Sedikit tentang Burma dan Myanmar

Opini978 Views

Jakarta | kabardamai.id | Ini soal lain tentang Burma dan Myanmar. Ada beberapa teman yang menjadi bagian dari demonstran saat ini, dan salah satu temen dikabarkan ikut ditangkap aparat di sana. Jadi kepikiran soal Burma (orang sana membacanya Bama) dan Myanmar (orang sana membacanya Myanma. R-nya menguap).

Saya berteman dengan beberapa aktivis dari beberapa negara bagian di Myanmar. Karen, Karenee, Shan. Sebagian tinggal di pengungsian karena sampai hari ini tidak mau mengakui Junta Militer sebagai pemerintahnya. Sebagian malah mantan combattan yang berperang gerilya melawan junta militer di negara bagiannya masing-masing. Saya pernah 3,5 bulan tinggal bersama sebagian dari mereka dalam satu Ashram.

Mungkin sampai hari ini, pasukan gerilya yang tinggal di hutan-hutan masih ada. Teman-teman saya yang mantan gerilyawan adalah yang sekarang berjuang untuk para pengungsi dan perjuangan damai melawan pemerintah Junta.

Rata-rata mereka juga bukan bagian dari barisan perjuangan Aung San Suu Kyi, karena mereka menganggap Suu Kyi tidak sedang memperjuangkan kepentingan mereka, dan Suu Kyi adalah putri dari Jendral Aung San, salah satu aktor yang dianggap melakukan klaim sepihak dan manipulatif bahwa beberapa negara bagian itu adalah bagian dari Burma waktu itu. Meski jika Suu Kyi memimpin Myanmar nasib mereka mungkin akan berubah, namun kepentingan utama mereka bukan di situ.

Nah, karena gerilyawan bersenjata di beberapa negara bagian ini tak kunjung bisa “dihabisi” oleh Junta dan kekeuh dengan perlawanannya, pada tahun 1989 pemerintah Junta mengganti nama negara Burma menjadi Myanmar. Memang ini menjadi salah satu isu perlawanan penting di beberapa negara bagian.

Nama Burma diambil dari suku dominan terutama di Yangoon dan sekitarnya. Karena itu, ketika digabung menjadi satu negara Burma, masyarakat Shan, Karen, Karenee dan beberapa negara bagian lainnya merasa di-Burma-kan. (Bayangkan kalau Indonesia dulu nema negaranya “Jawa”, orang-orang non Jawa dengan mudah akan membangun narasi perlawanan untuk meolak di-Jawa-kan).

Nah, penggantian nama Burma menjadi Myanmar secara umum memang berpengaruh pada mereka. Ketika kita bicara sama mereka, kira-kira mereka akan menegaskan: I’m not a Burmese. And I don’t want to be a Burmese. Kalau disebut berasal dari Myanmar atau orang Myanmar, mereka masih bisa terima.

Meskipun ada kontroversi lain soal pergantian nama ini yang tidak diterima oleh Amerika dan Inggris waktu itu, karena mereka tidak mengakui Junta Militer.

Nah, saya pengen ngomong itu aja, bahwa sebagian dari temen-temen saya itu sensitif jika disebut sebagai “orang Burma”. Meskipun, secara umum dua kata itu secara internasional juga digunakan.

Anick HT, aktivis kebebasan beragama

 

Baca Juga : Komunitas Internasional Kecam Kasus di Myanmar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *