by

Situs Calon Pemakaman Rama Jati Kusuma dan Istrinya Sesepuh Sunda Wiwitan

-Kabar Utama-250 views

Kabar Damai I Selasa, 14 Desember 2021

Jakarta I kabardamai.id I Indonesian Conference on Religion and Peace menghadirkan ruang diskusi bagi pemuda lintas agama untuk menebar toleransi dan merawat kebinekaan, melalui kegiatan “Anjangsana Pemuda Lintas Iman 2: “Hayu euy! diajar répéhrapih sareung Komunitas Sunda Wiwitan di Cigugur”

Di kegiatan hari kedua peserta mengunjungi Situs Bakal Calon Pemakaman Rama Jati Kusuma dan Istrinya yaitu Ratu Emalia Wigarningsih Sesepuh Penghayat Sunda Wiwitan. Lokasinya berada di Curug Go’ong, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Alasan dipilihnya Curug Go’ong sebagai lokasi pemakaman merupakan tempat bersejarah bagi Sunda Wiwitan. Pangeran Madrais, tokoh anti kolonial yang berjuang melalui kebudayaan. Pangeran Madrais pernah menduduki Curug Go’ong bersama pengikutnya. Pangeran Madrais merupakan kakek dari Pangeran Djatikusumah.

Pembangunan Makam tersebut berasal dari batu-batu kecil hingga besar yang disusun rapih, batu-batu besar yang ada ini konon dibawa oleh 70% dari ibu-ibu Sunda Wiwitan ke atas bukit ini.

Gua Maria Sewer Rahmat

 

Gua ini bernama lengkap Gua Maria Sawer Rahmat. Penamaan “sawer” karena adanya air terjun bernama Curug Sawer di dekatnya. Karena, jatuhnya air seperti yang “disawerkan” atau jatuh terus menerus. Sehingga, dari penamaannya berharap rahmat akan turun terus-menerus. Uniknya, masyarakat lebih mengenal gua ini sebagai Gua Maria Totombok. Ini karena lokasinya berada di Bukit Totombok. Totombok berarti bukit yang selalu menombok. Konon, diberi nama Totombok karena daerah tersebut tidak pernah berhasil jika digunakan untuk areal persawahan.

Untuk menuju gua ini, pengunjung harus berjalan dan menaiki anak tangga. Umat Katolik menyebut perjalanan menuju tempat ini sebagai “prosesi jalan salib”. Ini dilakukan untuk menghormati perjalanan Yesus Kristus memanggul salib menuju Bukit Golgota atau Bukit Kalvari.

Tidak hanya itu, prosesi jalan salib ini juga dilakukan dengan berhenti di setiap tempat pemujaan. Umat Katolik akan berhenti untuk memanjatkan doa sebelum sampai di sini. Tak heran jika perjalanan menuju gua memakan waktu yang tidak sebentar. Karena perjalanan harus dilakukan dengan berhenti di beberapa titik untuk berdoa.

Baca Juga: Mengenal Sunda Wiwitan di Anjangsana Pemuda Lintas Iman

Gua Maria ini merupakan tempat beribadah bagi umat Katolik. Gua yang berada di tengah hutan di kaki gunung. Pemandangan sekitar berupa pepohonan yang masih sangat alami. Untuk dapat sampai ke Gua Maria Fatima Sawer Rahmat, pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih 700-800 meter, dengan menaiki ribuan anak tangga.

Patung Bunda Maria akan menyambut pengunjung begitu sampai di hadapannya. Patung yang berdiri tegak dan tampak anggun di dalam sebuah gua. Di bawahnya, mengalir air jernih yang berasal dari Curug Sawer. Di sekitar Gua Maria, terdapat taman indah yang menggambarkan Taman Getsemani. Menurut kitab suci Kristen, disanalah Yesus ditangkap untuk diadili sebelum disalibkan. Dan tentunya, taman ini berada pada tempat yang datar.

Sebelum pulang, pengunjung dapat menikmati pemandangan dari atas Gua Maria terlebih dahulu. Dari sini, terlihat pemandangan Kabupaten Kuningan yang begitu luas. Ditambah dengan pepohonan hijau yang menyelimuti, menambah sejuknya suasana. Dalam perjalanan pulang, pengunjung tidak akan melewati jalur yang sama ketika berangkat. Karena, jalan terpisah dari perjalanan mendaki. Hal ini dimaksudkan supaya umat Katolik yang telah selesai berdoa tidak mengganggu umat lainnya.

 

Ria Umaroh, Mahasiswa Studi Agama-agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed