by

Sekolah Pluralisme Sebagai Wujud Persatuan dan Kesatuan

-Opini-38 views

Oleh: Nur Rohmah

Humanisme merupakan salah satu landasan pokok yang dimiliki oleh umat manusia untuk memuliakan manusia lainnya. Adanya nilai-nilai kemanusiaan dan tingginya moral yang dijunjung oleh umat manusia menjadikan lingkungan yang damai dan sejahtera namun pada faktanya nilai-nilai humanisme belum dimiliki oleh setiap warga negara terutama masyarakat yang belum memiliki peradaban yang maju.

Berangkat dari krisis kemanusiaan yang dialami oleh masyarakat munculah ide untuk membuat kegiatan sekolah pluralisme. Sekolah pluralisme bisa menjadi salah satu cara untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghargai, menghormati setiap orang tidak peduli apa yang mereka yakini.

Isu-isu perpecahan yang pada era modern ini sering disalahpahami oleh masyarakat karena framing media menjadi tantangan terbesar baik masyarakat maupun pemerintah ah untuk menekankan bahwa perbedaan Bukankah hal yang bisa membuat jarak antar umat beragama dan bisa menghapuskan Stigma –Stigma negatif terhadap beberapa agama yang selama ini selalu dicap bahwa setiap pengikutnya adalah teroris karena adanya tindakan ekstremisme dari beberapa oknum

Sekolah pluralisme ini juga bisa menjawab Bagaimana perdamaian bisa di wujudkan dengan memahami bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan dan tindakan anarkisme tidak selalu mencerminkan bahwa ajaran agama sangat ekstrem.

Kecenderungan manusia yang memahami bahwa apa yang dianut menjadi kebenaran mutlak maka manusia akan terus melakukan berbagai cara untuk tetap mempertahankan idealismenya walaupun itu bertentangan dengan sila ke- 2 dan 3 sehingga akan menimbulkan persoalan eksternal yang berlarut-larut

Pemahaman terhadap pluralisme yang terkadang disalahartikan oleh beberapa orang juga harus diluruskan karena inti dari konsep pluralisme adalah memahami dan tidak memaksakan apa yang kita yakini dan tidak menyalahkan apa yang mereka yakini.

Baca Juga: Mohammed Arkoun: Perspektif Teologi Kemodernan

Sehingga acara-acara yang yang bersinggungan langsung dengan pemahaman bahwa konsep pluralisme merupakan landasan pokok bermasyarakat agar terciptanya suasana yang damai. Ada beberapa kegiatan yang akan dilakukan ketika sekolah pluralisme ini terwujud yaitu, pengenalan pluralisme, pentingnya pendidikan damai, mengedukasi masyarakat secara kultural

Kegiatan pertama adalah pengenalan Apa itu pluralisme dan makna pluralisme terhadap umat antar agama, poin penting dari kegiatan pertama ini adalah bagaimana kita sebagai orang yang memahami secara mendalam nilai-nilai pluralisme harus bisa menanamkan kepada masyarakat bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menjalankan apa yang terbaik bagi kehidupannya bukan karena dorongan keluarga lingkungan masyarakat maupun pengaruh media sosial.

Yang paling dasar untuk mengajarkan nilai-nilai pluralisme adalah dengan memberikan contoh dari beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia, misalnya seperti kekerasan atas nama agama dan ini bisa diselesaikan kan dengan cara memahami bahwa agama memiliki aturan dan syariatnya masing-masing tidak bisa dipaksakan untuk sama, karena itu sama saja melawan ketentuan Tuhan.

Target utama dari kegiatan ini adalah anak anak dan remaja karena di usia ini sangat rentan mengalami guncangan iman jika ini tidak diluruskan maka akan menciptakan Pemikiran yang sangat ekstrem yang berujung pada pembantaian umat agama tertentu. Jika ini terjadi maka Indonesia akan semakin kacau dan jauh dari kata damai

Kegiatan kedua adalah pendidikan perdamaian target utama dari kegiatan ini juga masih sama anak-anak dan remaja. Kegiatan ini akan mengajak bagaimana perdamaian difahami dari berbagai golongan masyarakat sehingga perdamaian bisa diwujudkan mulai dari hal-hal kecil di dalam kehidupan. Kegiatan ini ini memiliki goal untuk menanamkan rasa cinta tanah air karena kerusuhan antar agama adalah merupakan konflik yang paling sering terjadi di Indonesia.

Yang ketiga adalah penanaman nilai-nilai perdamaian secara kultural ini merupakan cara yang paling efektif Untuk menjangkau seluruh golongan masyarakat baik dari anak-anak sampai yang lanjut usia. Setiap daerah memiliki kulturnya masing- masing dan ketika kita bisa menjangkau masyarakat dengan budaya- budaya lokal maka mereka tidak akan memberikan stigma kita ingin merubah keyakinan yang mereka miliki.

Pada masyarakat perdesaat presespsi yang masih sangat abu- abu juga masih banyak di temukan misalnya menganggap bahwa yang tidak seormas dengan mereka itu salah atau mudah sekali mengucapkan perkataaan “ kafir terhadap mereka yang non muslim.

Kata kafir memang cenderung sering diucapkan olah umat muslim namun sayangnya mereka memahami agama hanya secara tekstualis. Ini tentunya salah karena sifat  alquran sendiri yamg global dan tidak dapat dìpahami secara teksual saja

Dari persoalan tersebut maka tindakan-tindakan kultural itu sangat dibutuhkan untuk mengedukasi masyarakat misalnya mengadakan pagelaran wayang yang didalamnya memuat cerita-cerita tentang toleransi ataupun dakwah-dakwah secara damai yang dilakukan oleh tokoh-tokoh agama pada masa dahulu, kemudian ketika berhadapan dengan orang-orang yang memiliki sikap fanatisme berlebih terhadap agamanya maka kita bisa menggunakan metode ceramah dengan mengundang orang yang paham dengan pentingnya penanaman nilai-nilai perdamaian di dalam masyarakat. Karena  fanatisme berlebih biasanya censerung lebih mempercayai tokoh pemuka agama.

Yang terakhir adalah membuat agenda Festival budaya, karena masyarakat pedesaan cenderung menyukai hal-hal seperti ini ini. Di dalam festival ini kita bisa menyelipkan beberapa hiburan yang bertajuk toleransi misalnya teater ataupun drama. Bisa juga menambahkan lomba- lomba yang membangun sikap gotong royong. Sehingga masyarakat bisa berbaur satu sama lain tanpa memikirkan latar belakang satu- sama lain.

Nur Rohmah, Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed