by

Satgas Covid-19, NU dan Muhammadiyah: Salat Idul Adha di Rumah Masing-masing

Kabar Damai I Senin, 19 Juli 2021

Jakarta I kabardamai.id I Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengeluarkan aturan terkait pelaksanaan peribadatan dan tradisi Hari Raya Idul Adha 2021. Dalam aturan itu ditegaskan kalau kegiatan peribadatan ditiadakan di wilayah PPKM Darurat dan wilayah non PPKM Darurat berzona merah dan oranye.

Masyarakat yang berada di wilayah tersebut dipersilahkan untuk beribadat di rumah masing-masing. Aturan itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 15 Tahun 2021 terkait pembatasan aktivitas masyarakat selama Iduladha 1442 Hijriah.

Kebijakan tersebut, melansir suara.com (17/7),  mulai berlaku pada 18-25 Juli 2021.

Baca Juga: Muhammadiyah Tiadakan Sholat Idul Adha di Masjid, Bukan Tanda Akhir Zaman

“Terkait pembatasan kegiatan peribadatan dan tradisi selama hari raya Iduladha itu kegiatan peribadatan atau keagamaan di daerah yang menerapkan PPKM Darurat, PPKM Mikro dan wilayah non PPKM Darurat namun berzona merah dan oranye, ditiadakan dan dikerjakan di rumah masing-masing,” kata Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers secara virtual, Sabtu, 17 Juli 2021.

Sementara untuk wilayah di luar yang telah disebutkan bisa menggelar kegiatan ibadat berjemaah. Adapun syarat yang harus dipatuhi ialah kapasitas di dalam rumah ibadat maksimal 30 persen dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat.

Wiku lanjut menjelaskan terkait tradisi silahturahmi yang biasa dilakukan masyarakat muslim saat merayakan hari raya, kini dapat dilakukan secara virtual. Itu diupayakan guna mengurangi penularan virus.

Selain itu, fungsi posko desa atau kelurahan yang telah terbentuk dikatakan Wiku akan dioptimalkan guna menegakkan imbauan serta sanksi yang berlaku.

Lebih lanjut, aturan baru Satgas Penanganan Covid-19 itu juga mengatur soal pembatasan di tempat wisata. Tempat wisata yang berada di wilayah Jawa dan Bali dipastikan untuk tutup sementara. Untuk tempat wisata di wilayah PPKM Mikro juga diperketat.

“Sedangkan untuk daerah lainnya yang tidak termasuk dalam cakupan daerah tersebut dapat beroperasi dengan kapasitas maksimal 25 persen,” imbuhnya.

Muhammadiyah: Salat Idul Adha di Rumah Masing-masing

Sebelumnya, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah mengeluarkan surat edaran di masa pandemi virus Corona (COVID-19). Muhammadiyah mengimbau agar pelaksanaan salat berjamaah dan Salat Idul Adha di masjid dan fasilitas umum ditiadakan sementara.

Melansir detik.com, Surat Edaran tersebut bernomor 05/EDR/I.0/E/2021 tentang Imbauan Perhatian, Kewaspadaan, dan Penanganan COVID-19, Serta Persiapan Menghadapi Idul Adha 1442 H/2021 M. Surat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Haedar Nashir, dan Sekretaris Agung Danarto pada 2 Juli 2021. Ada 9 poin imbauan yang dikeluarkan, diantaranya soal salat berjamaah di masjid, dan pelaksanaan Salat Idul Adha.

Pada poin 4, Muhammadiyah mengimbau ada pembatasan kegiatan di masjid dan musala. Tindakan itu, disebut sebagai bentuk kehati-hatian.

“Sebagai langkah pencegaan sebagai bagian dari kehati-hatian mencegah kemudaratan yang lebih besar akibat tingginya kasus positif COVID-19, masjid dan musala untuk sementara waktu agar dinonaktifkan terlebih dahulu dari segala aktivitas yang meliatkan jamaah,” tulis edaran Muhammadiyah tersebut seperti dilihat detikcom, Jumat (2/7/2021).

Ibadah di masjid yang dilaksanakan berjamaah, hendaknya dilaksanakan di rumah. Kemudian, ada perubahan pada kalimat yang diucapkan saat azan di masjid.

“Segala ibadah, baik yang sunah maupun fardu yang melibatkan jamaah, hendaknya dilaksanakan di rumah. Azan sebagai penanda masuknya waktu salat tepat dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib dengan mengganti kalimat ‘hayya alas-salah,’ dengan ‘sallu fi rihalikum,’ atau lainnya sesuai dengan tuntutan syariat,” katanya.

Pada poin 9, terdapat imbauan khusus terkait pelaksanaan Idul Adha 1442 Hijriah. Seperti larangan takbir keliling, hingga Salat Idul Adha di rumah.

PBNU Minta Warga di Area PPKM Darurat Tak Salat Idul Adha di Masjid-Lapangan

Senada dengan  Muhammadiyah, PBNU menerbitkan Surat Edaran mengenai PPKM darurat dan pelaksanaan salat Idul Adha. PBNU meminta agar pelaksanaan salat Idul Adha di kawasan PPKM darurat tak digelar di Masjid.

“Di daerah-daerah yang dinyatakan aman dari COVID-19 (zona hijau) oleh pemerintah setempat dan satgas COVID-19 dapat melakukan salat Idul Adha 1442 H di Masjid/Mushala dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan disiplin. Adapun dareah-daerah yang ditetapkan masuk dalam PPKM Darurat atau daerah dinyatakan tidak aman dari COVID (zona merah, zona oranye, zona kuning) maka salat Idul Adha 1442 H tidak dilaksanakan di Masjid/Mushala atau lapangan,” demikian isi SE PBNU, seperti dilihat Rabu (14/7/2021).

Hal senada berlaku untuk takbiran. Takbiran di masjid hanya dianjurkan untuk di wilayah yang dinyatakan aman dari Corona. Sementara di kawasan PPKM darurat atau zona merah tidak dianjurkan untuk takbiran di masjid atau musala.

“Takbiran di rumah masing-masing bersama keluarga,” tulis PBNU.

PBNU juga mengimbau warga NU yang memiliki kemampuan finansial agar mendonasikan dana untuk dibelikan hewan kurban yang nanti guna membantu warga terdampak Corona.

Selain itu, PBNU berharap pemerintah meningkatkan sosialisasi terkait Corona, terutama risiko terhadap anak-anak yang rentan tertular. PBNU meminta pemerintah memperhatikan serius ke anak-anak yang terpapar COVID-19.

Kemenag Gandeng Ormas Islam Imbau Warga Tak Mudik Idul Adha

Kementerian Agama (Kemenag) Yaqut Cholil Qoumas berkoordinasi dengan ormas Islam untuk mengimbau masyarakat untuk tidak mudik idul Adha. Hal ini dikarenakankan dapat memicu penyebaran covid 19.

Menag Yaqut juga menambahkan telah menerbitkan dua surat edaran terkait hari raya idul adha yaitu Surat edaran Menag No SE 17 tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di tempat Ibadah, Malam Takbiran, Salat Iduladha, dan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Qurban 1442 H/2021 M di Wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Melansir okezone.com, Menag menjelaskan, setidaknya ada tiga poin pokok yang diatur dalam SE 17/2021. Pertama, kegiatan peribadatan di rumah ibadah semua agama yang berada pada wilayah Zona PPKM Darurat, ditiadakan sementara. Kedua, penyelenggaraan malam takbiran di masjid/musala, takbir keliling, serta penyelenggaraan Salat Iduladha di masjid/musala yang berada pada wilayah Zona PPKM Darurat, ditiadakan sementara.

Ketiga, lanjut Menag, SE 17/2021 mengatur petunjuk teknis pelaksanaan kurban. Misalnya, dilakukan sesuai syariat Islam dalam rentang waktu yang tersedia (11 – 13 Zulhijjah) agar tidak terjadi kerumunan. Pemotongan hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia atau di luar RPH-R dengan menerapkan protokol kesehatan, baik petugas maupun pihak berkurban, serta memastikan kebersihan alat.

Kemudian Surat edaran No SE 16 tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Malam Takbiran, Salat Iduladha, dan Pelaksanaan Qurban 1442 H di luar wilayah PPKM.

“Semua yang dilakukan pemerintah semata-mata untuk melindungi jiwa masyarakat sekali lagi tidak ada melarang orang beribadah. Justru pemerintah menganjurkan umat muslim untuk semakin banyak beribadah supaya terlepas dari pandemi covid 19,” urainya.

Ia berharap masyarakat dapat ikut berkerjasama dengan pemerintah guna mengurangi lonjakan kasus covid-19 di Indonesia.

“Mudah-mudahan bisa disambut baik masyarakat, sehingga ada kerjasama pemerintah dan masyarakat dalam menurunkan covid 19 di Indonesia,” harapnya. [suara.com/detik/okezone]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed