by

Ridwan Kamil: Pancasila Bisa Menjadi Ideologi Dunia

Kabar Damai I Jumat, 11 Juni 2021

Bandung I kabardamai.id I Pancasila sebagai ideologi Republik Indonesia banyak mendapat apresiasi dari bangsa lain. Ideologi ini dinilai mampu menyatukan keragaman suku, agama, hingga bahasa sekaligus menjaganya dari pertengkaran dan perpecahan.

“Pancasila sebenarnya bukan hanya menjadi ideologi Indonesia, tetapi bisa kita tawarkan menjadi ideologi dunia,” ungkap Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil dalam acara “Pancasila untuk Kesejahteraan Rakyat Indonesia dan Kepedulian Rakyat Palestina” yang digelar Institut Pembangunan Jawa Barat atau Injabar Universitas Padjadjaran, Selasa, 1 Juni 2021 lalu.

Dilansir dari laman resmi UNPAD, Ridwan Kamil menjelaskan, Presiden Soekarno pernah menyampaikan ideologi Pancasila saat berpidato di depan dewan perwakilan rakyat Amerika Serikat. Soekarno menerjemahkan Pancasila dengan bahasa yang sederhana.

Pada pidato tersebut, Soekarno menyampaikan konsep believe in God, humanity, nasionalism, democracy, dan social justice. Lima konsep yang diambil dari terjemahan sila Pancasila ini dinilai menjadi dasar yang universal.

Baca Juga: Kemenag: Budaya Dialog Lintas Agama Harus Diarusutamakan Hingga Keluarga dan Lingkungan

Sayangnya, ideologi Pancasila saat ini belum terefleksikan dengan baik di tengah masyarakat Indonesia. Ridwan Kamil mengatakan, persoalan utama bangsa Indonesia saat ini adalah mudah terjadi pertengkaran di antara masyarakat.

Persoalan ini disebabkan oleh didikan lingkungan yang kerap memasalahkan perbedaan.

“Pertengkaran itu datang dari kelompok yang melihat perbedaan bukan sebagai rahmat tapi sebagai sumber kebencian. Kita dipaksa harus sama, padahal orang kembar pun seleranya bisa beda,” kata Ridwan Kamil, dikutip dari unpad.ac.id (2/6).

Kang Emil, sapaan akrab Ridwal Kamil, juga mengatakan, hari lahir Pancasila ini harus menjadi momentum masyarakat lebih mempererat kondusifitas. Berkaca dari sejarah, Pancasila merupakan ideologi final yang diakui dunia.

“Yang mengapresiasi Pancasila justru adalah bangsa-bangsa lain maka gagasan besar saya bahwa Pancasila itu bukan hanya ideologi Indonesia tapi bisa kita tawarkan menjadi ideologi dunia,” tandasnya.

Emil mengatakan jika Presiden Soekarno punya andil besar dalam memperkuat Pancasila di dunia.

“Lima sila itu kalau tidak nyetrum ke orang-orang pinter nggak mungkin menyatakan bahwa dasar negara kita itu sangat universal,” terangnya, dikutip dari waspada.co.id.

Orang nomor satu di Jawa Barat tersebut menilai jika masalah Indonesia hari ini adalah mudah bertengkar bukan masalah ekonomi, bukan masalah Covid-19.

“Saya mengamati terjadinya mudah bertengkar karena kita selalu dididik oleh sebuah lingkungan yang membesar-besarkan perbedaan, harusnya kita didik generasi kita ini membesarkan persamaan. Pertengkaran itu datang dari kelompok yang melihat perbedaan itu bukan sebagai rahmat tapi sebagai kebencian,” pungkasnya.

Pancasila Bimbing Kita Berinovasi, Beradaptasi, dan Kolaborasi

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Uno mengatakan, Pancasila mengandung makna luar biasa, terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

“Dalam konteks kekinian, Pancasila membimbing kita untuk terus berinovasi, beradaptasi, dan kolaborasi,” kata Sandiaga.

Pandemi Covid-19 memaksa seluruh masyarakat untuk meningkatkan kemampuan diri dan daya tahan sebagai bagian dari perjuangan. Karena itu, Pancasila memberikan landasan penting bagi perjuangan bangsa Indonesia melawan pandemi.

“Pancasila hadir memberikan landasan, yaitu berketuhanan, memiliki jiwa kemanusiaan, saling bersatu, bagaimana mencapai musyawarah, serta bagaimana mewujudkan keadilan sosial dan keadilan digital,” ujarnya.

Acara yang digelar dengan kombinasi luring dan daring ini menghadirkan sejumlah pembicara, yaitu Budayawan Eros Djarot, Ketua PA GMNI Jabar Abdy Yuhana, Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt., serta sejumlah pembahas.

Pancasila di Mata Dunia

Keberadaan Pancasila ternyata kerap dikagumi oleh negara-negara lain. Tidak jarang beberapa negara barat kerap mengkaji, mengamati, bahkan meniru ideologi Pancasila. Hasilnya selalu disepakati bahwa Pancasila dapat membentuk sebuah peradaban yang tinggi dan menjadi solusi permasalahan yang terjadi.

Bahkan sebagian di antara mereka ingin meniru ideologi Pancasila yang diterapkan di Indonesia. Berikut sejumlah apresiasi yang dirangkup GNFI (doodnewsfromindonesia.id) yang mencerminkan perlakuan negara-negara lain yang mengagumi Pancasila sehingga ideologi kita sangat tersohor di dunia.

Riuh Tepuk Tangan di Kongres AS 1956

‘’Mungkin Anda sudah tahu apa itu Pancasila. Ini merupakan lima prinsip bagi bangsa kami,’’ ungkap Presiden RI pertama Soekarno.

Kala itu Soekarno mendapat kesempatan berpidato di depan Kongres AS pada 17 Mei 1956. Soekarno punya kesempatan untuk memperkenalkan dasar negara Pancasila dan menjabarkan arti masing-masing sila. Setelah selesai, Soekarno disambuttepuk tangan meriah dari para hadirin.

‘’Saat deklarasi kemerdakaan kami pada Agustus 1945, kami melampirkan dalam pembukaan konstitusi kami, Pancasila,’’ kata Soekarno.

Awalnya Soekarno diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat terkait permasalahan yang sedang dialami dunia. Namun, ia menyempatkan untuk menjelaskan Pancasila sebagai panduan dalam berbangsa di Indonesia.

Secara tidak langsung, Soekarno ingin memberikan salah satu solusi yang bisa dunia adopsi untuk bisa menengahi atau bahkan menyelesaikan permasalahan dunia. Toh, lima poin tersebut sangat mungkin dilakukan oleh seluruh umat manusia.

Pancasila Dianggap Ideologi Terbaik Abad ke-21

Hal tersebut dikemukakan oleh Pakar Ilmu Politik, Universitas Dortmund Jerman, Profesor Thomas Meyer dalam diskusi bertema Relevance of Progressive Politics in Indonesia and Experiences in Europe, Jakarta Pusat, 19 September 2017 silam.

Meyer bahkan mengatakan bahwa dasar negara Indonesia sudah menjadi bahan kajian akademisi di Eropa. Ideologi Pancasila, menurut Meyer, dinilai lebih baik ketimbang neoliberalisme dan fundamentalisme keagamaan yang jadi kekuatan politik terbesar di dunia saat ini.

‘’Saya percaya ideologi demokrasi sosial adalah yang paling cocok di abad ke-21. Tantangan abad ke-21 ini bisa dijawab kelompok sosial dan demokrasi progresif,’’ jelas Meyer dikutip Medcom.

Meyer memberi contoh seperti saat krisis ekonomi tahun 2008. ‘’Apakah harus buang kapitalisme atau bagaimana, kemudian kami ambil jalan tengah yakni demokrasi sosial,’’ ungkapnya yang mengaitkan demokrasi sosial yang telah berjalan di Indonesia.

Band Asal Prancis Tertarik Mengaransemen Lagu “Garuda Pancasila”

Band indie rock asal Prancis, The Shapers, pertama kali menyanyikan lagu Garuda Pancasila pada pagelaran International Indie Music Festival – Pekan Raya Indonesia 2018.

Kala itu, The Shapers sepakat untuk berkolaborasi dengan band asal Yogyakarta, Rasgokil, untuk membawakan lagu ciptaan seniman Kota Kendal bernama Sudharnoto ini.

‘’Mereka ternyata sangat antusias saat kami tawarkan lagu ini. Mereka bahkan sempat minta diterjemahkan arti dan makna dari lagu Garuda Pancasila,’’ kata Memet, salah satu anggota Rasgokil dikutip Republika.

Siapa yang menyangka kalau The Shapers ternyata masih menyukai dan menyanyikan lagu Garuda Pancasila dengan aransemen rock. GNFI menemukan saat pagelaran Save Our Future Rockin Fest 2019 yang digelar di Cimahi, Jawa Barat, mereka masih melantunkan lagu tersebut di depan para penggemarnya di Indonesia.

Pujian dari Komunitas Besar Dunia

Salah satunya adalah dari Komunitas Sant’Egidio yang memiliki kantor pusat di Roma, Italia dengan penyebaran komunitasnya sudah mencakup 73 negara di dunia. Asosiasi awal Katolik yang didedikasikan untuk pelayanan sosial ini pernah menyatakan kekagumannya pada Pancasila.

Mereka kagum atas harmoni kemajemukan yang dimiliki Indonesia atas dasar Pancasila. Ini disampaikan langsung oleh pendiri komunitas tersebut, Andrea Riccardi, saat Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi bertandang ke Roma, Italia 10 Oktober 2017 silam.

‘’Saya kagum terhadap Pancasila yang mampu persatukan bangsa Indonesia yang memiliki beragam budaya dan agama,’’ ungkap Riccardi kala itu.

Meski didasari oleh asosiasi Katolik, namun Komunitas Sant’Egidio sejatinya merupakan komunitas tanpa batas persahabatan yang terdiri dari orang-orang dari berbagai negara, budaya, dan agama yang berbeda.

Menlu Retno sendiri mengakui bahwa kerja sama Indonesia dan Komunitas Sant’Egidio sudah berlangsung lama. Salah satunya terjalinnya hubungan mereka dengan organisasi massa Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Rupanya, sama salah satu pimpinan Komunitas Sant’Edigio, Prof. Marco Impagliazzo, juga pernah bertandang ke negeri ini, yaitu saat menghadiri diskusi lintas agama dengan Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban, Prof. Din Syamsudin di Jakarta.

Impagliazzo mengungkapkan, ‘’Pancasila adalah sesuatu yang harus diperlihatkan oleh Indonesia kepada negara yang lain. Indonesia harus bangga dengan ideologi ini karena menjadi model bagi negara-negara lain.’’

Sejak saat itu kedua tokoh tersebut sepakat untuk mempromosikan Pancasila ke dunia internasional.

Lihatlah betapa takjubnya negara lain dengan Indonesia dan Pancasila-nya. Mungkin tanpa sadar bahwa kita semua mampu menjalankan dan memaknai ideologi ini di setiap individu. Buktinya, Indonesia sampai kini masih ada dengan segala keberagamannya.

Editor: Ahmad Nurcholish I diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed