by

Romo Johannes Hariyanto: Menjadi Pendidik Menemani Orang Muda Memiliki Pengalaman Kebinekaan

-Wawancara-34 views

Kabar Damai I Selasa, 10 Agustus 2021

Jakarta I kabardamai.id I Agama kerap menjadi sumber berbagai aksi kekerasan. Namun, agama juga dapat menjadi sumber upaya bina damai. Sayangnya, banyak pihak yang terlalu memfokuskan perhatiannya pada “sisi gelap” agama dan kurang mempelajari sisi positif yang dimilikinya.

Era reformasi telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun lalu. Banyak hal yang dicapai dalam era ini, kebebasan diantaranya. Sejauh mana suasana bebas dirasakan masyarakat terutama kebebasan beragama? Apakah masih sama seperti zaman Orde Baru atau malah keran kebebasan yang dibuka di era reformasi membuat setiap orang bebas berbuat apa saja?

Pascareformasi banyak sekali peristiwa-peristiwa memilukan berkaitan dengan kehidupan beragama bangsa ini. Lalu, sebagai Romo bagi para pemuda lintas agama sejauhmana pandangan  Romo Johannes Hariyanto terhadap masalah ini keberagaman di Indonesia dan bagaimana peran anak muda serta Lembaga interfaith? Berikut wawancara Kabar Damai dengan Romo Johannes Hariyanto pada 20 Juli 2021 terkait dengan kehiduan interfaith di Indonesia.

Bagaimana Kiprah Romo Johannes Hariyanto dalam Dunia Interfaith?

Saya punya pengalaman baik dari masa kecil dan seterusnya. Hidup bersama banyak orang dari berbagai macam latar belakang menjadi modal saya. Ketika saya masih kecil ada mushola di tempat saya tinggal, teman saya juga muslim, ketika sore temen saya langsung wudhu lalu solat Maghrib, kemudian ngaji di mushola tersebut.

Baca Juga: Dorin Mehue: Perempuan Papua Simbol Perdamaian Tanpa Pengaruh Kepentingan Pribadi

Nah, mushola ini modelnya rumah panggung yang cukup tinggi, lantainya kan papan, papan itu pasti ada lubang lubangnya. Kami yang tidak solat baisanya menggangu teman teman kami yang mengaji. Ini menggambarkan kehidupan yang mengalir, sangat anak-anak, nggak ada permasalahan dengan keyakinan.

Keidupan anak-anak yang hanya bermain dan kita semua menikmati masa kecil itu. Sehingga di kemudian hari saya tidak pernah merasa menjadi asing dengan teman dari berbagai macam keyakinan. Karena saya dibesarkan dari tempat yang sangat terbuka.

Jika ditanya, kapan saya menjadi sangat terlibat adalah ketika tahun 1998, saat Soeharto jatuh, saya berkumpul dengan sejumlah teman, disitu saya juga mengenal Gus Dur.  Kala itu harus ada sesuatu yang dilakukan ketika pemerintahan yang terkontrol kini terbuka lebar, resikonya kita bisa lari ke kiri dan ke kanan. Karenanya salah satu yang terpenting adalah menjaga keutuhan kita sebagai bangsa.

Jadi itulah latar belakang saya bisa terlibat dalam dunia interfaith, saya tidak punya latar belakang studi agama diluar keyakinan saya. Saya memahami keyakinan secara umum tapi tidak ahli dalam satu agama, islam misalnya. Karena perjumpaan yang terjadi, berdasarkan keyakinan kita harus melakukan sesuatu secara bersama berdasarkan kepentingan bersama

Bagaimana Kontribusi Gereja Roma Vatikan terhadap Isu Interfaith?

Sesudah konsili Vatikan ke-2, sesudah 1965, gereja katolik secara resmi menyatakan dalam deklarasinya baik dalam dukungannya dengan gereja protestan, Yahudi, Islam yang serumpun agama samawi maupun keyakinan yang bersumber dari India, Hindu Buddha, dan keyakinan tradisional Asia. Untuk pertama kali gereja katolik menyatakan secara tegas, bahwa sungguh suatu ketulusan untuk menghormati nilai nilai positif dari setiap agama yang berbeda.

Sebelumnya juga karena ketidaktahuan, kita cenderung memandang bahwa yang berbeda dengan kita adalah salah.  Dasarnya karena memang tidak tahu, atau pengalaman sejarah yang sebetulnya lebih berwarna politik daripada agama. Kita selalu diungkit-ungkit kalau hubungan Islam dan Kristen dengan perang salib, selalu perang salib. Perang salib itu 1000 tahun yang lalu kalau kita masih mempersoalkan itu kan aneh, jadi nggak relevan. Tempatnya saja tidak terjadi disini.

Jadi sikap terbuka, yang ditunjukan secara resmi karena hasil putusan konsili, putusan lembaga tertinggi dalam gereja katolik menjadi semangat untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan semua pihak. Dan saya percaya sikap yang ditunjukan gereja Katolik di dalam konsili Vatikan ke 2 yang berakhir tahun 1965, salah satu yang ikut berpengaruh adalah uskup uskup dari Indonesia.

Uskup uskup dari Indonesia ini ranahnya cukup besar untuk mengajak gereja katolik seluruh dunia melihat bahwa perbedaan yang ada bukanlah ancaman. Tetapi, bagaimana kita bisa menemukan hal yang sama, dasarnya adalah kesadaran bahwa kita semua adalah makhluk ciptaan, sehingga nggak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Sikap gereja katolik resmi dinyatakan tetapi sudah dipraktekkan sejak lama di Indonesia bahkan dipraktekan pada masa Hindia belanda.

Harapan dan Peran Gereja Katolik Roma untuk Perdamaian di Indonesia

Peranan gereja sebagai lembaga keagamaan pada prinsipnya harus berbasis, harus berbicara atas nama kemanusiaan. Jadi gereja katolik tidak boleh diidentikan dengan politik tertentu, tokoh tertentu, patai tertentu. Partai apapun, kalau itu menghormati kemanusiaan, gereja katolik akan siap untuk bekerjasama. Jika partai tersebut menghormati hak dari warga sipil maka gereja kaolik akan siap hadir.

Bagaimana Pelibatan Orang Muda Menjadi Aktor Bagi Perdamaian

Ini sangat terkait dengan sejarah Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) sebagai lembaga interfaith, Ketika ICRP berdiri salah satu alasan yang penting adalah situasi perubahan politik yang terjadi. Seperti yang sudah saya sebut tadi dari Soeharto, melalui reformasi ke perubahan yang selanjutnya, itu alasan pertama dan muncul saat itu.

Tetapi dalam perjalanan kita juga membaca dan menyadari kemudian, bahwa sampai kapanpun Indonesia itu akan tetap plural. Situasi kebinekaan mempunyai dua wajah, yaitu wajah sinergi yang membuat kita masing-masing membagikan kelebihan kita, apapun perbedaanya, entah itu ras, agama, tingkat sosial, budaya, atau lainnya. Ketika itu bisa memberi sumbangan satu sama lain secara positif itu luar biasa, tetapi kebhinekaan juga adanya unsur pembeda satu sama lain. Unsur pembeda ini harus diproses, karena sebagai bangsa kita memilkik komitmen yang sama.

Pelajaran dari ICRP inilah yang menjadi penting dan harus digarisbawahi karena sampai kapanpun masalah perbedaan akan hadir di Indonesia. Kalau kita berbicara sampai kapanpun, berarti kita membicarakan masa depan, membicarakan masa depan berarti yang menjadi fokus utamanya kita berbicara mengenai generasi muda yang akan melanjutkannya.

Kebetulan sebagai Romo, tugas saya selalu terkait dengan orang muda, saya merasa bahwa saya ini lebih merasa menjadi mendidik daripada tukang agama. Itu sebabnya sekarang ini saya merasa ICRP atau Lembaga interfaith lainnya harus hadir disini, menemani orang muda punya pengalaman yang positif terhadap kebinekaan. Karena ini akan menjadi modal sisal ke depan.

Jika Lembaga interfaith seperti ICRP, sungguh mau meyentuh orang muda, maka ICRP mau tidak mau harus ada. Keberadaan ICRP harus ada, kita tidak boleh berhenti hanya sebagai petugas pemadam kebakaran, membela saat ada konflik. Kita harus mempersiapkan kedepan menjadi sesuatu yang lebih penting.

Bagi ICRP Kerjasama untuk menyentuh anak muda perlu kerjaama dari berbagai pihak. Karena pada umumnya pelaku tindak kekerasan masih berusia muda. Kita harus menggerakan anak muda melalui perjumpaan karena kunci untuk melakukan pergerakan ini adalah dengan perjumpaan, seperti yang dilakukan oleh ICRP. Dengan berjumpa kita akan sadar baha semua orang adalah sama, kita sama manusia.

Kalau kita hidup dalam masyarakat seragma, kita akan mengalami kegamangan untuk keluar dari lingkungan seperti itu. Maka perlu adanya dorongan dari luar untu mengalami perjumpaan, peace train menjadi salah satunya.

Karena perjumpaan dan pengalaman yang ditekakan, maka pendekatan ICRP tidak berfokus pada pendekatan ceramah. Pancasila akan ditemukan oleh mereka sendiri, ketika berhadapan dengan teman sebayanya yang berbeda. Jadi lebih penting mengalami kemanusiaan, persatuan, keadilan sosial melalui pertemuan langsung dengan titik temu dan bermusyawarah, Karena bapak bangsa dan ibu bangsa kita juga belajar dari pengalaman.

ICRP mendukung Pancasila secara sepenuhnya, dan mencoba mendekati anak muda tanpa cerewet. Orang muda harus memiliki pengalaman sendiri.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed