by

Sekolah Pemimpin Perempuan: Tingkatkan Kesadaran Gender dan Partisipasi Perempuan dalam Masyarakat

Kabar Damai I Kamis, 19 Agustus 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Memperingati Hari Kemerdekaan ke-76 Indonesia, ICRP menyelenggarakan Refleksi Kemerdekaan RI dengan tema “Menakar Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia Kini dan Mendatang”. Diselenggarakan via virtual zoom. Selasa, (17/8/2021).

Selain para tokoh lintas agama dan keyakinan yang menakar tentang strategi dalam mencapai KBB di Indonesia, turut hadir pula para pegiat keberagaman yang hadir dan membagikan kerja-kerja kemanusian melalui gerakan atau organisasinya. Arniyanti dari Lembaga Gemawan salah satunya.

Diawal pemaparannya, ia menjelaskan tentang Lembaga Gemawan yang telah ada sejak reformasi hingga saat ini.

“Gemawan atau Lembaga Pengembangan Masyarakat  Swadaya dan Mandiri hadir sebagai organisasi sosial yang hadir di Kalimantan Barat khususnya Pontianak pada tanggal 21 April 1999,”.

“Kehadiran Gemawan tidak terlepas dari kondisi objektif yang terjadi pada era reformasi yakni runtuhnya rezim orde baru sehingga Gemawan hadir dan menyukapi berbagai permasalahan yang terjadi,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa sejak berdiri, Gemawan merupakan ruang idealisme pemuda yang bergerak untuk perubahan yang lebih baik.

“Selain itu, Gemawan diinisiasi  oleh beberapa aktivis muda tahun 1998  yang otomatis menjadikan Gemawan sebagai ruang ekspresi idealisme kaum muda yang saat itu melihat realitas sosial disekitar,” tambahnya.

Berbicara tentang kerja baik dalam aspek keberagaman, Arni menuturkan bahwa dalam menghargai keberagaman tidak dilihat dari perbedaan suku dan agama namun juga jenis kelaminnya. Oleh karenanya, dalam kegiatan ini pula Arni menjelaskan tentang Sekolah Pemimpin Perempuan yang digagas oleh Gemawan.

“Sekolah ini merupakan sekolah non formal yang dirancang untuk perempuan-perempuan di Indonesia di pedesaan dan juga di perkotaan,”.

“Tujuannya untuk mengembangkan kesadaran kritis, kepemimpinan perempuan dan dapat berdaya dalam memperjuangkan keadilan gender dan komitmen untuk perubahan sosial. Pilot projek dari SPP sudah dilakukan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat,” tuturnya.

Baca Juga: Mengenal 5 Anggota Perempuan Paskibraka Nasional 2021

Ia juga menjelaskan, dalam menjalankan kerja-kerjanya, Gemawan melakukannya dengan dua pendekatan yaitu berbasis isu dan berbasis wilayah. Strategi besar yang digunakan ialah pengorganisasian basis dan kebijakan serta pengembangan jaringan yang luas.

Dalam proses pendampingan, Sambas menjadi lokasi pendampingan Gemawan yang paling lama dan memiliki keunikan. Hal ini karena sejak tahun 90-an, Kalbar telah berulang kali terjadi konflik sehingga pada saat itu pula Gemawan ikut dalam rekonsiliasi konflik yang mana Sambas menjadi salah satu lokasi terjadinya konflik tersebut.

Gemawan melihat, terdapat ketimpangan dalam konflik yang ada sehingga lembaga ini juga kemudian hadir untuk mencari jalan keluarnya.

“Dari analisa kacamata Gemawan rekonsiliasi konflik ini tidak akan menyembuhkan akar masalah. Salah satu penyebabnya adalah ketimpangan ekonomi, karena itu Gemawan menjadi pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan akses terhadap sumber ekonomi,” beber Arni.

Permasalahan lain yang dihadapi ialah tidak dilibatkannya perempuan dalam pengambilan keputusan atau kebijakan soal SDA dan lingkungan, terlebih di Kalimantan Barat yang memiliki kompleksitas soal SDA, konflik etnis dan sebagainya terjadi disana.

Arni menambahkan, kembali pada SPP, arah yang dilakukan oleh Gemawan ialah guna mencapai kesetaraan gender, perdamaian diseluruh ranah dimulai dari pribadi, keluarga, komunitas dan kerja-kerja advokasi kebijakan pemerintah disemua tingkatan.

“Saya berharap sekali perempuan jadi pemimpin dengan memanfaatkan ruang-ruang publik yang semakin terbuka. Gemawan meyakini sekali bahwa masyarakat yang berbudaya terutama perempuan adalah kunci keberhasilan pembangunan sebuah negara terutama dalam mencapai keadilan bagi semua rakyat,” harapnya.

Hal ini karena, perempuan dapat menjadi aktor dalam perubahan hari ini dan masa mendatang.

“Untuk itu, perempuan yang berdaya menjadi aktor penting dalam mewujudkan pembangunan berkalanjutan terutama diprinsip tak seorangpun boleh ditinggalkan,” pungkasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed