Sekuler (Bagian II)

Opini284 Views

Oleh Mustafa Husein Baabad

 

Sering jadi bahan candaan bahwa diselamatkan oleh orang beragama, bukan benar benar selamat, karena disaat yg lain anda bisa saja dibunuh tanpa perlu anda tahu apa alasannya. Anda bisa dibunuh hanya karena mereka menafsirkan bahwa untuk menyenangkan Tuhan mereka, anda perlu dibunuh. Itu saja. Mungkin karena anda punya keyakinan yang tidak persis sama dengan mereka.

Selain komitment kepada kebenaran (truth) dan welas asih (compassion), mereka juga percaya kepada “kesetaraan” (equality).

Meskipun mereka bisa punya pandangan yg tidak selalu sama terhadap rasa keadilan, tetapi itu  bisa diperdebatkan secara terbuka dg hangat, tetapi penderitaan adalah tetap penderitaan tidak peduli siapapun yg mengalaminya.

Kita tidak dapat menggali kebenaran dan menyebarkan sikap welas asih dan menerapkan kesetaraan tanpa “kebebasan” (freedom).

Kebebasan untuk menyelidiki, melakukan experimen dan mendiskusikannya secara terbuka dan bebas.

Orang sekuler menghargai kebebasan selama kebebasannya tidak melanggar hak orang lain. Kebebasan diiringi dg sikap menahan diri atas hal hal yg membahayakan dan mengganggu orang lain. Kebenaran bukan diletakkan pada otiritas tertinggi seperti kitab suci, orang suci, lembaga tertinggi, pemimpin, hakim atau siapapun.

Tidak ada yg berwenang menentukan apa yg baik dan benar selain kesepakatan bersama yg didasari akal sehat dan hati nurani  untuk kebaikan semua. Inipun sifatnya dinamis dan bisa terus dipertanyakan bila keadaan sudah berubah. Bukan sebuah kemutlakan.

Untuk menjaga dan melindungi semua komitment dan kebebasan, maka diperlukan juga “keberanian” (courage). Keberanian diperlukan untuk menghindari kekuatan yg bersifat menindas, baik dari penguasa, otiritas keagamaan maupun dari kelompok mayoritas.  Keberanian diperlukan untuk mengakui ketidak tahuan dan menjelajahi hal hal yg baru.

Pendidikan sekuler mengajarkan orang untuk tidak takut dan tidak malu mengakui ketidak tahuan akan sesuatu dan berusaha mencari pemahaman dan bukti bukti yg baru.

Baca Juga: Sekuler

Orang sekuler menghargai sikap yg “bertanggung jawab” (responsability). Mereka tidak pasrah dan menerima bahwa ada kekuasaan tertinggi yg akan mengurus semua urusan mereka, mengurus dunia, menghukum mereka yg bersalah, memberi hadiah bagi yg bersikap baik dan adil, melindungi kita dari bahaya bencana alam, perang, kelaparan, atau gangguan yg lain. Sebaliknya, kita para manusialah, yg harus melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu untuk menghadapi itu semua.

Kebaikan bukan diukur dari hadiah gaib, tetapi dari sikap bertanggung jawab kita sebagai manusia untuk berbuat baik dan merasakan kepuasan batin dari diri kita sendiri karena kita menunaikan apa yg seharusnya menjadi tugas kita.

Orang sekuler tidak berharap akan mukjizat, tetapi mengambil peran yg lebih aktif atas apa yg bisa kita lakukan untuk merubah keadaan. Orang sekuler bangga atas pencapaian ummat manusia untuk memperbaiki komunikasi antar bangsa, mengatasi pandemi, kelaparan, memperbaiki taraf hidup, menjaga lingkungan, dan menghindari peperangan.

Sekularisme tidak mengingkari adanya Tuhan atau memaksakan keberadaan Tuhan. Orang sekuler tetap bisa jadi orang muslim yang baik, orang kristen yg baik, orang Hindu yg  baik, orang Budha yg baik bahkan juga orang Ateis yg baik. Baik buruknya seseorang tidak ditentukan dari apa yg dia percaya atau tidak percaya. Baik dan buruk nya seseorang hanya dilihat dari apa yg dia lakukan atau apa yg tidak dia lakukan ketika dia mempunyai kemampuan untuk melakukannya.

Ketika nilai agama berbenturan dengan nilai kemanusiaan, maka sikap orang sekuler yg beragama sangat jelas, dia akan mengutamakan nilai nilai sekularisme dari nilai nilai agamanya.

Pendidikan sekuler tidak didasarkan pada doktrin! tetapi pada proses dialektika (hubungan nyata antara sebab dan akibat) yang ditimbang berdasarkan akal sehat dan hati nurani.

Pendidikan sekuler selalu melatih agar seseorang bisa jelas membedakan antara kebenaran dan keyakinan. Kalau seseorang bertanya, apakah Hitler, Mousolini, Stalin itu sekuler?

Tolok ukurnya adalah apakah mereka mempunyai doktrin?

Sekuler tidak menganut sistem doktrin apapun!

Sikap yang tidak mau menerima doktrin inilah yg membuat gerah hampir semua pemuka agama, dari agama apapun juga.

Semoga sistem pendidikan Sekuler bisa dipertimbangkan secara adil dalam dunia pendidikan kita.

Baik pendidikan formal, pendidikan lewat media (berita dan film film), dirumah dan di seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan model begini bisa mencegah dan meredam konflik SARA dinegara yg multi etnis, multi agama, multi ras dan segala macam keaneka ragaman kita sebagai bangsa.

Oleh Mustafa Husein Baabad

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *