by

Sekum GTM: Gedung GTM Dibakar oleh JN, Jemaat yang Miliki Gangguan Kejiwaan

Kabar Damai | Rabu, 7 Juli 2021

Mamasa | kabardamai.id | Melalui rekaman video yang diterima PGI pada Selasa (6/7), Sekretaris Umum Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Toraja Mamasa (BPMS GTM) Pdt. Yusuf Artha, MTh, menyampaikan fakta yang terjadi dari kasus pembakaran gedung gereja milik Jemaat Gereja Toraja Mamasa (GTM) Batang Uru, Klasis Tabone, di Desa Batang Uru Timur, Kec. Sumarorong, Kab. Mamasa, Sulawesi Barat, pada Sabtu, 26 Juni 2021 lalu.

Diinformasikan, seperti diwartakan laman resmi PGI, ada beberapa bagian yang terbakar seperti satu jendela, satu lemari dalam ruang konsistori didalamnya terdapat dukomen gereja, alat musik organ, serta beberapa bangku yang juga sempat dirusak oleh pelaku.

Menurut Pdt. Yusuf Artha, saat kejadian tersebut Polsek Sumarorong langsung turun ke lokasi dan pada saat itu juga berhasil menangkap pelaku. Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, bahwa pelaku berinisial JN, yang ternyata jemaat Batang Uru sendiri bukan orang dari luar.

“Jadi sekali lagi saya tegaskan, yang membakar bagian-bagian gedung gereja ini ialah atas nama JN jemaat Batang Uru sendiri, bukan orang dari luar,” katanya, dikutip dari pgi.or.id (6/7).

Selain itu, berdasarkan informasi dari pihak kepolisian dan masyarakat setempat, ternyata pelaku JN mengalami gangguan kejiwaan. Hal itu dibuktikan dengan pelaku beberapa kali merusak fasilitas dan barang-barang milik orang lain di kampung tersebut. Pelaku kini sudah ditangkap, dan kasusnya ditangani oleh pihak  Kepolisian Mamasa.

Disampaikan pula, kondisi jemaat di Batang Uru sendiri sangat kondusif. Hal ini terbukti ketika dirinya memimpin ibadah pada Minggu (27/6) di gereja tersebut.

“Artinya bahwa warga jemaat memaklumi, memahami bahwa yang membakar gedung gereja ini ialah warga  jemaat mereka yang mengalami gangguan jiwa. Karena itu warga jemaat tetap dalam keadaan kondusif,” jelasnya.

Baca Juga: Siaran Pers Fakta Pembakaran Gereja GTM dan Ajakan Cerdas Bermedia Sosial

Dia pun menegaskan kembali bahwa sama sekali tidak benar jika ada yang menginformasikan bahwa pelaku pembakaran tersebut dilakukan oleh orang luar.

Pelaku Mengaku Dapat Bisikan dari Mimpinya

Namun, sebelumnya, Satuan Reserse Kriminal Polres Mamasa, Kabupaten Mamasa, Sulbar, berhasil mengungkap pelaku pembakaran gereja di Desa Batang Uru Timur, Kecamatan Sumarorong.

Dilansir dari TribunSulbar (26/6), pelaku pembakaran merupakan warga Dusun Paladan, yang juga merupakan anggota jemaat di gereja itu, yakni Joni.

Identitas pelaku berhasil diungkap, setelah Satreskrim Polres Mamasa melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), dan meminta keterangan dari sejumlah saksi.

Joni, kepada penyidik mengakui telah melakukan pembakaran dan pengrusakan di Gereja Toraja Mamasa (GTM), Jemaat Batang Uru Timur, yang tak jauh dari rumahnya.

Hal itu diungkap Kasat Reskrim Polres Mamasa, Iptu Dedi Yulianto, kepada wartawan saat dikonfirmasi di Polsek Sumarorong, Sabtu, 26 Juni 2021 lalu.

Dedi menjelaskan, berdasarkan hasil interogasi, pelaku mengaku membakar gereja itu setelah mendapat petunjuk lewat mimpinya.

“Keterangan diperoleh dari pelaku bahwa dia melakukan itu karena mendapat mimpi. Dia mimpi didatangi ayah nya yang sudah meninggal pada bulan februari lalu,” terang Dedi Yulianto, dikutip dari tribunsulbar.com.

Dalam mimpinya pelaku mendapat bisikan untuk melakukan pembakaran dan pengrusakan di dalam gereja.

Disebutkan, bahwa sebelum pembakaran, salah seorang warga melihat pelaku bangun dari tidurnya.

Namun tidak dapat dipastikan pelaku hendak ke mana.

“Memang ada petunjuk yang kami temukan mengarah kepada pelaku dan setelah kami interogasi, dia mengakui,” tutur Dedi Yulianto.

Kronologi Kejadian

Dikabarkan sebelumnya, warga Dusun Paladan, Desa Batang Uru Timur, Kecamatan Sumarorong, dihebohkan kejadian tak biasa.

Itu setelah salah seorang warga, mendapati sejumlah barang di dalam konsistori gereja hangus terbakar.

Kejadian ini bermula diketahui Aries (35) dan istrinya. Sebelum ditemukan, Aries mengaku telah mencium bau asap pada dini hari tadi. Saat itu, Aries, baru saja tiba di rumahnya setelah dari Kota Sumarorong.

Setibanya, Aries mengaku mencium bau asap. Ia lalu turun dari motor dan naik ke atas rumah menyalahkan televisi, untuk memastikan adanya korsleting.

Namun setelah menyalakan TV, dia tidak menemukan adanya tanda-tanda korslet. Karena rasa penasaran, ia turun dari rumah mengecek sumber bau itu.

Dia melihat asap di sekitar gereja namun tidak kepikiran bahwa gereja sumber dari bau asap itu.

“Kejadiannya sekitar pukul 1.00 subuh saya pas pulang dari Sumarorong,” ungkap Aries, saat dikonfirmasi di lokasi gereja, sabtu sore.

Tak lama setelahnya, Aries, lalu tidur. Sekira pukul 07.00 wita, Aries dan istrinya bangun dan memberi makan ternaknya yang berada tak jauh dari gereja.

Melintas di samping gereja, diakui Aries, istrinya melihat jendela konsistori gereja sudah terbakar.

“Dia teriak, dia bilang kenapa kayak sudah dibakar ini gereja, saya lari terus saya masuk lewat dari depan, pintu di depan sudah terbuka.

Waktu sampai di dalam, saya masih lihat ada asap baranya pembakaran juga masih panas,” ujar Aries.

Kaget melihat kejadian itu, Aries lalu memanggil ketua majelis dan Kepala Desa. Tak lama kemudian, gereja dipenuhi warga yang menyaksikan kejadian itu.

Beruntung gereja tidak terbakar, namun ditemukan sejumlah barang berupa 2 buah keyboard, 1 mixer, 3 kaca jendela pecah mic wireless serta sejumlah perkakas dapur ludes dimakan api. [pgi/tribunsulbar]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed