by

Saipul Jamil Bukan Korban, dan Mengapa Media Mengutamakan Sensasi?

-Opini-27 views

Oleh: Ai Siti Rahayu

 

Setelah delapan tahun dipenjara karena kasus pelecehan seksual, kini Saipul Jamil bebas. Dia keluar dari pintu Lapas Cipinang Jakarta Timur, disambut dengan karagan bunga oleh keluarga, kerabat, kuasa hukum dan media. Seolah-olah media hilang ingatan dengan kasus pemerkosaan yang Saipul Jamil lakukan.

Miris melihatnya, pelaku pelecehan seksual itu keluar dengan bahagia melambaikan tangannya diatas mobil porsche merah, lalu mengaku akan segera merilis single terbaru  bertajuk Sanggupkah Kau Setia. Sambutan lainnya lagi, sebanyak lima tawaran pekerjaan hiburan sudah menantinya.

Dalam salah satu pemberitaan oleh media massa yang mewawancarainya, media itu meminta lelaki yang biasa dipanggil Ipul untuk bernyanyi sembari bertanya, “Bang Ipul trauma nggak?” tanya media itu.

“Ya, pasti trauma. Jadi buat teman-teman, hati-hati. Bijaklah dan selalu waspada. Kita tidak tahu di mana ada musuh. Bisa jadi teman yang kita anggap baik tapi ternyata dia musuh kita. Tapi ya sudahlah. Yang penting iklhas,” tukas Saipul Jamil.

 

Saipul Jamil Bukan Korban

Entah apa yang dipikirkan media yang ada di Indonesia, dibanding mengambil sudut pandang Saipul Jamil selaku pelaku kejahatan seksual, media justru menjadikan Saipul Jamil sosok ikhlas yang tidak memiliki dendam terhadap DS. DS adalah korban pelecehan seksual yang melaporkan Saipul Jamil pada tahun 2016.

Media televisi tak memiliki sensivitas dalam meliput isu ini. Glorifikasi liputan Saipul Jamil merupakan bentuk kapitalisasi media. Sensasionalisme lebih diutamakan untuk mendapatkan perhatian penonton. Menggiring opini public dan menjadikan pelaku kejahatan seksual sebagai korban. Media secara terang-terangan mendukung perilaku Saipul Jamil yang playing victim itu.

Salah satu pemberitaan yang dipublikasikan ole okezone.com menuliskan tulisan bertajuk “Saipul Jamil Tak Dendam ke Pria Muda yang Membuatnya Masuk Penjara”

Melihatnya saya kembali merasa miris, dengan media di Indonesia alih-alih berpihak pada korban media justru berpihak dan mendukung penjahat seksual. Padahal semua tahu, tentunya yang trauma adalah korban bukan Saipul Jamil.

Baca Juga: Pegiat HAM Perempuan: Kekerasan Seksual Bukan Masalah Personal

 

Media Mengutamakan Sensasi

Sebenarnya media yang mengutamakan sensasionalisme bukanlah masalah baru, sensasi sudah menjadi bumbu utama pemberitaan media. Ketika kasus Saipul Jamil ini menjadi topik utama saat tahun 2016, media bukan fokus pada kekerasan seksual, tetapi fokus pada artis LGBT.

Media seharusnya bukan netral, tetapi independen. Media sebagai sarana informasi dan edukasi harus memiliki posisi publik yang jelas.  Ketika memberitakan kasus kekerasan utamakan korban yang lebih dilemahkan, bukan mengutamakan sosok yang lebih tinggi popularitas dan kehidupan sosialnya. Media seharusnya berpihak pada korban.

Dengan penggiringan opini publik yang menyesatkan, masyarakat Indonesia secara tidak sadar menormalisasi kekerasan seksual. Padahal kekerasan seksual, bagaimanapun bentuknya, dan siapapun pelakunya tidak seharusnya dinormalisasi. Dengan tidak menormalisasi kita secara tidak langsung memberikan penghargaan pada korban yang mengalami trauma.

Seharusnya kita belajar dari dunia hiburan Korea Selatan, ketika pada Maret 2019 penyanyi Jung Joon Young terungkap telah melakukan kekerasan seksual terhadap sejumlah Wanita, dengan merekam secara illegal tindak kejahatannya.

Dia dihukum penjara, dan hukuman berat lainnya dengan pelarangan dirinya tampil di seluruh stasiun televisi. Warga Korea juga memboikot pelaku kekerasan seksual untuk tidak bisa kembali ke industry hiburan meskipun telah bebas dari penjara.

Kekeliruan perspektif media massa dalam kasus pelecehan seksual menjadi kultur tersendiri dalam media massa Indonesia. Ada faktor yang membudaya dan kental dengan budaya patriarki. Kita dapat melihat bagaimana media membiasakan kita untuk melihat tayangan olahraga misalnya, dengan menjadikan perempuan sebagai pemanis, dengan pemberitaan cantik atau seksi bukan prestasinya.

Dari pemberitaan Saipul Jamil kita sadar bagaimana ketidakadilan itu dipampang secara gamblang oleh media. Media yang seharusnya independen justru melakukan kapitalisasi terhadap sensasi.

 

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed