by

Santun Beragama Melalui Kampung Bhineka

-Opini-6 views

Oleh: Alfi Nuril Hidayati

Agama merupakan sebuah hal yang menjadi bagian integral dalam kehidupan kita. Agama snediri terhimpun dari kesadaran kognitif tentang penghayatan terhadap sang adi kodrati. Lebih jauh lagi Yuval dalam bukunya sapiens menyebutkan bahwa agama hanya sebagai sebuaha rekayasa situasi dimana saat manusia telah berhasil merekayasa lingkungannya namun mereka gagal dalam mengakomodir segala keperluan seperti hujan,tornado hingga bencana yang kerap menerpa mereka.

Maka kebutuhan akan agama merupakan sebuah hal yang fundamental dalam diri manusia guna merefleksikan tentang ketidakmampuan manusia terhadap alam sekitarnya. Disisi lain definisi agama juga diberikan oleh beberapa tokoh-tokoh yang lain dengan pemaknaan yang berbeda-beda pula. Ada yang menafsirkan bahwa agama merupakan halusinasi manusia terhadap kondisi psikisnya seperti yang dikatakan oleh Sigmund Freud adappula yang mengatakan bahwa agama merupakan sebuah kesadaran komunal yang terbentuk karena keperluan untuk menghimpun stabilitas hidup seperti yang dikatakan oleh Durkheim dalam bukunya The Elementary Of Relegion.

Terlepas dari itu semua peran agama dikehidupan masyarakat kita, merupakan sebuah jatidiri yang bersifat fundamental dan acapkali tidak dapat diperdebatkan. Karena kefundamentalan agama inilah, seringkali agama juga bersifat misionaris. Hal ini yang menyebabkan banyaknya gerakan-gerakan konversi agama secara massif yang dilakukan para demagog untuk menyampaikan ‘Risalah’ yang ia yakini sebagai sebuah kebenaran.

Keberagamaan di Indonesia pun tak luput dari hal tersebut. Sikap misionaris para domagog ,sering kali membuat persingungan antara penganut agama satu dengan agama yang lain. Karena mereka mempunyai sebuah ke’benaran’ yang mereka tafsiri masing-masing.

Dan berusasha merealisasikan kebenaran tersebut kepada umat agama yang lain. Hal inilah yang mengakibatkan pergesekan dimasyrakat kita. Kasus-kasus seperti pembakaran gereja,Persekusi jemaaat aliran sebuah agama hingga penolakan pendirian rumah ibadah mengiri kisah-kisah beragama di indoensia. Padahal masyarakat kita notabene merupakan sebuah masyarakat yang mempunyai karakteristik keagamaan majemuk, dipaksa harus melewati rintangan-rintangan dalam kehidupan beragama ini.

Baca Juga: Kepala BNPT Sebut Harmoni Dalam Kebhinekaan Tangkal Radikalisme

Maka sudah seharusnya kesadaran kita terhadap penghayatan agama jangan sampai mengganggu umat yang lain. Kita harus dapat memaknai ‘kebenaran agama’ sebagai sebuah bagian integral dalam iman kita sendiri, bukan sebagai sebuah hal yang perlu diseragamkan kepada umat beragama yang lain.

Dalam buku Melampaui Pluralisme yang ditulis oleh Garadette Philips, Gagasan Hans Kung menyatakan bahwa diperlukannya sebuah ‘Etika Global’ yang bersumber dari nilai-nilai keagamaan untuk menjadi dasaran manusia dalam bertindak dan bersikap, agar masyarakat beragama tidak repot-repot memaaksakan dokrin keagamaanya dilingkungannya.

Hal inilah yang dapat mendasari harmonisasi social dikalangan masyrakat kita. Dimana ada sebuah konsepsi komunal yang di afirmasi oleh masyarakat tanpa harus menonjolkan sebuah ajaran agama masing-masing. Impelementasi tentang Etika Global yang digagas Hans Kung di Indonesia ini dapat efektif mengingat masyarakat kita sudah memiliki sebuah etika-etika kebudayaan seperti Sawang sinawang, Menang tanpo ngasorake dan adagium-adagium yang telah diketahui oleh masyarkat kita.

Hal ini tentu bukan dalam rangka mereduksi keagamaan secara general. Melainkan mencari titik tengah dan jalan keluar bagaimaana dapat beragama ditengah-tengah derasnya arus perbedaan. Tidak hanya kesaran personal masing-masing masyrakat kita dalam membangun sikap beragama yang santun.

Pemerintah melalui lembaga-lembaga seperti FKUB dan Kemenag juga berperan aktif dalam menciptakan iklim beragama yang santun. Tentu dalam hal ini diskusi-diskusi dan dialog sudah tidak relevan lagi bagi masyarakat kita. Masyarakat kita sudah mengetahui eksistensi agama lain, dan karena hal tersebut masing-masing dari penganut agama tersebut mencoba mendominasi antara satu dengan yang lainnya.

Maka diskusi-diskusi yang biasanya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti FKUB dan Kemenag dirasa kurang efektif. Meminjam istilah Sri Wisnoady masyarakat kita sudah beralih dalam tahapan Apolegtis (kondisi dimana masyrakat mengetahui eksistensi keberagamaan dan berusaha saling mendominasi) menuju tahapan Ko-eksistensi. (tahap toleransi, namun hanya sebagai formalitas dan acapkali dapat menuai konflik).

FKUB dan Kemenag perlu bertindak lebih, dari yang sebelumnya hanya melakukan kegiatan dialog lintas agama dan Live in (semacam perkemahan atau agenda hidup bersama, lintas agama) kearah yang lebih progresif yakni mencitakan kantung-kantung kampong Bhineka. Dari Kampung-kampung Bhineka inilah minimal masyarakat mempunyai sebuah Role Play bagaimana cara Bergama yang santun.

Kampung-kampung Bhineka yang di inisiaisi oleh FKUB dan Kemenag sendiri murni sebuah program yang menciptaka kondisi kebaragaman beragama ditengah-tengah masyarakakat. Langkah awalnya agar meminimalisir pengerluaran Lembaga-lembaga tekait dapat bekerja sama dengan kecamatan atau kelurahan setempat dalam merealisasikan program ini.

Dengan mengacu kepada tempat-tempat yang secara kultural telah terbentuk kemajemukannya. Lantas pihak-pihak FKUB dan Kemenag dapat menbranding kampung tersebut hingga menjadi destinasi wisata. Jika demikian, maka FKUB dan Kemenag dapat secara masing menciptkan kampong-kampung Bhineka di setiap kota dan kabupaten.

Diharapkan dari kampung-kampung bhineka tersebut dapat juga menjadi laboratorium penelitian. Progresifitas pendekatan beragama inilah yang seharusnya di inisiasi oleh lemabaga terkait. Maka dengan berdirinya kampong-kampung Bhineka ini juga dapat sebagai marcusuar dalam menyebarkan bagaimana beragama yang santun.

 

Alfi Nuril Hidayati, Mahasiswi Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed