by

Perilaku Seksisme, Diskriminasi Terhadap Perempuan

Kabar Damai I Jumat, 05 November 2021

Jakarta I kabardamai.id I Belakangan ini istilah seksisme memang sering kita dengar. Namun masih banyak juga yang belum memahami apa sebenarnya makna dari seksise?

Melansir dari parapuan.co seksisme adalah diskriminasi berdasarkan jenis gender atau keyakinan bahwa laki-laki masih lebih tinggi derajatnya dari perempuan.

Sama seperti rasisme, definisi seksisme itu sendiri, satu kelompok dianggap lebih unggul atau lebih rendah dari kelompok lainnya.

Adapun bentuk seksisme ituKata “seksisme” ini sendiri menjadi dikenal luas selama gerakan pembebasan perempuan atau Women’s Liberation Movement tahun 1960-an. sendiri bermacam-macam bisa berupa ekonomi, politik, sosial, atau budaya.

Pada saat itu, para ahli teori feminis menjelaskan bahwa penindasan terhadap perempuan tersebar luas di hampir semua lapisan masyarakat.

Nah, seksisme di Indonesia sendiri sampai sekarang ini masih terjadi.

Berdasarkan hasil survey PARAPUAN yang bertajuk Pengalaman Perempuan Menerima Ujaran Kebencian, Seksisme dan Misogini.

Survey yang diikuti oleh 397 koresponden perempuan di Indonesia ini membuktikan bahwa masih banyak perempuan menerima perilaku seksisme.

Baca Juga: Bersama Mengenali Jenis Kekerasan Berbasis Gender Online

Dari survey ini, ditemukan bahwa sebanyak 41 persen respoden dari 397 orang mengaku mengalami seksisme ini selama pandemi Covid-19.

Ada berbagai macam bentuk perlakuan seksisme yang diterima para responden, mulai dari perkataan secara langsung, penyataan chating, postingan di media sosial hingga pernyataan di media massa.

Mirisnya, masih dari hasil riset PARAPUAN, seksisme ini banyak dilakukan oleh anggota keluarga korban sendiri nih, Kawan Puan.

Dalam lingkup keluarga, salah satu contoh tindakan seksisme adalah perempuan dibatasi aktivitasnya seperti dalam lingkup pergaulan sosial.

Selain itu, ada pula yang mengaku tidak mendapat dukungan dari keluarga untuk pencapaian pendidikan dan karir karena perempuan dianggap tidak perlu mengutamakan kedua hal itu dibanding urusan domestik.

Dalam lingkup rumah tangga, dampak seksisme ini adalah perempuan yang kerap diharuskan mengerjakan tugas domestik sepenuhnya.

Padahal jika kita melihat masa pandemi ini, di mana banyak pekerja work from home dan anak sekolah melakukan pembelajaran dari rumah, beban domestik tentu bertambah banyak.

Hal inilah yang berpotensi menyebabkan stress yang membuat perempuan lebih tertekan.

Contoh Seksisme di Kehidupan Sehari-hari

Secara tidak sadar, seksisme terjadi di kehidupan sehari-hari. Saking kentalnya, kadang kala, baik laki-laki dan perempuan tidak sadar bahwa mereka sudah seksis terhadap jenis kelamin tertentu. Berikut contoh perilaku seksisme di kehidupan sehari-hari, sebagaimana dilansir dari laman Future Woman:

1. Perempuan diminta melakukan pekerjaan tambahan di kantor Kadang kala, kolega perempuan dimintai tolong untuk mengerjakan dokumen tertentu tanpa bayaran. Di kasus lain, tak jarang diminta membuatkan kopi bagi rekan laki-laki atau ketika ada tamu. Beberapa pekerjaan tambahan ringan dilimpahkan kepada perempuan karena dianggap lebih sesuai untuk dikerjakan mereka.

2. Tekanan untuk menikah Ketika usia sudah beranjak 20-30 tahun, perempuan sering kali ditanya mengenai calon pasangannya dan kapan menikah. Di Indonesia, ada ungkapan ketika mencapai usia tertentu, namun belum juga menikah, maka perempuan dianggap sebagai perawan tua. Kadang kala bernilai negatif, dengan ungkapan “tidak laku”, dan lain sebagainya.

3. Tekanan untuk memiliki anak Jika perempuan sudah menikah pun, tuntutan lingkungan tidak berhenti sampai di situ saja. Perempuan kemudian ditanya-tanya, kapan punya anak. Jika belum juga memiliki anak, maka ungkapan “mandul” lebih banyak dilabeli kepada perempuan daripada laki-laki.

4. Tuntutan kontrasepsi Di kehidupan seksual, perempuan lebih dituntut untuk melakukan kontrasepsi daripada laki-laki. Kehamilan merupakan tanggung jawab perempuan sehingga sering kali laki-laki kurang peduli dengan kontrasepsi yang harus dilakukan perempuan.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed