Sikap Toleransi Beragama di Lingkungan Masyarakat

Oleh Robiatul Alawiyah

Negara Indonesia merupakan Negara yang majemuk yang didalamnya sendiri mempunyai banyak perbedaan diantaranya yaitu mulai dari perbedaan etnis, suku, ras, budaya, agama, dan masih banyak lagi. Akan tetapi suatu perbedaan tersebut merupakan salah satu kekuatan dari bangsa Indonesia, karena dengan adanya perbedaan tersebut umat manusia yang ada di Indonesia berbondong-bondong untuk mempelajari tentang adanya toleransi. Negara Indonesia juga mempunyai dasar Negara yaitu pancasila.

Toleransi merupakan salah satu cara untuk menjaga rasa harmonis di dalam Negara tersebut. toleransi juga merupakan sebuah perilaku dari para manusia untuk menghormati dan juga menghargai satu sama lain dalam perbedaan tersebut baik dalam kelompok maupun dalam individu.  Sikap toleransi juga sudah tercantum dalam pasal 29 pada Undang Undang Dasar 1945, dalam pasal tersebut dinyatakan bahwa 

“Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara juga menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk bisa memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan juga kepercayaan itu”.

Bukan hanya didalam UUD saja, akan tetapi di setiap agama juga telah diajarkan tentang adanya sikap toleransi. Misalnya di salah satu desa yang ada di Kota Lamongan, Jawa Timur. Desa tersebut diberi julukan sebagai desa pancasila, karena didalam desa tersebut terdapat masyarakat yang memeluk tiga agama berbeda-beda diantaranya yaitu agama Islam, Kristen, dan Hindu. Di samping keanekaragaman agama yang ada di desa balun, yang menjadi ciri khas lainnya adalah interaksi sosial dari masyarakat yang berbeda agama tidak pernah terjadi gesekan. Mereka saling membantu satu sama lain. Masing-masing dari mereka saling menjaga dan tidak ada pengelompokkan berdasarkan agama mereka. Para warga di desa balun saling membaur dan menyebar secara merata. Budaya interaksi sosial kemudian melahirkan budaya yang khas dan melahirkan interpretasi pada simbol-simbol budaya yang berbeda dengan daerah lain. Misalnya pada saat hajatan untuk menghargai serta membantu para perempuan memakai kerudung dan yang laki-laki memakai kopiah atau songkok padahal belum tentu agama mereka adalah islam sebagaimana polamoda umumnya. Hal itu mencerminkan bahwasanya kerudung dan kopiah lebih untuk menghormati pesta hajatan tersebut.

Baca juga : Literasi Finansial dan Perempuan

Bukan hanya toleransi dalam kegiatan sosial saja, masyarakat di desa balun ini juga menerapkan sikap toleransi dalam melakukan peribadatan, seperti halnya perayaan yang dilakukan oleh agama Islam yaitu Hari raya idhul fitri, semua masyarakat yang tidak beragama Islam pun ikut menyambut hari raya tersebut dengan cara mengikuti berkunjung ke rumah-rumah untuk saling bermaaf-maafan, dan masih banyak lagi kegiatan yang ikut serta dilakukan oleh masyarakat setempat. Didalam desa tersebut juga terdapat tiga rumah ibadah yang saling berdekatan satu sama lain diantaranya yaitu bangunan masjid yang megah berdekatan dengan pura Sweta Maha Suci, kemudian tidak jauh dari masjid tersebut terdapat bangunan Gereja Jawi Wetan yaitu di depan masjid kurang lebih lima puluh meter. Bukan hanya tempat ibadah saja, akan tetapi rumah mereka juga saling berbedakatan mulai dari agama Islam, Kristen dan juga Hindu.

Oleh karena itu kita berharap bahwa sikap toleransi ini juga bisa dilakukan oleh seluruh warga yang ada di bangsa Indonesia, agar Negara Indonesia ini menjadi Negara yang lebih damai. Karena dari awal Negara ini dibentuk dengan tujuan untuk bisa menyatukan seluruh tumpah darah yang ada di Indonesia ini dari sabang sampai dengan merauke, dari satu ras dengan ras yang lainnya.

Penulis : Robiatul Alawiyah

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *