by

Sayuti Melik, Tokoh di Balik Teks Proklamasi

Kabar Damai I Selasa, 17 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Mohamad Ibnu Sayuti atau lebih dikenal sebagai Sayuti Melik. Dialah yang mengetik naskah proklamasi setelah konsep disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo.

Seperti apa perjalanan hidup dan biografi Sayuti Melik hingga jadi saksi kemerdekaan Indonesia? Berikut ulasan IDNTimes (16/8) untuk kita semua.

  1. Jiwa nasionalisme Sayuti Melik telah tertanam sejak kecil

Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta, 22 November 1908. Ia anak dari pasangan Abdul Mu’in (Partoprawito) seorang bekel jajar atau kepala desa di Sleman dan Sumilah. Sayuti memulai pendidikannya di Sekolah Ongko Loro (Setingkat SD) di Desa Srowolan, sampai kelas IV dan diteruskan sampai mendapat Ijazah di Yogyakarta.

Nasionalisme telah ditanamkan oleh ayahnya sejak kecil. Saat itu, ayahnya menentang kebijaksanaan pemerintah Belanda yang menggunakan sawahnya untuk ditanami tembakau.

Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink. Pada usia belasan tahun itu, ia tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri. Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan. Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme.

  1. Sayuti Melik kerap ditahan karena menulis tentang politik

Sayuti kerap menulis tentang politik. Akibatnya, ia ditahan berkali-kali oleh Belanda. Pada 1926, ia ditangkap Belanda karena dituduh membantu PKI dan selanjutnya dibuang ke Boven Digul (1927-1933). Tahun 1936 ditangkap Inggris, dipenjara di Singapura selama setahun. Setelah diusir dari wilayah Inggris, ia ditangkap kembali oleh Belanda, dibawa ke Jakarta dan dimasukkan sel di Gag Tengah (1937-1938).

Sepulangnya dari pembuangan, Sayuti berjumpa dengan SK Trimurti dan terlibat dalam berbagai kegiatan pergerakan secara bersama. Akhirnya, pada 19 Juli 1938 mereka menikah.

Baca Juga: Ni Loh Gusti Madewanti, Founder DROUPADI yang Care Isu Perempuan

Sayuti dan SK Trimurti mendirikan Koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu dengan tiras 2 ribu eksemplar. Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.

Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda. Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID). Pada zaman pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.

  1. Sayuti Melik tergabung sebagai anggota PPKI

Perkenalan Sayuti Melik yang pertama dengan Sukarno terjadi di Bandung pada 1926. Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Sukarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Kiai Mas Mansoer. Saat itu, Sukarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa.

Pada 7 Agustus 1945, dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai Sukarno, menggantikan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang dibubarkan cepat. Anggota awalnya adalah 21 orang. Selanjutnya tanpa sepengetahuan Jepang, keanggotaan bertambah 6 orang termasuk di dalamnya Sayuti Melik.

  1. Sayuti Melik terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok
Peristiwa Rengasdengklok

Sayuti Melik termasuk dalam kelompok Menteng 31, yang berperan dalam penculikan Sukarno dan Hatta pada 16 Agustus 1945. Para pemuda pejuang, termasuk Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, bersama Shodanco Singgih, salah seorang anggota PETA, dan pemuda lain, membawa Sukarno (bersama Fatmawati dan Guntur yang baru berusia 9 bulan) dan Hatta, ke Rengasdengklok. Tujuannya adalah agar Ir. Sukarno dan Moh Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang.

Di sini, mereka kembali meyakinkan Sukarno bahwa Jepang telah menyerah dan para pejuang telah siap untuk melawan Jepang, apa pun risikonya. Di Jakarta, golongan muda, Wikana, dan golongan tua, yaitu Mr Ahmad Soebardjo melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Sukarno dan Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Mr Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan.

  1. Sayuti Melik mengetik teks proklamasi

Konsep naskah proklamasi disusun oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Achmad Subardjo di rumah Laksamana Muda Maeda. Wakil para pemuda, Sukarni dan Sayuti Melik. Masing-masing sebagai pembantu Bung Hatta dan Bung Karno ikut menyaksikan peristiwa tersebut.

Setelah selesai, pada dini hari 17 Agustus 1945, konsep naskah proklamasi itu dibacakan di hadapan para hadirin. Namun, para pemuda menolaknya. Naskah Proklamasi itu dianggap seperti dibuat oleh Jepang.

Dalam suasana tegang itu, Sayuti memberi gagasan agar Teks Proklamasi ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta saja, atas nama bangsa Indonesia. Usulnya diterima dan Bung Karno pun segera memerintahkan Sayuti untuk mengetiknya. Ia mengubah kalimat “Wakil-wakil bangsa Indonesia” menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”. [idntimes.com]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed