by

Sharing Tentang Yahudi di Indonesia: Stop Judging and Start Loving

Kabar Damai | Selasa, 28 Juni 2022

Jakarta | kabardamai.id | Ezra Avraham, pemuda Yahudi Indonesia dan Asisten parnas Israelitische Gemeente Indonesia. Pada 26 Juni lalu ia mengisi Disket atau Diskusi Beretika Pemuda Lintas Iman yang dilaksanakan secara luring dan daring di Kantor Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Diskusi ini mengangkat tema “Stop Judging and Start Loving”.

Sebelum memulai pembawaan materinya, Kak Ezra memberikan quotes kepada peserta yaitu ‘jangan menilai seorang sampai kamu berjalan di atas sepatunya’. Pada pembahasan yang pertama, kak Ezra menjelaskan bahwa istilah. Yahudi sebenarnya tidak berasal dari orang-orang Yahudi sendiri, melainkan berasal dari Goyim (bangsa-bangsa).

Bangsa-bangsa ini merujuk pada Babylonia pada saat itu. Pada tahun 400 SM, bangsa Israel (Kerajaan Yehuda) mengalami pembuangan ke Babylonia. Ketika sampai di sana, orang-orang Yehuda dipanggil Yehudim oleh bangsa Babylonia, yang berarti masyarakat Yehuda. Dari sinilah istilah Yahudi muncul. Jadi istilah Yahudi ada karena penyebutan bangsa-bangsa lain kepada masyarakat Yehuda.

Ezra menjelaskan tentang Bani Israel. Bani Israel ini memiliki arti anak keturunan Israel (Yakub), yang terdiri dari Reuben, Simeon, Levi, Judah, Dan, Naphtali, Gad, Asher, Issachar, Zebulun, Joseph dan Benjamin. Sebelum menjadi Bani Israel, sebutannya adalah bangsa Ibrani atau Ivri. Keduabelas nama anak-anak Yakub ini, kemudian menjadi nama suku-suku Yahudi. Orang pertama yang mendapatkan julukan orang Ibrani adalah Nabi Abraham.

Abram Ha-Ivri yang berartian Abraham berada pada sisi yang berlawanan. Kalimat tersebut menyimpan makna bahwa Abraham pada masa banyak sekali orang masih menyembah hal-hal berhala, Abraham telah berada di sisi lain yaitu menyembah Tuhan Allah Semesta Alam.

Ezra juga menjelaskan alasan Israel disebut sebagai Ibrani/Ivri,  “Israel disebut Ibrani/Ivri karena bangsa tersebut menyeberang Laut Merah atau berada di sisi lain Laut Merah. Orang Yahudi dapat dikatakan sebagai orang Yahudi dengan syarat orang yang memiliki orang tua Yahudi, memiliki ibu Yahudi dan melakukan Giyur (Proses pindah agama Yahudi),” ungkap Ezra dalam Diskusi Sharing Tentang Yahudi Indonesia, Minggu (26/06/2022).

Mengenal Yudaisme

Yudaisme adalah sebuah sistem kepercayaan yang lahir dari kesadaran kolektif masyarakat Yehuda akan pentingnya kehidupan yang berketuhanan di bawah bimbingan Taurat dan ajaran para Hakhamim.

“Jadi berawal dari kesadaran bahwa pentingnya memiliki sistem kepercayaan dan cara beribadah dengan bimbingan Turat dan bimbingan para hakim-hakim agama yang membawa orang Yahudi melahirkan Yudaisme sebagai sistem kepercayaan,” terang Ezra.

Torah atau taurat menjadi pedoman penting dalam kehidupan kepercayaan orang Yahudi. Taurat/torah terdiri dari Kejadian (Bereshit), Keluaran (Shemot), Imamat (Vayikra), Bilangan (B’midbar), Ulangan (Devarim). Disamping taurat/torah, ada taurat lisan yang juga menjadi pedoman kehidupan kepercayaan orang Yahudi.

Baca Juga: Merobohkan Stigma Keliru Pada Yahudi

Kemudian ada Talmud. Talmud berisi perdebatan-perdebatan atau diskusi-diskusi imam-imam leluhur orang Yahudi. Talmud ini juga menjadi pedoman kehidupan kepercayaan orang Yahudi.

Dalam Tamud Torah dituliskan bahwa seorang Yahudi harus membagi waktu belajarnya menjadi tiga; sepertiga untuk mempelajari Kitab Suci, sepertiga untuk mempelajari Taurat Lisan, dan sepertiga untuk berpikir dan merenungkan hingga dia dapat memahami akhir dari suatu hal yang telah dipelajari dari tradisi lisan. Mata pelajaran ini disebut Gemara.

Orang Yahudi juga memiliki 13 prinsip. Ketigabelas prinsip tersebut diantaranya;

  1. keyakinan akan keberadaan Sang Pencipta yang sempurna yang merupakan penyebab utama dari semua yang ada,
  2. keyakinan pada kemutlakan Tuhan dan tidak ada yang setara denganNya,
  3. keyakinan bahwa Tuhan non-jasmani atau bahwa Dia melakukan sesuatu seperti Gerakan atau istirahat atau memiliki tempat tinggal,
  4. keyakinan akan keabadian Tuhan,
  5. keyakinan bahwa hanya Dia yang layak disembah,
  6. keyakinan bahwa Tuhan berkomunikasi dengan manusia melalui nubuat,
  7. keyakinan akan keunggulan nubuatan Musa,
  8. keyakinan bahwa Taurat adalah ilahi,
  9. keyakinan akan kekekalan taurat,
  10. keyakinan pada pemeliharaan Tuhan,
  11. keyakinan akan hadiah dan pembalasan.
  12. Keyakinan akan kedatangan Mesias dan era mesianik serta
  13. kepercayaan akan kebangkitan orang mati.

Orang Yahudi berdoa biasanya pada pagi hari (Shaharit), sore hari (Minha) dan malam hari (Arbit). Kak Ezra juga membagikan mengenai Kashrut atau hukum salam Yahudi yang membahas mengenai makanan. Hukum ini berisi hal yang boleh dan tidak boleh dimakan, kelayakan bahan dan penyajian makanannya.

Shabbat atau hari Sabat

Orang Yahudi memulai Sabat dari Jumat sore dan berakhir Sabtu sore. Pada hari Sabat orang Yahudi tidak melakukan apapun seperti makan dan tidak diperbolehkan menyalakan lilin.

Seusai Ezra memaparkan materinya, dibuka sesi tanya jawab.

“Bagaimana seorang Yahudi tata cara berpakaian? Bagaimana seorang Yahudi berdoa? dan Bagaimana seorang Yahudi menuliskan agamanya dalam KTP?, ”tanya beberapa peserta

Ezra menjelaskan bahwa seorang Yahudi tidak memiliki tata cara berpakaian khusus asal sopan saja. Kak Ezra juga mempraktekkan dan menunjukkan kepada seluruh peserta cara memakaikan benda-benda yang digunakan sebelum berdoa.

“Kami biasanya harus membohongi diri kami sendiri dalam menuliskan agama dalam kolom KTP. Sebagian ada yang menuliskannya sebagai kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagian lagi menuliskannya dengan bebas menggunakan agama-agama yang diakui di Indonesia. Kalau saya sendiri Islam karena mayoritas agama di Indonesia kan Islam”, jawab kak Ezra sambil tertawa mengenai penulisan kolom agama dalam KTP.

Diskusi beretika dilanjutkan dengan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Peserta daring dibagi ke dalam breakout room sedangkan peserta luring duduk berkelompok dengan kelompoknya. Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan pertanyaan yang ada dan menuliskannya pada sebuah kertas kemudian menempelkannya di papan tulis.

Seusai berdiskusi, ice breaking diisi dengan perform dari Lodriko dan Nicholas menyajikan lagu Bahasa Cinta. Kemudian ada games seru yaitu menjawab pertanyaan dari Kak Ezra. Lima pemenang mendapatkan masing-masing buku sebagai hadiah.

Seluruh acara dari awal sampai akhir berjalan seru. Diskusi berjalan sangat menyenangkan serta banyak ilmu-ilmu baru yang didapatkan. Diskusi beretika ini membawa kita pada perubahan perspektif mengenai orang Yahudi yang ternilai cukup buruk di mata publik.

“Stop Judging and Start Loving karena kalian belum tentu mengerti sebelum kalian mengenalnya dan kalian akan mencintai begitu kalian mengerti dan mengenal”, tutup Ezra.

 

Penulis: Timotius, Mahasiswa jurusan Filsafat Keilahian, UKDW

Editor: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed