by

RMB UIN Jember Kembangkan Peta Jalan Penguatan Moderasi Beragama

Kabar Damai | Senin, 11 Oktober 2021

Jember | kabardamai.id | Rumah Moderasi Beragama (RMB) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember telah merumuskan peta jalan penguatan moderasi beragama. Sebagai wujud implementasi dari salah satu rumusan itu, RMB menggelar Workshop Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama bagi civitas akademika internal.

Dilansir dari laman Kemenag, Rektor UIN KHAS Jember, Babun Suharto mengungkapkan, civitas akademika UIN KHAS Jember harus menjadi agen yang menyuarakan komitmen moderasi beragama dengan kajian, riset, publikasi, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Penguatan kerukunan dan toleransi itu perlu terus-menerus dilakukan, terutama melalui sosialisasi pemahaman keagamaan yang moderat dan menekankan pentingnya kedamaian dalam kehidupan masyarakat yang majemuk,” ungkap Babun saat membuka Workshop, di Jember, Sabtu, 9 Oktober 2021, dikutip dari kemenag.go.id (10/10).

Babun menambahkan, Kiai Haji Achmad Siddiq (KHAS) yang melekat pada nama kampus, menjadi cerminan bahwa kampus UIN KHAS terus didorong menjadi kampus harmoni dan moderasi beragama. Babun meminta civitas akademika bersama masyarakat selalu menjaga mesranya hubungan keislaman dan keindonesiaan yang moderat sebagaimana pemikiran Kiai Haji Achmad Siddiq.

“Moderasi beragama menjadi wajah etalase kelembagaan UIN KHAS Jember. Hal itu kita wujudkan dengan bangunan integrasi keilmuan dalam bingkai filosofis kedalaman ilmu berbasis kearifan lokal yang ditopang melalui penguatan nilai-nilai moderasi beragama dalam satu tarikan nafas keilmuan, keberagamaan, kemanusiaan, dan keindonesiaan,” ungkap Babun yang juga Ketua Forum pimpinan PTKN.

Sementara Wakil Bupati Jember yang hadir sebagai narasumber, menilai moderasi beragama merupakan hal yang sangat perlu untuk dikuatkan. Menurutnya, perkembangan kebudayaan yang terus dinamis, hendaknya diiringi oleh muatan-muatan keagamaan, sehingga dapat tetap terkontrol.

“Menurut saya, moderasi beragama itu sangat penting sekali. Perkembangan kebudayaan manusia ini terus dinamis, sehingga harus diiringi dengan muatan-muatan keagamaan yang moderat agar tidak liar,” ungkap Gus Firjaun.

Untuk itu, Gus Firjaun meminta agar UIN KHAS Jember dapat menjadi pionir dalam mencetak civitas akademika yang memiliki wawasan luas baik intelektual maupun spiritual.

“UIN KHAS Jember harus mampu menjadi salah satu pionir untuk mencetak ahli-ahli yang tidak hanya memiliki wawasan intelektual, namun juga kemantapan dalam spiritual yang bisa mengayomi seluruh bangsa Indonesia yang beragam,” ujarnya.

 

Islam Moderat di Tengah Kehidupan Multikultural

Direktur Rumah Moderasi Beragama UIN KHAS Jember Wildani Hefni, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari peta jalan dan strategi penguatan moderasi beragama yang telah disusun oleh Rumah Moderasi Beragama UIN KHAS Jember.

“Kami telah merumuskan peta jalan penguatan moderasi beragama di lingkungan UIN KHAS Jember. Tentu harapannya sangat tinggi, agar seluruh civitas akademika UIN KHAS Jember menjadi bagian yang senantiasa melantunkan dan mengajarkan Islam moderat di tengah-tengah kehidupan yang multikultural ini. Hal itu bisa dikuatkan dalam penegasan kontribusi akademik/keilmuan civitas akademika UIN KHAS Jember dengan aksentuasi pada paradigma keislaman, kemanusiaan, dan keindonesiaan”, jelas Wildan.

Hadir sebagai narasumber dalam workshop ini, antara lain Pengasuh PP. Assuniyah Kencong KH. Sadid Jauhari, Pengasuh PP. Al-Falah Silo KH. Abdul Muqiet Arief, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Timur Abd. Halim Soebahar, Dandim 0824 Jember Letkol Inf Laode M Nurdin, dan Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Hepni Zain.

 

Sinergi Kampanyekan Moderasi Beragama

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi menyatakan Islam merupakan agama dakwah. Sejarah perkembangan dakwah di Indonesia ditopang oleh ormas-ormas Islam yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan pemberdayaan ekonomi umat.

Pernyataan ini disampaikan Wamenag Zainut Tauhid saat menjadi pembicara Webinar Kebangsaan dan Pelepasan Dai yang diselenggarakan DPP Wahdah Islamiyah dalam rangkaian kegiatan menyongsong Muktamar IV Wahdah Islamiyah.

Webinar ini mengusung tema “Wujudkan Indonesia Jaya dengan Islam Wasathiyah”.

Baca Juga: Menag Yaqut Harap Ustadz Pesantren Gaungkan Moderasi Beragama di Ruang Lebih Luas

“Umat Islam dan ormas-ormas Islam harus bahu-membahu, saling bersinergi, saling melengkapi dan menguatkan dalam mengemban tugas dakwah karena tugas dakwah adalah tugas yang mulia, yaitu membangun umat dan bangsa menjadi umat yang terbaik,” ujar Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi, jelang memberikan kuliah umum di STAI An Nawawi Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu, 9 Oktober 2021.

“Ormas-ormas Islam di tanah air diharapkan terus bersinergi dan berkolaborasi dengan program-program Kementerian Agama dalam pengarusutamaan moderasi beragama, atau Islam yang washatiyah,” sambungnya.

Wamenag menuturkan semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariyah diharapkan menjadi platform bersama semua ormas Islam dalam melakukan dakwah dan pembangunan umat.

Webinar ini ikuti oleh Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah KH Muhammad Zaitun Rasmin.dan segenap Keluarga Besar Wahdah Islamiyah.

Menurut Zainut, umat Islam di Indonesia dalam menghidupkan dakwah dan melaksanakan amal jama’i berhimpun di dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, lembaga dakwah, lembaga pendidikan, lembaga sosial dan bermacam jam’iyyah.

Semua simpul kekuatan umat mengambil peran dan bagian dalam pergerakan dakwah dan pembangunan masyarakat di berbagai bidang.

“Kehadiran banyak wadah dan organisasi yang menghimpun potensi umat Islam memerlukan Ukhuwah Islamiyah dan kesadaran para pemimpin dan anggotanya tentang kesatuan tujuan yang hendak dicapai,” harapnya.

 

Pentingnya Jaga Persaudaraan

Ia menambahkan umat Islam pada hakikatnya adalah satu umat (ummatan wahidah) dan apapun perbedaannya, umat Islam tetap terikat dengan persaudaraan keislaman (ukhuwah islamiyah) dan persaudaraan setanah air dan sebangsa (ukhuwah wathaniyah). Dalam hal ini tidak ada khilafiyah para ulama tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan persatuan.

Dijelaskan Wamenag, setiap perbedaan pendapat dan beragam kepentingan yang muncul di kalangan umat Islam maupun di antara pemimpin dan tokoh umat, tidak seyogianya menimbulkan pertentangan, apalagi pemusuhan dan perpecahan. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 103 antara lain menegaskan;

“Berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”

Sesama muslim dan warga bangsa wajib meningkatkan solidaritas. Solidaritas dalam arti jika sebagian umat Islam mengalami penderitaan dan kesulitan, sebagian yang lain haruslah berempati dan bergotong-royong menanggulanginya.

Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathaniyah  merupakan modal sosial yang tidak ternilai dalam menata kemajuan umat dan bangsa ke arah yang lebih baik. Umat Islam harus mampu mengisi kelemahan yang satu dengan kekuatan yang lain, ” tandas Wamen.

“Saya mengapresiasi dukungan dan kerjasama ormas-ormas Islam khususnya Wahdah Islamiyah terhadap program kerja Kementerian Agama selama ini. Begitupun kami, akan terus menjaga dan bahkan memperluas kerja sama dengan ormas-ormas Islam dalam pembangunan umat dan bangsa, sebagai kewajiban kita bersama dalam mewujudkan islam sebagai rahmat bagi alam semesta,” tutup Wamen. [kemenag.go.id]

 

Editor: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed