by

Sejarah Gerakan Feminisme di Indonesia

-Kabar Puan-13 views

Kabar Damai I Selasa, 05 Oktober 2021

Jakarta I kabardamai.id I Feminisme merupakan sebuah pemahaman atau gerakan untuk menciptakan kesetaraan gender, yang mana dapat menjadi pijakan untuk pemikiran, gerakan maupun kebijakan.

Di Indonesia sendiri gerakan feminisme telah muncul sejak zaman kolonial Belanda. Meskipun tak dapat dipungkiri beberapa kali gerakan feminisme mendapat penolakan.

Pada zaman kolonial, RA. Kartini menjadi salah satu tokoh yang sangat berpengaruh bagi perempuan Indonesia pada saat itu, disusul munculnya Dewi Sartika dari Jawa Barat.

Pada tahun 1912 lahir organisasi perempuan pertama bernama Poetri Mardika, hingga pada tahun 1928 tercatat ada 30 organisasi yang muncul.

Dua diantaranya adalah Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII) yang berfokus pada penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Kemudiaan Istri Sedar pada tahun 1930 menyuarakan anti poligami dan perceraian.

Pada tahun ini pula Kongres Perempuan Indonesia pertama diselenggarakan yang dipanitiai oleh Soedjatien, RA. Soekonto, dan Nyi Hadjar Dewantara pada tanggal 22-25 Desember 1928, yang mana tanggal tersebut dikenal dengan Hari Ibu hingga saat ini.

Setelah terselenggaranya kongres tersebut berdiri organisasi Perserikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII), namun tidak semua anggotanya sudah memiliki suami.

Baca Juga: Menilik Ekofeminisme Anak Muda di Daerah

Di masa kependudukan Jepang, terdapat organisasi Serikat Rakyat Istri Sedar dan organisasi Fujinkai. Keduanya berada di bawah pengaruh Jepang sehingga tak heran jika kedua organisasi ini diperuntukkan untuk kemenangan Jepang semata.

Meskipun begitu kedua organisasi ini tetap mengambil peran penting bagi perempuan. Fujinkai misalnya memperjuangkan pemberantasan buta huruf dan berorientasi pada pekerjaan sosial. Pada masa Belanda tahun 1946–1949 perempuan bergabung dengan pasukan bersenjata dan ikut perang gerilya.

Selanjutnya Partai Wanita Rakyat didirikan pada tahun 1948, yang mana pada masa ini isu gerakan politik praktis dimulai, sehingga di tahun-tahun berikutnya pada 1951 dan 1955 organisasi ini mengikuti pemilihan umum. Isu ketenagakerjaan juga menjadi kepedulian gerakan politik praktis, salah satu tokohnya adalah Trimurti. Pada tahun 1954 muncul organisasi Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI) dan pada tahun 1955 Organisasi Perempuan Islam dan Nasionalis.

Pada masa orde baru gerakan perempuan politik praktis dimusnahkan, hingga yang tersisa hanya PERWARI. Tetapi organisasi ini malah dilebur ke dalam Golkar.

Pada masa ini pula organisasi perempuan dikerucutkan menjadi satu alur dengan ideologi gender ibuisme lewat organisasi Dharma Wanita dan Pendidikan Kesejahteraan  Keluarga (PKK). Meskipun tak sedikit organisasi keperempuanan baru, namun bersifat semu atau tak lain pemerintah seolah menguasai masalah yang berhubungan dengan organisasi perempuan.

Akan tetapi pada periode ini pula muncul Convention on the Elimanation of all Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) atau Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.

CEDAW memberi napas baru bagi gerakan perempuan. Melalui CEDAW ini beberapa organisasi feminisme mulai berdiri,salah satunya pada tahun 1985 muncul organisasi Kalyanamitra yang mengusung isu seksualitas dan penghapusan kekerasan.

Berlanjut pada era reformasi atau pasca jatuhnya Presiden Soeharto pada tahun 1998 berbagai organisasi serta tokoh wanita bermunculan. Seperti organisasi Suara Ibu Peduli yang membela hak anak, kemudian Ratna Sarumpaet pejuang demokrasi dan hak buruh perempuan lewat organisasi teaternya.

Dan puncaknya adalah berdirinya Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada Oktober 1998, yang eksistensinya masih sangat terasa hingga saat ini.

Berbagai undang-undang serta peraturan pemerintah berspektif feminisme lahir, tak lain karena banyaknya organisasi perempuan yang berdiri. Kemudian pada tahun 2010 gerakan feminis memperluas defenisi tentang gender non maskulin dan isu seksualitas.

Bahkan organisasi feminisme juga beradaptasi dengan teknologi informasi, salah satunya adalah situs web Magdalene.co. Meskipun feminisme telah berkembang banyak dari masa ke masa tak dapat dipungkiri masih ada beberapa permasalahan masa lalu yang belum terselesaikan atau bahkan masalah yang semakin hari justru semakin kompleks.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed