by

Saprahan, Tradisi di Kalbar Sarat Nilai Karakter dan Toleransi

Kabar Damai I Kamis, 17 Juni 2021

Sambas I Kabardamai.id I Sebagai negara yang luas dan terbentang dari Sabang hingga Merauke, Indonesia menyimpan berbagai ciri khas dan juga keberagaman yang berlimpah. Manusia, alam, budaya hingga tradisi yang ada menampilkan keanekaragaman yang kaya.

Kalimantan Barat, khususnya Kabupaten Sambas memiliki tradisi saprahan yang masih sangat terjaga serta terus dilestarikan dari dahulu hingga saat ini. Tradisi ini sangatlah sarat akan makna yang positif terhadap nilai-nilai karakter dan juga toleransi.

Saprahan merupakan tradisi dalam masyarakat Melayu Sambas yang penamaannya diambil dari bahasa Arab. Tradisi ini dilakukan dengan cara makan bersama dengan saling berhadapan dengan cara bersila. Menurut kepercayaan, tradisi ini mengandung makna sopan santun dan juga kebersamaan yang tinggi. Lebih mudah dipahami dengan “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi,”.

Tradisi saprahan memang lekat dengan masyarakat Sambas. Namun karena nilai-nilai baik yang terdapat didalamnya membuat banyak wilayah di Kalimantan Barat juga turut ikut melaksanakannya, diantaranya Pontianak, Singkawang, Mempawah dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Merasakan Atmosfer Majapahit di Kampung Thintir

Dalam proses pelaksanaan tradisi saprahan ini, masyarakat akan duduk bersila secara berhadapan. Setelahnya, mereka akan menyantap makanan yang disajikan secara bersaprah dengan berbagai menu yang disajikan seperti nasi, lauk pauk dan juga sayur. Biasanya, tradisi ini dilaksanakan bersamaan dengan perayaan hari besar, pesta pernikahan atau tahlilan dan lain sebagainya. Si punya hajat akan akan mengundang masyarakat untuk datang kerumahanya guna melaksanakan saprahan bersama.

Tradisi saprahan dalam masyarakat Sambas sangatlah erat kaitannya dengan budaya gotong royong. Biasanya, saat akan dilaksanakan saprahan, masyarakat akan bahu membahu saling menolong mempersiapkan hidangan dan tempat pelaksanaan. Hal serupa juga telah terjadi dari zaman kerajaan hingga saat ini.

Nilai-nilai Islam juga sangat kentara pada tradisi ini, khususnya rukun iman dan juga rukun Islam. Seperti diketahui bersama, terdapat enam rukun iman dan juga lima rukun Islam. Dalam konteks saprahan, masyarakat yang menyantap menu saprahan akan duduk bersila dengan jumlah enam orang, hal ini menandakan enam rukun iman dan menu yang disajikan dalam lima wadah, ini menandakan lima rukun Islam.

Nilai karakter dan toleransi dalam saprahan juga jelas tampak dalam pelaksanaannya. Ketika menyantap hidangan yang telah disiapkan, tidak ada perbandingan latar belakang dan status sosial dalam pelaksanaannya. Semua tumpah ruah bersama menikmati makanan secara bersama-sama.

Masyarakat Sambas menyadari selain sebagai bentuk tradisi turun temurun, saprahan menyimpan banyak hal baik yang terkandung didalamnya. Oleh karenanya, tradisi ini senantiasa selalu dilestarikan dan selalu dilaksanakan dalam berbagai acara disana.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed