by

Relasi Setara Suami dan Istri

Kabar Damai I Kamis, 02 September 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Seluruh manusia menginginkan hal yang sama, apapun yang ditanya tentu muaranya adalah kebahagiaan. Begitupun kita sebagai umat muslim ketika ditanya apa yang dicita-citakan tentu jawabannya adalah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Begitulan pernyataan Nyai Hj. Ernawati, M.Pdl, Pengasuh Pondok Pesantren Nurhuda perihal tujuan hidup manusia.

Ia juga menambahkan, salah satu yang dianggap akan bisa menyampaikan kepada kebahagiaan itu adalah pernikahan. Karena ini sudah diinformasikan dalam surah Ar-rum ayat 21 bahwa apabila seseorang menikah maka akan memperoleh ketentraman, kenyamanan, cinta dan kasih sayang atau dalam bahasa lainnya rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah.

“Karena dalam rumah tangga itu, setidak-tidaknya dengan menjalin pernikahan ada tiga kebutuhan dasar yang akan terpenuhi oleh ikatan hati, yang pertama kebutuhan dasar akan kasih sayang, yang kedua kebutuhan ekonomi dan yang ketiga kebutuhan seksual,” ungkapnya.

Relasi seksual adalah bentuk hubungan dalam proses aktifitas seksual yang dilakukan oleh suatu pasangan. Ernawati menuturkan berbicara tentang kebutuhan seksual menjadi sangat penting karena dalam agama Islam pemenuhan kebutuhan seksual hanya dapat dilakukan dalam ikatan pernikahan. Sehingga Islam mengatur hubungan seksual ini supaya bisa mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak yaitu suami dan istri.

Mitos yang selama ini beredar dikalangan masyarakat menjadikan aktifitas seksual yang harusnya mendatangkan kebehagiaan tetapi justru mendatangkan petaka dalam kehidupan rumah tangga. Diantaranya adalah mitos bahwa hasrat seksual suami lebih tinggi dibanding hasrat seksual istri.

Padahal menurut para ahli, hasrat seksual tidak ditentukan oleh jenis kelamin tetapi ditentukan oleh hormon yang ditentukan oleh tubuh masing-masing. Bisa jadi ada laki-laki yang gairah seksualnya tinggi sehingga memerlukan pemenuhan seksual yang tinggi. Tetapi ada juga ada pula laki-laki yang gairah seksualnya rendah. Begitupun sebaliknya. Pada prinsipnya, suami dan istri harus memiliki kebutuhan yang sama untuk memenuhi hasrat seksualnya itu.

Baca Juga: Peran Perempuan untuk Kemerdekan Indonesia: Perempuan Setara, Perempuan Merdeka

Selain itu, adapula anggapan yang mengatakan bahwa pemenuhan hasrat seksual itu kewajiban istri dan hasrat seksual ini adalah hak suami. Sehingga banyak suami yang menuntut kepada istrinya untuk memenuhi hasrat seksual ini tanpa memperhatikan kondisi pasangannya.

Lebih jauh, juga anggapan yang menyatakan bahwa suami boleh mendominasi istrinya dalam segala hal, termasuk dalam masalah hubungan seksual sehingga istri hanya dianggap sebagai objek seksual dengan tidak memperhatikan kebutuhan istrinya.

Istri hanya dijadikan sebagai objek seksual sehingga secara pribadi seorang istri tidak memiliki hak untuk menentukan kapan dan dimana dirinya dapat melakukan aktifitas seksual itu.

“Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya menghancurkan kebahagiaan bagi setiap pasangan suami istri dan mendatangkan petaka bagi salah satu pihak atau keduanya,” tuturnya.

Ia secara jelas melanjutkan dan menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pasangan suami istri dalam aktifitas dan atau relasi seksual yang baik.

Pertama, pasangan suami istri harus memiliki prinsip yang sama bahwa aktifitas seksual itu adalah kebutuhan bersama sehingga antara suami istri itu saling berusaha untuk menyenangkan pasangannya. Tidak saling egois dan berusaha saling mengetahui bagaimana cara agar pasangan merasa senang atau bahagia dengan aktifitas seksual yang dilakukan. Hal ini perlu komunikasi yang baik antara suami dan istri itu.

Kedua, dalam aktifitas seksual harus dilandasi dengan prinsip saling memperlakukan dengan baik. Tidak boleh aktifitas seksual menyakiti satu sama lain baik secara fisik atau psikis. Sehingga jika pasangan terlihat lelah atau sakit maka tidak boleh saling memaksakan kehendak untuk memenuhi hasrat seksual tersebut.

Ketiga, pasangan suami istri harus betul-betul memahami teks-teks agama dengan benar.

“Supaya hubungan seksual ini mendapatkan nilai ibadah maka lakukanlah dengan kasih sayang, tanpa paksaan. Insya Allah keluarga sakinah, mawadah, warahmah akan terwujud,” pungkasnya.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed