Sekuler

Opini185 Views

Oleh Mustafa Husein Baabad

Saya ingat ketika saya mendengar tausiyah dari para ustadz dimasa lalu, bila menyebut sekuler, selalu diiringi dengan konotasi yang jelek dan jahat. Seakan akan manusia jadi Iblis kalau sudah berkenalan dengan Sekulerisme.

Tetapi waktu kuliah di ITB, saya sering membaca buku-buku para founding fathers Negara Amerika Serikat, dan yang paling saya gemari adalah tulisannya Thomas Payne (yang paling berkesan adalah The Age of Reason”). Rupanya banyak sekali pengaruhnya terhadap pemikiran saya.

Baru baru ini saya membaca lagi ringkasan tentang Sekularisme dari “Yuval Noah Harari” dalam buku berjudul  “21 Lessons“, saya merasa perlu sekali saya buat TS tentang ini sebagai imbangan atas mabok nya sebagian kita terhadap agama.

Banyak sekali kaum beragama yang membenci Sekularisme. Menuduh mereka anti Tuhan dan anti agama. Padahal ini adalah tuduhan yg salah, bahkan fitnah.

Sekularisme tidak anti agama dan tidak anti Tuhan dan tidak juga memaksakan menerima Tuhan. Dia netral.

Orang sekuler tetap bisa beragama dan tetap bisa ber Tuhan atau tidak ber Tuhan. Orang sekuler bisa saja hidup sebagai orang Islam, atau orang Kristen, atau orang Hindu, atau Budha, atau bahkan orang Ateis sekalipun.

Jadi apa bedanya?

Kenapa mereka dimusuhi oleh hampir semua para pemuka agama?

Jawabannya adalah: orang sekuler dalam beribadah yang berurusan dengan pribadi, mereka mau menjalankan ajaran agamanya secara murni. Tetapi, ketika berhubungan dengan sesama manusia, mereka mengutamakan kesepakatan bersama. Jadi dalam berhukum, orang sekuler memilih hukum positif yang disepakati bersama.

Mereka juga nyaris mustahil digerakkan untuk tujuan atau gerakan politik. Inilah yg menyebabkan para pemuka agama sangat membenci mereka.  Mereka tetap menjadi orang beragama yang baik, tetapi tidak bisa dibentur benturkan kesana kemari atau dibujuk rayu untuk jadi tentara Tuhan.

No way!

Mereka berprinsip urusan seseorang dengan Tuhan adalah urusan pribadi. Tidak boleh ada siapapun yg mencampuri.

Baca Juga: Ulil Tidak Pernah Berubah

Saya secara pribadi sangat cocok dengan cara pandang ini karena saya “merasakan” begitulah seharusnya seseorang hidup ditengah masyarakat.

Bagi orang sekuler, cara pandang itu adalah cara pandang dunia yang sangat positif dan aktif.

Mereka akan menolak cara pandang dunia seperti yang dianjurkan oleh agama yang kuno, mengekang dan terbukti juga ketinggalan jaman dan tidak membawa kita kemana mana. Orang sekuler tidak mengklaim bahwa kebenaran hanyalah milik mereka.

Tidak ada monopoli kebenaran. Sekuler bukanlah doktrin yg rigid yg harus terus diulang ulang agar terasa benar.

Sekuler adalah cara pandang yang bebas dan sama sekali tidak perlu pengulangan agar terasa seakan akan benar (seperti yang dilakukan oleh kebanyakan ajaran agama).

Satu satunya komitment yang terpenting dalam sekularisme adalah komitment mereka pada Kebenaran (truth) yg didasarkan pada observasi dan bukti dan bukan kepada keyakinan.

Sikap inilah yang membuat gerah sebagian besar pemuka agama yang mendasarkan kebenaran pada keyakinan. Padahal, bagi pandangan sekuler keyakinan bukanlah kebenaran selama itu tidak bisa dibuktikan secara objektif. Pandangan sekuler tidak memulyakan orang tertentu, kitab tertentu, tempat tertentu.

Kalau ada tempat yang harus dikeramatkan; maka Bumi tempat kita hidup inilah yang harus dikeramatkan dan jadi tempat suci.

Kalau ada orang suci yg harus dimulyakan, maka itu adalah “kemanusiaan”, dimana semua manusia menjadi anggotanya.

Komitnent sekularisme pada kebenaran inilah yang memajukan ilmu pengetahuan disegala bidang dan membawa kita maju keperadaban saat ini. Dimana Bumi dengan lega bisa meng akomodasi 8 milyar manusia dan memberi makan mereka secara berkecukupan. Prestasi yang diraih dengan berkembangnya teknologi pertanian yang memungkinkan kita panen beberapa kali dalam setahun, demikian juga dengan rekayasa pertanian yang melahirkan bibit bibit unggul yg tahan hama dan mampu menyesuaikan diri dalam perubahan cuaca.

Kemajuan yang mampu menghadirkan teknologi canggih di rumah rumah orang dengan harga yang sangat murah, memperpanjang harapan hidup manusia dengan berkembangnya pengetahuan anatomi dan fungsi tubuh manusia, dan obat obatan dengan harga yang terjangkau.

Dan masih berderet deret lagi prestasi manusia yang berhasil dikembangkan dengan metoda pengamatan yang objektif. Prestasi yang tidak pernah dicapai oleh  agama selama ribuan tahun.

Komitment yang lain adalah sikap “welas asih” (compassion) yg didasarkan pada penghargaan atas kehidupan. Etika sekuler, tidak tergantung kepada titah Tuhan atau  siapapun.

Sering jadi bahan candaan bahwa diselamatkan oleh orang beragama, bukan benar benar selamat, karena disaat yg lain anda bisa saja dibunuh tanpa perlu anda tahu apa alasannya. Anda bisa dibunuh hanya karena mereka menafsirkan bahwa untuk menyenangkan Tuhan mereka, anda perlu dibunuh. Itu saja. Mungkin karena anda punya keyakinan yang tidak persis sama dengan mereka.

 

(Bersambung)

Oleh Mustafa Husein Baabad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *