by

Selamat Datang Ya Ramadan

-Opini-60 views

Oleh Pdt. Jacky Manuputty

 

Tanpa terasa Ramadan kembali tiba. Saudara-saudara Muslim beta telah sediakan diri dan hati untuk masuki bulan bakar-bakaran. Ramadan memang bulan bakar-bakaran, tetapi bukan bakaran ikan atau bakaran rumah. Beta menelisik makna Ramadan dan menemukan bahwa dalam bahasa aslinya Ramadan berati ’Panas’. Jamaknya, ’Ramaaanaat atau Armidaa’ adalah bulan ke-9 dari tahun Hijriah.

Makna itu diberikan karena dalam bulan ke-9 padang pasir di sana biasanya terasa membara terpanggang matahari. Sekalipun begitu, bukan saja karena temperatur yang sangat panas itu maka Ramadan menjadi penting bagi saudara-saudara Muslim beta. Dalam bulan itu banyak peristiwa penting terjadi dan menentukan arah perkembangan serta pertumbuhan Islam sebagai agama yang besar.

Dalam bulan Ramadan, Alquran turun dari Allah kepada Muhammad SAW. Pada bulan yang sama Muhammad diangkat menjadi Rasulullah SAW. Masih dalam bulan yang sama Kota Makkah ditaklukan, selain juga Nabi Muhammad SAW memenangi perang Badar. Di bulan itu juga umat Islam diwajibkan berpuasa serta beramal saleh. Banyak lagi peristiwa penting yang terjadi pada bulan itu, seturut apa yang beta telusuri.

Peristiwa-peristiwa itu menjadikan bulan Ramadan menjadi sangat penting dan bermakna bagi semua saudara Muslim. Karenanya dalam bulan Ramadan, saudara-saudara Muslim beta mendeklarasikan perang dan berjuang keras membakar habis seluruh hawa nafsu kedagingan. Melaluinya bisa ditemukan fitrah diri sebagai Islam yang sepenuhnya pasrah kepada Allah. Kepasrahan yang sekaligus dijadikan modal kehidupan sampai tiba Ramadhan berikut.

 

Baca Juga : Sambut Ramadhan, Kota Singkawang Buat Replika Bedug Raksasa dan 1.142 Obor

 

Tentunya kisah-kisah ini dengan gampang bisa didapat kalau sedikit waktu disediakan untuk membaca dan mengenal Islam. Menariknya, semua tradisi mulia ini membuat beta menarik nafas dalam-dalam, karena mengingat bahwa tali nafas beta juga ditentukan hanya melalui kepasrahan total kepada Allah. Tradisi itu mengingatkan beta bahwa seorang Isa Almaseh, atau Yesus yang beta imani, juga mengajarkan sikap pasrah sepenuh hati kepada Allah di tengah segala bentuk pencobaan yang Ia hadapi. Sekalipun iblis menawarkan makanan, kekuasaan, dan keselamatan dalam kisah pencobaan di bukit, tetapi Yesus menolak dan bertahan dalam puasa selama 40 hari, sebelum Ia memulai karya pelayanan-Nya.

Beta mengingat, sekalipun segala kuasa ada pada-Nya, tetapi Ia akhirnya berkata ”janganlah kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu (Allah) jadilah”. Artinya, secara langsung Yesus mau tunjukan bahwa hidup kita hanya ada dalam anugerah Allah, yang kita terima dengan kepasrahan sepenuhnya. Itu sikap iman yang oleh Marthin Luther ditegaskan lewat kalimat termashur, ”Sola Gratia, Sola Fidei, dan Sola Scripture”. Kita hidup hanya karena anugerah, iman, dan firman.

Mengambil bagian dalam permenungan tentang tradisi dan makna Ramadan yang mulia bagi saudara-saudara Muslim, serta padanan maknanya dalam tradisi iman beta sebagai seorang penganut Kristen, membuat beta semakin yakin bahwa ada banyak aspek iman yang mengharuskan kita berdiri bersama sebagai sesama saudara. Olehnya tatkala saudara-saudara Muslim menyatakan perang dan bakar-bakaran di bulan Ramadan, sesungguhnya saudara-saudara Kristen wajib menopang dan mengambil bagian dalam perang tersebut. Sama-sama kita berperang dan berjuang keras membakar habis seluruh hawa nafsu kedagingan, yang seringkali menjebak kita untuk berkonflik antara sesama saudara.

”Ale rasa, beta rasa” (apa yang anda rasakan, saya juga turut merasakan), begitulah ungkapan khas kami di Maluku. Terkait dengan makna Ramadan, ungkapan kultural ini mengisyaratkan sebuah tanggung-jawab iman bersama (bukan yang sama) diantara sesama saudara, untuk tunduk dalam-dalam di keharibaan Allah, dan memasrahkan diri seutuhnya kepada belas kasih-Nya. Kita terpanggil bersama sebagai orang bersaudara untuk berperang membakar hawa nafsu berbicara, sehingga tak menyediakan waktu untuk mendengar Allah berbicara.

Kita dituntut untuk membakar hawa nafsu kerakusan akan makanan dan harta, sehingga membuat kita lupa bahwa makanan dan harta adalah anugerah Allah semata yang harus dibagi dengan adil kepada mereka yang berkekurangan. Kita ditantang bersama untuk membakar hawa nafsu akan kuasa, yang sering membutakan kita terhadap Allah sumber segala kuasa. Kita dituntun bersama untuk membakar hawa nafsu menyelamatkan diri sendiri, yang sering membuat kita lupa bahwa keselamatan itu mutlak milik Allah.

Bulan Ramadan dengan sendirinya mengingatkan terhadap hubungan tiga arah antara kita, Allah, dan sesama. Jelasnya, bulan Ramadhan menegaskan siapa kita di hadapan Maha Besar Allah. Sekaligus mengingatkan kita terhadap kepasrahan total kepada Allah sebagai dasar etis dalam hubungan kita dengan sesama.

Pada posisi ini, sebagai pemeluk Kristen beta tersentuh dan terenyuh. Ternyata Allah, Sang Maha Akbar, bisa menggunakan makna Ramadan untuk membuat beta merasa menjadi bagian dari kedalaman arti Islam yang dianut saudara-saudara Muslim. Sebaliknya juga merasakan bahwa saudara-saudara Muslim mendapat tempat dalam keimanan beta sebagai kristiani. Di sini beta tak bisa dengan angkuh menggugat apapun, apalagi membilang bahwa beta yang paling berhak atas kebenaran dan yang lain keliru adanya. Pilihan yang tertinggal hanyalah pasrah sepenuhnya kepada Allah, Sang Pemberi Rahmat, sambil mengucapkan dengan tulus kepada semua saudara Muslim ”Selamat Datang ya’ Ramadhan”.

 

Pdt, Jacky Manuputty, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed