by

Sarung Kanjeng, Perpaduan Nilai Tradisi dan Unsur Kontemporer

Kabar Damai  | Selasa, 13 Juli 2021

Pekalongan | kabardamai.id | Sekelompok anak muda di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, berinisiatif memopulerkan sarung batik dengan desain retro kontemporer. Hal itu diwujudkan lewat jenama Sarung Kanjeng yang mereka kelola.

Diproduksi dengan teknik tradisional buatan tangan, Sarung Kanjeng menawarkan konsep sarung yang tidak melulu identik dengan kaum santri. Alih-alih demikian, sarung ditujukan sebagai pakaian sehari-hari (daily outfit) bagi publik yang lebih luas.

Melansir Republika (12/7), manajer kreatif Sarung Kanjeng, Ma’ruf Al-Haddad, berpendapat selama ini sarung batik kerap diidentikkan dengan busana kaum santri atau pakaian untuk beribadah. Sarung Kanjeng hadir demi mendobrak cara pandang konvensional itu.

Baca Juga: HMI dan GMKI Sumut Bersatu Bumikan Pancasila, Perkokoh NKRI

“Jadi sarung batik tidak hanya dipakai pas sholat atau di kawasan pesantren saja. Bisa juga untuk ke kafe atau warung kopi,” ungkap Ma’ruf lewat pernyataan resminya yang diterima Republika.co.id.

Meskipun sarung batik merupakan produk tradisi, namun dalam opininya tetap harus diinovasikan sesuai tren busana anak muda zaman sekarang. Ma’ruf menyampaikan, hal itu menjadi visi dari Sarung Kanjeng.

Ma’ruf pun menjabarkan keunggulan produk Sarung Kanjeng. Bahan kain yang lentur dengan kualitas premium membuat Sarung Kanjeng nyaman dipakai sepanjang hari, baik oleh laki-laki maupun perempuan. Desain motif kontemporer juga dapat dipadu-padakan dengan gaya kekinian anak muda.

Sarung Kanjeng terus menyesuaikan tren desain masa kini dan mengembangkan coraknya secara inovatif. Terobosan itu agar sarung batik yang selama ini memiliki corak dan motif paten dari generasi ke generasi mampu melampaui kesan kuno.

“Anak-anak muda harus didorong agar berani mix and match gaya sarung batik dengan sepatu sporty atau kostum trendi,” kata Ma’ruf. Ke depan, Sarung Kanjeng ingin terus mengembangkan desain yang berangkat dari narasi tradisi dan inspirasi nilai-nilai kehidupan.

Jenama sarung batik yang dirintis sejak 2018 itu sudah menghasilkan ratusan motif desain. Selama beberapa tahun perkembangannya, Sarung Kanjeng telah berkolaborasi dengan dua kreator, yakni Sarah Monica dan Sugito Ha Es.

Inovasi Melawan Pakem

Kolaborasi ini dilakukan dengan semangat melawan ‘pakem’. Dimana selama ini motif pakem menjadikan kain atau sarung batik identik sebagai produk tradisi.

Akan tetapi, demi mengangkat keistimewaannya sarung batik harus mampu merespons perkembangan tren desain.

Melalui wawacara telepon yang dilakukan Tribunnews.com, Sarah Monica yang sedang menempuh studi di Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia menceritakan filosofi dari salah satu desain hasil kolaborasinya.

“Desain pertama hasil kolaborasi saya dengan Sarung Kanjeng adalah ‘Transenden’. Saya buat di pertengahan 2020 sebagai respons saya terhadap situasi pandemi Corona yang meluluhlantakkan semua segi kehidupan kita,” ujar Sarah, Jumat, 9 Juli 2021.

Sebagaimana karya seni, sebuah desain atau motif batik merupakan hasil kontemplasi dari penciptanya dalam memaknai suatu pengalaman hidup tertentu.

Sebagaimana karya seni, sebuah desain atau motif batik merupakan hasil kontemplasi dari penciptanya dalam memaknai suatu pengalaman hidup tertentu.

Sarah Monica menuliskan renungannya yang menjadi kandungan filosofis dari karya ‘Transenden’ itu sendiri.

“Dibandingkan makhluk Tuhan lainnya manusia dianugerahi karunia akal, rasa, dan kehendak ketiganya harus berjalin dalam keseimbangan demi mencapai hakikat tertinggi sebagai manusia,” kata dia.

Sarah menjelaskan transenden adalah kondisi seimbang antara akal-rasa-kehendak level ketenangan melalui penyerahan diri yang berupaya melampaui batasan-batasan manusiawi karena nafsu keinginan tak terkendali.

“Berniatlah dengan kemurnian melangkahlah dengan penuh kesadaran dan biarkan semesta mengajarkanmu ketundukan, itulah dirimu yang bertransenden,” ungkapnya.

Sarah menegaskan melalui motif tersebut, dirinya ingin menyampaikan rencana Tuhan akan selalu berada di depan rencana manusia.

“Melalui motif Transenden, saya ingin menyampaikan bahwa apapun rencana manusia pada akhirnya semua akan tunduk pada rencana Tuhan. Ya contohnya wabah Corona ini,” tegas Sarah. [republika/tribunnews]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed