SMK Bakti Karya Parigi: Sepetak Surga dari Pedalaman Pangandaran

Oleh: Ali Fikry

SMK Bakti Karya Parigi hadir di tengah-tengah masyarakat Pangandaran untuk menjawab tantangan dan mengentaskan masalah tersebut. Konsep Pendidikan berbasis Multikultural sudah menjadi landasan utama dari sang pencetus dan pendiri sekolah ini.

Dan beruntungnya, penulis bisa bertemu langsung dengan siswa-siswi, berinteraksi dengan mereka selama lima hari, dan mengamati proses pembelajaran yang terjadi. Berikut kisahnya.

Sebut saja Kang Ai, seorang pemuda lulusan Universitas Paramadina tahun 2012 berjiwa revolusioner. Dia memiliki semangat memperbaiki tatanan dunia pendidikan yang baginya keliru dan sistem kekuasaan yang menurutnya korup.

Dia merupakan pendiri sekaligus inisiator Kelas Multikultural SMK Bakti Karya Parigi. Di tangannya tergenggam harapan untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang sehat dan menghargai keberagaman.

Selama berada di sana, penulis memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menggali informasi seputar sekolah yang dibangunnya. Sekolah yang tidak hanya dikenal di Pangandaran saja, melainkan sudah seringkali mendapat kunjungan dari tamu tak terduga.

Dari pejabat lokal, nasional, hingga tamu manca negara semuanya berkunjung silih berganti menyaksikan kehidupan belajar siswa-siswi yang penuh nuansa kedamaian nan surgawi.

Semangat memperbaiki tatanan pendidikan menjadi cikal bakal dari berdirinya sekolah ini. Kang Ai hendak menciptakan dunia pendidikan yang ideal dan menghargai pluralitas masyarakat Indonesia. Di sekolah ini manifestasi ajaran luhur Bhinneka Tunggal Ika tidak sekadar tertuang dalam lembaran kertas saja, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata.

Kelas Multikultural digagas dan menjadi sisi paling menarik untuk dicermati dari sekolah ini. Program ini mendatangkan banyak peserta didik dari beragam suku yang ada di Indonesia. Jika dihitung, total sudah ada 25 suku di sana.

Baca Juga: Aku Lahir dari Negara yang Satu, Tumbuh dengan Toleransi yang Menyatu

Sekolah menanggung semua pembiayaan hidup mereka selama tiga tahun masa belajar. Biaya ini tentunya berasal dari banyak kalangan dan donatur. Tidak untuk gaya- gayaan, bagi Kang Ai ini adalah upaya menciptakan suasana kehidupan bermasyarakat yang nyaman. Menurutnya, tidak ada gunanya hidup berlimpah harta jika kita tinggal dalam lingkungan yang diskriminatif.

Semua siswa yang didatangkan diberi tempat tinggal di asrama terpisah antara putera dan puteri. Mereka yang berasal dari daerah yang berbeda bahasa, suku, dan agamanya melebur menjadi teman sejawat dalam satu asrama. Lima hari bersinggungan dengan mereka saya langsung menyadari, betapa pengejawantahan toleransi benar-benar terwujud di kalangan pelajar yang usianya relatif masih dini.

Hidup di lingkungan yang memiliki ragam budaya akan sangat berdampak pada pembentukan karakter seseorang, utamanya terkait kematangan pola pikir dan interaksi yang akan berlanjut pada munculnya sikap saling menghargai.

Menurut cerita masyarakat setempat, tidak pernah ada ketegangan yang disebabkan perbedaan agama di asrama. Justru yang terlihat malah upaya saling mengingatkan, bukan saling memengaruhi apalagi menistakan.

Saat menjelang Subuh, yang seringkali membangunkan temannya untuk Salat justru adalah mereka yang beragama Kristen. Ketika hari minggu, yang mencarikan kendaraan agar siswa beragama Kristen bisa beribadah di Gereja terdekat justru adalah temannya yang beragama Islam.

Ketika Magrib tiba semuanya berangkat menuju surau dengan membawa kitab suci masing-masing. Siswa beragama Islam dengan Al-Qur’an di tangannya, dan siswa bergama Kristen membawa Injil bersama mereka. Semuanya berjalan beriringan diselingi gelak tawa. Sungguh pemandangan elok dan menggetarkan hati bagi siapapun yang melihatnya.

Jika diamati dengan teliti ada banyak sekali sisi menarik lain dari surga kecil ini. Apabila Anda berkunjung dan masuk ke kantor sekolah tempat guru berkumpul, maka Anda akan melihat sekumpulan pemuda dengan seragam guru penuh wibawa. Ya, tenaga pendidik SMK Bakti Karya Parigi semuanya masih terhitung sangat amat muda. Ketika penulis bertanya

pada salah satu tenaga pendidik yang biasa dipanggil Mang Atip, dia menuturkan bahwa pemilihan kalangan pemuda sebagai tenaga pendidik ditujukan untuk menghilangkan kesenjangan usia dengan peserta didik. Sebab disadari atau tidak, usia yang terpaut jauh antara guru dan siswa seringkali menimbulkan kesalahpahaman yang tidak semestinya. Perbedaan tipe dan kepribadian antar generasi adalah pemicunya.

Di sekolah ini setiap tahun ada program Festival 28 Bahasa Nusantara. Pada acara ini banyak pejabat penting pemerintah setempat atau tokoh-tokoh tersohor dan pengunjung dari luar daerah datang menyaksikan jalannya acara.

Terdapat pameran yang berisi kuliner dan berbagai macam kerajinan tangan dari setiap daerah. Pidato, puisi, dongeng, dan beragam pentas di atas panggung ditampilkan dengan bahasa daerah masing-masing. Semuanya belajar dan menyaksikan keragaman budaya, bahasa, dan suku di Indonesia.

Dampak nyata dari penerapan Multikulturalisme Pendidikan di SMK Bakti Karya Parigi dirasakan oleh mereka yang bersinggungan langsung dengan para siswa. Untuk jangka pendek, dampak yang dirasakan masyarakat sekitar adalah kemudahan melihat dan memahami kebiasaan suku lain dari berbagai penjuru tanpa harus repot-repot berkunjung ke bermacam daerah satu persatu. Hal ini menjadikan masyarakat dapat melihat wujud nyata keberagaman Indonesia yang awalnya hanya mampu mereka saksikan di televisi saja.

Sedangkan dampak panjangnya adalah kesadaran diri akan kemajemukan masyarakat Indonesia diiringi upaya saling memahami dan menghargai. Pemahaman pluralitas kehidupan sejak dini dapat mencetak generasi melek toleransi dan anti diskriminasi.

Pada tahap selanjutnya siswa-siswi lulusan SMK Bakti Karya Parigi akan menjadi agen perdamaian yang dapat mengentaskan masalah-masalah terkait tindakan intoleransi. Hal ini terbukti tatkala kerusuhan di Papua terjadi.

Siswa-siswi Papua yang ada di sekolah ini tidak mengalami apalagi melakukan diskriminasi terhadap teman-temannya. Mereka tetap fokus belajar dan saling menguatkan agar tidak ada yang pulang ke kampung halaman. Bagi penulis, mereka adalah bukti hidup dan nyata dari kalimat “Dewasa sebelum waktunya”.

Epilog: Mari Mencegah Sekaligus Mengobati!

SMK Bakti Karya Parigi adalah bukti nyata inisiasi pemuda Indonesia yang mau menciptakan perubahan dalam bingkai perdamaian. Mereka tidak terbujuk godaan urbanisasi di masa penuh kemajuan ini. Mereka rela mengorbankan masa mudanya untuk sesuatu yang lebih berharga, toleransi antar umat manusia. Dimulai dari dunia pendidikan, dan berlanjut hingga menuju kehidupan bermasyarakat, semangat toleransi ditanamkan sebagai prinsip hidup tertinggi.

Langkah penerapan Multikulturalisme Pendidikan menjawab tantangan masalah perilaku intoleran dari akarnya. Dengan mempertemukan berbagai kalangan dalam satu ruang lingkup kehidupan sejak dini, maka secara otomatis pembelajaran toleransi akan tercipta secara alami. Tidak lagi perlu dijejali secara paksa dengan menyampaikan materi yang sulit lagi rumit.

Cara ini akan mencegah pertumbuhan bibit-bibit teroririsme yang tumbuh subur di berbagai tempat hingga saat ini. Pun juga bisa mengobati mereka yang sudah terlanjur terpapar pemahaman radikalisme yang berujung pada tindakan diskriminasi.

Mencegah sekaligus mengobati, ada kalanya resep dari keduanya sama, yakni penanaman nilai-nilai keberagaman secara nyata lewat interaksi sosial langsung antar suku dan agama. Sepetak surga dari Pangandaran bernama SMK Bakti Karya Parigi semoga mampu menginspirasi kita semua. Sekian.

Ali Fikry, Peserta Sekolah Kepemimpinan Pemuda Lintas Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *