by

Seni dan Sastra Untuk Perdamaian: Berbagi Kasih di Bulan Cinta Kasih

Seni dan sastra untuk perdamaian sebuah acara daring yang diselenggarakan oleh Komunitas Generasi Hijrah Indonesia.

Ada beberapa rangkaian acara seperti, talk show tentang seni dan sastra, doa bersama untuk negeri, dan Aksi Pemulihan Trauma.

Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk cinta kasih namun juga rasa prihatin atas banyak bencana yang terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini.

Gayatri Wedotami, pendiri Komunitas Generasi Hijrah Indonesia menyampaikan, memasuki bulan februari yaitu bulan cinta kasih kawan-kawan dari Hijrah Indonesia membuat doa bersama untuk Indonesia agar bisa menghadapai berbagai persoalan.

“Bulan Februari, bulan cinta kasih, kawan-kawan dari Hijrah Indonesia membuat doa bersama untuk negeri tercinta agar bisa menghadapi segala persoalan seperti pandemi, krisis yang dihadapi karena pandemi, perubahan iklim yang menyebabkan bencana alam,” ucap Gayatri.

Berangkat dari berbagai persoalan yang terjadi, Gayatri juga mengadakan Aksi Pemulihan Trauma dengan memberikan 1 mainan, 1 anak bagi korban bencana. Dalam acara tersebut Gayatri menyampaikan telah terkumpul dana sebanyak tiga juta seratus ribu rupiah untuk dibelikan mainan (tas boneka) bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat bencana.

“Kami juga meluncurkan Program Aksi Pemulihan Trauma, melalui aksi ini kami memberikan hadiah berupa mainan, tas boneka. Sudah terkumpul Rp 3.100.000,-“ lanjut Gayatri.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau merawat dan bangga dengan budayanya” kata pembuka dari Maya, salah satu narasumber dalam acara Seni dan Sastra untuk Perdamaian ini.

Maya Dewi seorang pegiat Seni Budaya, pendiri Komunitas Diajeng menyampaikan bahwa komunitas yang ia dirikan itu muncul dari kegelisahan yang terjadi pada anak bangsa, selain bahwa Maya sendiri suka dengan fashion, suka dengan batik.

“Saya mendirikan komunitas ini ada ‘kegelisahan’ kehidupan kita sebagai anak bangsa, gara-gara politik kita tercerai berai. Saya suka dengan fashion, dengan batik, akhirnya saya bilang dengan beberapa teman di Semarang bagaimana kalau kita buat komunitas yang mengusung nilai-nilai budaya khususnya berkain dan berkebaya,” tutur Maya.

Maya tidak ingin larut dalam politik identitas yang terjadi di Indonesia saat itu dan menurutnya memilih budaya adalah cara paling aman untuk menunjukan kecintaannya kepada Indonesia. Hal lain yang membuat Maya tertarik dengan kebaya atau berkain karena kedua hal itu memiliki makna filosofis yang berhubungan dengan kehidupan kita sebagai anak bangsa.

“Kami tidak mau terlarut dalam politik identitas, paling aman itu budaya. Mungkin sepele, apa istimewanya kebaya dan berkain, semua orang juga bisa. Namun bagi kami ini bukan hanya sekedar simbo,  tetapi disini kami mengusung nilai-nilai yang sarat dengan makna filosofis yaitu secara langsung berhubungan dengan kehidupan kita sebagai anak bangsa bagian dari Nusantara dengan sekian ratus tahun sejarah,” ucap Maya.

Giliran narasumber berikutnya, seorang penyair, aktivis Empu Jalin Karsa, Zubaidah Djohar menyampaikan pengalamannya dalam memberitakan perdamaian. Sastra menurut Zubaidah adalah panggilan jiwa, dulu ia tidak pernah terpikir untuk mempublikasikannya. Dari perjalanan masa kecil ia sudah menulis puisi yaitu saat ia kehilangan kucing kesayangannya, ada sumbatan kalbu atas perasaan kehilangan itu.

“Baru 8 tahun terakhir saya menggeluti menulis sastra dalam bentuk puisi. Sastra ini juga sebenarnya bagian dari panggilan jiwa, dulu tidak terpikir untuk menerbitkan, tidak terpikir untuk menjadikannya buku. Sebenarnya dari masa kecil sudah menulis puisi. Saya masih ingat ketika keluarga besar kami kehilangan kucing kesayangan itu bisa menjadi sebuah bagian dari katarsis.  Ada sumbatan kalbu, kalau kita sedih, kecewa, itu kita larut lama sekali. Jadi itu awal saya menulis tapi saat itu hanya untuk katarsis, katarsis itu untuk meluruhkan hal-hal yang tersumbat di hati,” cerita Zubaidah

Pada tahun 2012, Zubaidah melahirkan buku yang berjudul “Pulang” namun lebih dikenal dengan “Pulang Melawan Lupa”. Menurutnya judul “Pulang” itu maknanya sangat dalam. Untuk konteks Indonesia misalnya, Pulang itu kembali. Kembali ke Islam yang humanis, Islam yang Rahmatan lil alamiin. Hal itu yang tidak dihidupkan oleh pemuka agama, sehingga nilai Islam itu sendiri tergerus.

“2012 saya melahirkan buku kumpulan puisi yang berjudul “Pulang”. Tapi kemudian di penerbit “Pulang” yang huruf besar itu disetarakan dengan kata-kata yang sebenarnya pelengkap, akhirnya judulnya jadi satu, kemudian dikenal dengan buku “Pulang Melawan Lupa”. Sebenarnya cukup “Pulang” saja karena pulang itu lebih dalam maknanya. Untuk konteks Aceh, untuk konteks Indonesia atau untuk konteks wilayah manapun yang sedang berkonflik, yang sedang menerapkan syariat Islam, agar pulang itu kembali, kembali ke Islam yang humanis, Islam yang Rahmatan lil amiin yaitu Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, seluruh makhluk. Namun itu yang tidak dihidupkan ketika kita bicara tentang Islam oleh banyak pihak yang mengaku ustad, pemuka agama, banyak hal yang tergerus dari nilai Islam itu sendiri,” ujar Zubaidah.

Melalui bukunya “Pulang” itu Zubaidah mengajak agar kita kembali “Pulang” ke kondisi awal, ke damai yang sebenarnya. Ia pun mengajak Aceh, untuk kembali “Pulang” ke perdamaian yang telah diikrarkan di Helsinki.

“Kalau di wilayah konflik makna pulang itu kembali ke kondisi awal. Misalnya Aceh, Aceh itu kembali ke kesepakatan awal tentang perdamaian yang diikrarkan di Helsinki, agar kembali ke situ. Damai itu bukan damai semu yang dituntut, damai yang betul-betul memberi keadilan bagi masyarakat, korban, terutama dalam hal ini perempuan dan anak-anak yang lebih mengalami persoalan berlapis. Pulanglah ke situ untuk mengembalikan damai yang sebenarnya,” ungkap Zubaidah.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed