by

Satire Pemimpin dan Kebodohan Masyarakat

Kabar Damai I Selasa, 14 September 2021

Jakarta I kabardamai.id I Suatu malam, seekor babi tua, Major bermimpi tentang kemerdekaan yang bisa diraih oleh para binatang tanpa harus tunduk menjadi budak manusia. Keesokan harinya ia langsung mengumpulkan seluruh hewan yang ada di peternakan untuk mengumumkan beberapa hal penting, salah satunya adalah mimpi yang ia alami. Seluruh hewan mendengar dengan seksama, meski kebanyakan hanya mendengarkan saja tanpa paham isinya.

Beberapa hari berselang, si tua Major mati. Kehidupan di peternakan berjalan seperti biasanya. Namun, para babi mulai memikirkan apa yang telah disampaikan oleh Major dan setuju akan kemerdekaan yang bisa diraih oleh para binatang. Para babi, yang dipimpin oleh Napoleon dan Snowball mengumpulkan seluruh hewan di peternakan untuk menyampaikan pendapat mereka. Di malam itu, para babi berhasil menyampaikan aspirasinya untuk memperjuangkan sebuah kemerdekaan yang akan dicapai oleh seluruh binatang di peternakan.

Singkat cerita, terjadilah pemberontakan para binatang kepada manusia. Pemilik peternakan, pak Jones dan para karyawannya berhasil diusir dari peternakan. Dengan sorak sorai, para Binatang merayakan kemerdekaan mereka. Mereka menyanyikan lagu Binatang Inggris tanpa henti dan menaikkan bendera hijau dengan lambang gading dengan penuh rasa bangga. Hari-hari berlalu, para binatang tetap bekerja seperti biasanya. Dan disinilah para Babi dan Anjing mulai bertindak sebagai pemimpin.

Awalnya harapan hidup yang lebih baik dan bahagia yang disampaikan oleh para Babi cukup terealisasikan. Hingga, proyek Kincir Air menjadi sebuah polemik yang sangat hangat di peternakan. Para hewan bekerja dua kali lebih keras dari biasanya, jatah makanan dikurangi, Babi duduk santai seenaknya dengan dalih, ‘kami para babi telah Lelah bekerja dengan otak, sedangkan kalian dengan otot’, Anjing pun makin setia kepada Babi.

Animal Farm adalah sebuah novel alegori politik yang ditulis oleh George Orwell pada masa perang dunia kedua. Menurut penulis, buku ini merupakan satire terhadap sikap, perlakuan, polemik yang terjadi pada sebuah tatanan negara, baik pemimpin, masyarakat, Undang-Undang dan sebagainya. Tokoh-tokoh yang digambarkan sebagai binatang pun menambah sisi sindiran semakin kuat, seperti Babi dan Anjing yang menjadi pemimpin, para hewan lainnya yang menjadi masyarakat dengan strata sosial yang bermacam-macam.

Baca Juga: Belajar Mencintai Diri Sendiri dengan Menghargai Diri

Penokohan pun sangat tepat. Kita dibuat bingung karena sulit untuk memfavoritkan salah satu tokoh, sebab setiap tokoh punya kelebihan dan kekurangan. Seperti Kuda Jantan, Boxer, ia kuat, besar, rajin bekerja, tapi ia bodoh. Benjamin, seekor keledai yang bisa baca-tulis, pintar, namun apatis. Napoleon, seekor Babi yang sangat pintar, brilian, namun sangat licik sebagai pemimpin.

Novel ini sangat sarat akan hiburan dan ajaran. Disatu sisi, ketika membaca kita seperti diberi tahu tentang kenyataan yang terjadi saat ini dan sangat berhubungan dengan isi dalam Animal Farm. Banyak ajaran pula yang dapat diambil dari novel dengan tebal 142 halaman ini. Dari segi penulisan, Animal Farm sangat ringan untuk dibaca.

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari buku ini. Di dalam Animal Farm digambarkan para hewan yang tidak bisa baca-tulis yang akhirnya berimbas pada kesewenangan para Babi membuat aturan. Melihat kondisi kehidupan saat ini dengan masyarakat yang sudah bisa baca-tulis, maka saatnya kita harus lebih paham akan banyak hal, peka pada kondisi sosial dan negara agar tidak terjadi kesewenangan para pemimpin layaknya Babi di Animal Farm.

Judul Buku      : Animal Farm

Penulis             : George Orwell

Penerbit           : Bentang Pustaka

Penerjemah     : Prof. Bakdi Soemanto

Tahun Terbit   : Edisi II Cetakan Kedelapan, Agustus 2019

Tebal Buku     : 142 Halaman

ISBN               : 978-602-291-282-8

 

Peresensi: Awla Rajul

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed