sejak tahun 2009 hingga sekarang. Para pesertanya adalah anak muda dari berbagai organisasi Pendidikan, Lembaga keagamaan, seni/budaya dan masyarakat umum yang memberi perhatian pada kegiatan kepemudaan.

Gerakan ini terinspirasi dari Gerakan Sobat FSUB (Forum Sarasehan Umat Beriman) yang diprakarsai oleh Pondok Pesantren Edi Mancoro, Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ), dan Lembaga Percik pada tahun 2002.

Kegiatan-kegiatan Sobat Muda menekankan pada proses saling belajar bersama untuk menumbuhkan toleransi dan perdamaian. Bentuk-bentuk kegiatan yang pernah dilakukan antara lain adalah workshop dan seminar, spiritual tour ke berbagai tempat ibadah, konser musik dan teater, live in dan bakti sosial, produksi dan pemutaran film.

Umam terakhir menjelaskan tentang kegiatan rutin dari sobat Muda “Live in lintas iman adalah kegiatan rutin tahunan untuk memfasilitasi proses saling belajar bersama para peserta melalui pengalaman langsung tinggal bersama masyarakat dengan kehidupan majemuk yang toleran dan damai,” pungkas Umam.

 

Penulis : Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed