by

Sinode GKST, PMKIT dan PGI Minta Presiden dan Pemerintah Beri Rasa Aman

Kabar Damai | Jumat, 14 Mei 2021

Poso | kabardamai.id | Ketua Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Pendeta Jetroson Rense, menanggapi peristiwa pembunuhan terhadap 4 petani di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, yang diduga dilakukan oleh kelompok MIT Poso, pada Selasa, 11 Mei 2021 pagi.

Menurutnya, seperti dilansir kumparan (12/5),  peristiwa itu adalah bentuk teror yang sangat sadis, keji dan biadab. Untuk itu, pihaknya meminta agar Presiden Jokowi segera memberikan jaminan keamana bagi warga Poso dan Sulteng pada umumnya.

“Kita semua sangat berduka, sedih dan marah atas jatuhnya korban pembunuhan yang sangat sadis, keji dan biadab dari mereka pelaku teror yang selalu berulang kali beraksi di masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga: Komnas HAM Papua: Atasi Kelompok Bersenjata Jangan Timbul Masalah HAM Baru

Jetroson sangat menyayangkan, di saat warga hendak menyongsong dengan sukacita dua perayaan suci keagamaan yang jatuh tepat pada tanggal yang sama di tahun ini, dicederai dengan duka cita, air mata dan darah saudara-saudara kita di Desa Kalimago, Dataran Napu, Poso.

“Untuk itu, lagi-lagi tak henti kami meminta dan memohon kepada aparat keamanan TNI Polri khususnya Satgas Operasi Madago Raya untuk mengejar dan menangkap para pelaku. Kami juga mendesak serta meminta pemerintah pusat kepada bapak Presiden yang kami hormati, untuk memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat di wilayah ini. Di mana selalu terjadi dari tahun ketahun pembunuhan secara sadis dan menimbulkan trauma ketakutan di tengah masyarakat,” pintanya, seperti dikutip kumparan.

Walaupun pelaku selama ini memberikan luka yang mendalam dalam hati warga dengan terus memberikan peristiwa pembunuhan ber tahun-tahun, namun pihaknya masih terus menyadarkan warga Kalimago untuk terus menahan diri menjaga keamanan dan membina tenggang rasa dan toleransi.

“Mari kita doakan keluarga para korban. Kiranya Tuhan menghibur dan menguatkan dalam menghadapi duka ini. Air mata mereka adalah air mata kita semua. Duka mereka adalah duka kita semua,” ugkapnya.

 

PMKIT: Kembalikan Suasana Aman dan Damai

Atas peristiwa tersebut Rev Louis Pakaila ketua umum Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur (PMKIT) mengeluarkan pernyataan sikap, antaranya, seperti dikutip dari majalahgaharu.com (12/5):

Pertama, sebagai pengurus PMKIT sangat terkejut dengan terjadinya peristiwa pembunuhan sadis yang kembali terulang di kawasan Poso Sulteng.

Kedua,  peristiwa tersebut membawa duka bagi keluarga korban dan tentu saja bagi keluarga besar Persatuan Masyarakat Kristen Indonesia Timur, bahkan bagi masyarakat di seluruh Indonesia dan dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai peradaban manusi

Ketiga, PMKIT sangat menyesalkan terjadinya peristiwa tersebut, apalagi bila mengingat bahwa hal ini bukanlah kejadian yang pertama.

“Kami sangat prihatin menyaksikan peristiwa demi peristiwa semacam ini masih saja terjadi di wilayah Indonesia bagian timur, khususnya di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Rasa kasih terhadap sesama manusia seolah lenyap berganti perilaku biadab”, ujar Lousi yang juga tokoh duta perdamaian untuk Indonesia ini

Lebih lanjut dalam pernyataan sikap tersebut Louis melihat pembunuhan yang terjadi bak binatang buas kelaparan yang bernafsu untuk membunuh dan membinasakan.

Untuk itu PMKIT melihat terhadap peristiwa tersebut, memohon perhatian yang lebih bersungguh-sungguh kepada pemerintah, khususnya aparat keamanan yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan keselamatan setiap warga negara Indonesia, dalam hal ini warga yang tinggal di wilayah Kabupaten Poso dan sekitarnya, untuk lebih cakap dalam menjalankan tugasnya.

Kelima,  PMKIT menyarankan untuk segera dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi menjaga keamanan dan keselamatan warga di Kabupaten Poso dan sekitarnya, menempatkan para personel keamanan yang cakap dan berintegritas, serta melibatkan berbagai unsur dan komponen dalam masyarakat untuk membangun sebuah sistem keamanan dan keselamatan warga.

Keenam, evaluasi yang dimaksud tersebut tentunya dimaksudkan untuk mengembalikan suasana kondusif, menciptakan rasa aman dan damai di tengah masyarakat, khususnya warga di Kalimago Napu, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso, serta membawa para pelaku kejahatan kemanusiaan itu ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.

“Akhirnya kepada para keluarga korban di Kalimago Napu, Kecamatan Lore, Kabupaten Poso, kami yakinkan bahwa Bapak, Ibu, Saudara, Saudari tidak sendiri. Kami, Masyarakat Kristen Indonesia Timur bersama segenap komponen masyarakat lain di seluruh Indonesia dan dunia,bersama kalian, hati dan pikiran kami ada bersama kalian, kami  terus berdoa dan memberi dukungan nyata. Lepaskan pengampunan bagi para penjahat itu karena sebenarnya mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Jangan takut dan gentar. Tuhan beserta kita!,” pungkasnya.

 

PGI: Dukung Langkah Pemerintah Pelihara Keamanan

Terkait peristiwa yang sama, Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengecam keras pembunuhan 4 warga Desa Kilimago, Poso, Sulawesi Tengah pada Selasa (11/5). Peristiwa tersebut tidak bisa ditolerir karena dilakukan dengan cara sadis dan biadab oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

“Tindakan ini benar-benar di luar perikemanusiaan tak bisa ditolerir. Tindakan biadab ini kembali berulang setelah pembantaian sadis yang dilakukan oleh kelompok yang sama pada akhir tahun 2020. Kami mendesak Pemerintah dan aparat TNI dan Polri menyelesaikan peristiwa terror yang selama ini mengganggu di Poso. Pembantaian berulang pada kurun waktu yang pendek sungguh-sungguh mempertontonkan pelecehan terhadap kemampuan apparat keamanan kita yang seakan tak berdaya menghadapi kelompok teroris ini,” kata Pdt. Jacky Manuputty, Sekretaris Umum PGI.

MPH-PGI juga mengungkapkan belarasa dan keprihatinan yang mendalam kepada keluarga yang berduka.

Terkait dengan peristiwa ini, PGI menyerukan beberapa hal sebagai berikut;

  1. Mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk meningkatkan upaya penanganan kelompok teroris ini, sehingga tidak lagi jatuh korban warga tak bersalah yang dibantai dengan cara-cara barbar. Masyarakat berhak atas jaminan keamanan dan ketentraman, serta bebas dari segala bentuk terror, dan pemerintah wajib memberikannya.
  2. Mengimbau masyarakat setempat untuk tetap waspada, sambil memperkuat ketahanan soSial dan memberi dukungan terhadap upaya-upaya pemerintah untuk menangani kasus ini.

Mendorong seluruh elemen masyarakat untuk bersikap proaktif melawan gerakan ekstremisme yang melegalkan cara-cara kekerasan dan terror, karena sungguh melecehkan nilai-nilai luhur agama maupun kebangsaan.

  1. PGI terus mendoakan dan mendukung semua langkah dan upaya pemerintah untuk memelihara keamanan dan ketentraman masyarakat di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bebas dari aksi teror dan estremisme.

“Demikian pernyataan pers kami sampaikan untuk menjadi perhatian pihak terkait dalam penyelesaian masalah pembantaian warga di Poso,” pungkas siaran pers PGI yang diungah di laman resmi PGI, Kamis, 13 Mei 2021.

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed