by

Sekolah Adat Arus Kualan: Upaya Sadar Pelestarian Budaya Dayak Kepada Generasi Muda

Kabar Damai I Sabtu, 04 Desember 2021

Ketapang I kabardamai.id I Menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi merupakan keharusan bagi masyarakat. Hal ini karena keduanya saat ini terus mengalami degrasi dan penurunan terutama rasa bangga dalam memilikinya. Hal serupa harus dijadikan sebagai sebuah kesadaran untuk segera ditangani.

Di Kalimantan Barat, budaya Dayak juga perlahan tergantikan oleh perkembangan zaman dan teknologi. Beruntung, upaya untuk terus melestarikan turut dilakukan oleh anak muda sebagai bentuk kecintaan terhadap peninggalan sejak masa lalu. Upaya tersebut diimplementasikan dalam sekolah informal atau pendidikan alternative kebudayaan yang kini dikenal dengan Arus Kualan.

Florentina Sri Dewi Wulandari bersama kakaknya menginisiasi Sekolah Adat Arus Kualan, sekolah ini kini berada di Kabupaten Ketapang, yang bertujuan untuk melestarikan pengetahuan, seni, dan budaya Dayak Simpakng kepada generasi muda. Sebagai gambaran, jarak Pontianak-Ketapang ditempuh 13 melalui perjalanan darat.

Dewi mengungkapkan bahwa krisis identitas menjadi masalah yang rumit sehingga mengembalikan rasa bangga atas identitas yang dimiliki harus dilakukan.

“Permasalahan yang ada di kampung saya adalah kami sebagai orang kampung mengalami krisis identitas. Kepada orang kota, kami malu mengaku sebagai orang kampung karena dianggap tertinggal. Sehingga terputus pewarisan pengetahuan tradisional dari generasi sebelumnya kepada generasi sekarang,” ungkapnya dalam sebuah webinar.

Baca Juga: KPAI Sayangkan Pembatalan SKB 3 Menteri Soal Seragam Sekolah oleh MA

Sakolah Adat Arus Kualan menjaga pengetahuan tradisional, nilai budaya, dan kearifan lokal. Mengajak anak-anak bertanya kepada nenek kakeknya tentang pengetahuan tradisional yang mereka miliki. Dibarengi juga dengan edukasi, literasi, karena kami tidak bisa menolak globalisasi. Apabila tidak dibentengi dengan adat, maka pengetahuan tradisional akan hilang.

“Sehingga setelah berjalannya waktu, kami menyadari bahwa memiliki keistimewaan, walaupun kami berasal dari kampung,” tuturnya.

Program Arus Kualan menerapkan prinsip bahwa semua orang adalah guru. Kami mengajak anak-anak menjaga nilai budaya seperti lagu, musik, tarian, menganyam, lomba permainan tradisional, obat tradisional, dan makanan, memahat dan menggambar, cerita tradisional, melukis motif Dayak. Anak-anak melihat orang tua menyiapkan upacara tradisional.

“Berladang dan menganyam diceritakan lewat tarian. Mereka bukan hanya belajar tari Dayak, melainkan juga tari Melayu. Melukis motif Dayak, tarian Melayu juga,” ujar Dewi.

Lebih jauh, Sekolah Adat Arus Kualan juga kerap mengajak anak-anak membuat film dokumenter, menulis, dan screening film.

“Tiap Sabtu malam kami ada layar tancap yang digilir antar-rumah. Ortangtua juga ikut menonton layar tancap bersama anak-anak,”.

“Pada program yang bertujuan menanamkan cinta lingkungan, setiap tanggal 3 kami menanam pohon. Anak-anak belajar di ladang, sungai, lingkungan sekitar. Mereka dibangun kesadarannya untuk tidak membawa plastik,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed