by

Rektor UKSW: Saya Sesalkan Ujaran Jozeph Paul yang Dinilai Kandung Penistaan Agama

Kabar Damai | Kamis, 22 April 2021

 

Salatiga | kabardamai.id | Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Neil Semuel Rupidara menyesalkan pernyataan Jozeph Paul Zhang sebagai alumni UKSW yang dinilai mengandung muatan penistaan agama. Ia menilai tindakan Jozeph itu menyampaikan pandangan pribadinya.

“Kami sesalkan itu dilakukan Jozeph sebagai alumni UKSW. UKSW adalah lembaga yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan berekspresi. Kami menilai tindakannya menyampaikan pandangan pribadi. Ia sepertinya perhitungkan secara baik efek pernyataannya dan ketidakdapat-berterimaan pihak lain atas pandangannya itu,” jelasnya melalui keterangan tertulis, Rabu (21/4/2021).

Neil mengatakan sikap pribadi Jozeph tidak kompatibel dengan wawasan UKSW. Karena sejak awal UKSW merupakan kampus yang mengembangkan ciri keberagaman.

“UKSW adalah kampus Indonesia Mini. Dalam setting komunitas yang seperti itu, kami mendidik mahasiswa untuk dapat berpikir dan bersikap peka dan toleran terhadap keragaman latar belakang,” ungkapnya.

“Mahasiswa UKSW tidak dididik mengekspresikan pandangannya dengan cara-cara yang dapat melukai orang lain. Dalam interaksi formal, non formal, maupun informal di setiap kegiatan pembelajaran dan pembinaan mahasiswa di kampus, mahasiswa UKSW dikondisikan untuk menyadari dan mengakui akan realitas itu,” sambung Neil, seperti dikutip detikcom.

Neil menilai aparat hukum dapat menangani kasus Jozeph Paul Zhang dengan baik sesuai prinsip dan sistem hukum yang berlaku. Ia juga menilai fenomena penistaan agama yang muncul karena sikap beragama yang dangkal, fundamentalis, dan intoleran masih merupakan masalah yang cukup terbuka di Indonesia.

Baca Juga : PBNU: Tetap Tenang, Tidak Terprovokasi Ujaran Joseph Paul Zhang

“Pola perilaku itu mencederai rasa kebangsaan kita semua. Maka belajar dari kasus Shindy Paul, kami mendorong pemerintah Indonesia dan segenap tokoh masyarakat untuk mengikis persoalan itu dengan bersama-sama membangun iklim berbangsa yang saling menghargai, yang sejuk, tanpa kecuali,” ujarnya.

“Kasus Jozeph harus dilihat sebagai bagian dari konstruksi sosio-kultural masyarakat Indonesia kontemporer yang masih cenderung rapuh, di mana pendapat pribadi yang masuk ke ruang publik tidak ditempatkan dalam kerangka penghargaan atas realitas masyarakat Indonesia yang plural,” tandas Neil.

 

Lulus Fakultas Pertanian tahun 1996

Neil membenarkan bahwa Jozeph Paul Zhang atau Shindy Paul Soerjomoelkono yang berstatus sebagai tersangka dugaan penodaan agama dan ujaran kebencian disebut pernah tinggal dan kuliah di Kota Salatiga, Jawa Tengah.

“Jozeph atau Shindy Paul Soerjomoeljono adalah alumni UKSW. Ia lulus dari Fakultas Pertanian tahun 1996. Sempat melanjutkan pendidikan S2 Magister Manajemen, tetapi tidak selesai,” ungkapnya.

Disebut Neil, Jozeph Paul Zhang merupakan mahasiswa yang tergolong pandai saat berstudi di UKSW.

“Sepatutnya ia kini menjadi seorang pribadi yang lebih matang karena pengalaman-pengalaman hidupnya. Namun, melihat apa yang dilakukannya, kami sulit memahami itu dari perspektif model perilaku warga UKSW,” tuturnya.

“Di satu sisi, sebagai almamaternya, UKSW adalah lembaga yang menjunjung tinggi kebebasan berpikir dan berekspresi. Namun, kami menilai tindakannya menyampaikan pandangan pribadi, apalagi yang bersifat subjektif dan kontroversial di ruang digital publik, tanpa mempertimbangkan secara bijaksana konteks Indonesia sebagai negara majemuk,” paparnya.

Menurut Neil, UKSW membentuknya menjadi pribadi yang kritis pada hal-hal yang prinsipil, sekaligus realistis terhadap kondisi lingkungannya.

“Ia berada di ruang sosial yang heterogen sehingga harusnya ada tanggung jawab moral dan sosialnya dalam menyampaikan pikiran-pikiran yang membangun, daripada sebaliknya,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya seperti ditulis kompas.com, yang dilakukan Shindy Paul adalah sikap pribadi yang tidak mewakili siapa-siapa.

“Bukan saja itu tidak merepresentasi karakter alumni UKSW, itu juga bukan gambaran perilaku kaum Kristen pada umumnya, juga etnis tertentu. Pengemukaan pendapatnya yang tidak membawa damai sejahtera bagi sesamanya, bukan saja merupakan hal yang sia-sia tetapi telah juga mengganggu ketenangan warga Muslim menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini,” bebernya.

 

Bangun Ilim Berbangsa yang Saling Menghargai

Dia berharap, Shindy Paul dapat menyampaikan penyesalannya dan dapat memohon maaf atas keteledorannya.

“Karena masalah ini telah masuk dalam ranah hukum, UKSW memandang bahwa aparat hukum dapat menangani kasus ini dengan baik sesuai prinsip dan sistem hukum yang berlaku di negeri ini,” kata Neil.

Belajar dari kasus Shindy Paul ini, Neil mendorong pemerintah Indonesia dan segenap tokoh masyarakat untuk mengikis persoalan dengan bersama-sama membangun iklim berbangsa yang saling menghargai tanpa kecuali.

“Kami berpandangan bahwa fenomena penistaan agama yang mungkin muncul karena sikap-sikap beragama yang dangkal, fundamentalis, dan intoleran masih merupakan masalah yang cukup terbuka di Indonesia, tidak hanya dilakukan oleh Sdr. Shindy Paul. Pola perilaku seperti itu bagaimanapun mencederai rasa kebangsaan kita semua,” tutupnya. [ ]

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed