by

Siaran Pers: Pemecatan Pegawai KPK Hingga Aksi Teror Terhadap Rakyat

Kabar Damai I Selasa, 8 Juni 2021

Pontianak I Kabardamai.id I Isu Pelemahan KPK kembali menjadi wacana publik. Merespon isu tersebut, kelompok masyarakat sipil merasa perlu bersikap dengan menyampaikan penolakan atas keputusan tersebut. Demikian halnya di Pontianak, Gerakan Rakyat Anti-Korupsi (GERTAK) Kalimantan Barat, yang terdiri atas berbagai elemen masyarakat sipil, merespon dengan melakukan aksi mimbar bebas di muka umum yang dilaksanakan pada hari Kamis (3/6), serta pada hari Sabtu (5/6) menyelenggarakan diskusi dan pemutaran film “The End Game”: Ronde Terakhir Melawan Korupsi yang diproduksi Watchdoc.

Dalam proses mengungkapkan pendapat yang kami lakukan – yang secara tegas dilindungi oleh Konstitusi di Indonesia, ternyata dinodai oleh reaksi yang tak bertanggung jawab dari sejumlah pihak dengan melakukan upaya peretasan, penyebaran data pribadi (doxing), hingga teror digital berupa telepon (robocall) dari berbagai nomor tidak dikenal kepada sejumlah rekan dalam barisan kelompok rakyat ini. Setidaknya, sejak Kamis (3/6) kemarin terdapat 5 orang yang mengalami upaya hina tersebut, yang masih berlangsung bahkan hingga siaran pers ini disebarkan.

Di tengah aksi yang kami lakukan, salah seorang rekan yang juga narahubung pada acara nonton bareng, dikagetkan dengan adanya peretasan terhadap akun aplikasi pemesanan online, yang menjurus pada tindakan “pesanan palsu” berupa 4 pesanan makanan dan 1 pesanan perjalanan namun kemudian dibatalkan oleh pengemudi. Padahal, korban tidak pernah melakukan pemesanan makanan maupun perjalanan melalui aplikasi, bahkan aplikasi tersebut sudah tidak digunakan dan dihapus dari gawainya sejak 2020.

Baca Juga: Gerakan Rakyat Antikorupsi (Gertak) Kalimantan Barat Tolak Pelemahan KPK

Setelah aksi, kami mencoba menelusuri bahwa akun aplikasi surel dan layanan daring korban telah diretas. Tidak sampai disitu, pada malam hari, sekitar pukul 19.54 WIB rekan kami menghadapi upaya peretasan terhadap akun aplikasi pesan pribadinya (WhatsApp). Upaya ini juga dialami oleh dua orang rekan lainnya. Permintaan one time password (OTP) melalui pesan singkat (SMS) dan telepon mengindikasikan adanya pihak-pihak tertentu yang berupaya mengambil alih akun milik tiga orang rekan kami tersebut. Hal ini terjadi secara berulang kali hingga pagi hari (4/6) sehingga selain sebagai upaya peretasan, juga menjurus pada upaya teror.

Kelima rekan yang menjadi korban ini memang terpublikasi dalam selebaran digital pemutaran film. Dari tiga orang rekan yang mendapat upaya peretasan akun WhatsApp, dua orang merupakan narahubung, dan satu orang adalah moderator acara. Sedangkan dua orang lain merupakan pembicara yang masing-masing berasal dari Lembaga Gemawan dan akademisi dari IAIN Pontianak.

Teror yang dilakukan tidak berhenti. Upaya lain dilakukan dengan cara teror telepon dan pesan singkat (SMS) tidak dikenal. Teror ini dilakukan secara berulang dan terus-menerus kepada ketiga rekan kami, juga kepada 2 orang lain yang direncanakan menjadi pembicara dalam gelaran pemutaran film “The End Game”. Berdasarkan penelusuran kami, semua aksi teror itu menggunakan nomor yang sama dan upaya tersebut masih terus berlangsung hingga saat ini.

Apabila dicermati, sebenarnya hanya dua orang narahubung saja yang tertera nomor kontak dalam selebaran. Sementara moderator dan kedua pembicara tidak dicantumkan nomor kontak. Artinya, selain upaya peretasan dan teror, terdapat tindakan penyebaran data informasi personal (doxing) yang juga dilakukan, yaitu terhadap moderator acara dan kedua pembicara.

Teror serupa juga sempat dialami oleh rekan-rekan kami dari Indonesia Corruption Watch (ICW) beberapa waktu sebelumnya. Sehingga kami melihat adanya relasi yang kuat antara pelemahan KPK dengan pengkerdilan ruang bagi masyarakat sipil untuk menyampaikan suara dan ekspresi keresahan atas serangkaian upaya pelemahan KPK – yang puncaknya adalah pemecatan 75 orang pegawai KPK karena dianggap tidak memiliki wawasan kebangsaan. Kejadian ini merupakan bentuk kemunduran demokrasi di Indonesia, yang ironisnya terjadi ketika masyarakat tengah berkonsentrasi mempertahankan kehidupan di tengah krisis akibat pandemi COVID-19. Kebebasan berekspresi, keamanan data pribadi, perlindungan atas HAM adalah ruang-ruang sipil yang seharusnya mendapatkan jaminan dan perlindungan.

Rangkaian upaya peretasan, teror dan penyebaran data informasi tersebut sama sekali tidak akan menyurutkan upaya kami untuk menyampaikan informasi kepada publik. Sikap dan aksi kami merupakan bentuk kecintaan kami terhadap negeri ini dan penghormatan kami terhadap Pancasila. Kebenaran akan tetap menemukan jalannya.

Terkait dengan peristiwa ini, kami Gerakan Rakyat Anti-Korupsi (GERTAK) Kalimantan Barat mengutuk keras segala bentuk pembungkaman, pengkerdilan yang dilakukan oleh pihak tidak bertanggung jawab terhadap rakyat dan telah memukul mundur demokrasi, maka dengan ini kami juga berharap pihak berwenang dapat mengusut tuntas berbagai upaya teror yang mengganggu, merugikan, serta mengancam kebebasan menyampaikan pendapat dimuka umum yang jelas telah dijamin oleh konstitusi.

GERAKAN RAKYAT ANTI-KORUPSI (GERTAK) KALIMANTAN BARAT

  1. Aksi Kamisan Pontianak
  2. Lembaga Gemawan
  3. Suar Asa Khatulistiwa (SAKA)
  4. SADAP
  5. Jaringan Gusdurian Pontianak
  6. SEJUK Kalbar
  7. GMNI
  8. Dema IAIN
  9. BEM Sylva PC Untan
  10. LPM Teropong Kampus Polnep
  11. Solmadapar
  12. Pontianak One Piece Family
  13. HMI Pontianak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed