by

Rektor UII: Umat Muslim Perlu Merekonstruksi Sejarah Peradaban Islam

Kabar Damai I Senin, 28 Juni 2021

Jakarta I kabardamai.id I Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid mengatakan muslim perlu merekonstruksi sejarah peradaban Islam. Sejarah masa lampau perlu dikonstruksi untuk memberi tempat terhormat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah melakukan rekonstruksi sejarah lampau. Rekonstruksi adalah proses intelektual, ada elemen lama di sana, tetapi dilengkapi dengan elemen kontekstual sesuai kebutuhan masanya,” kata Fathul Wahid saat membuka kuliah umum daring bertajuk ‘Perkembangan Peradaban Islam’ seperti dilansir Antara, Minggu (27/6/2021).

Menurutnya, proses rekonstruksi berbeda dengan proses reproduksi yang bersifat mekanistik dan menyalin masa lalu apa adanya. Jika sekadar melakukan reproduksi, lanjutnya, justru akan menjadikan muslim tidak beranjak dari tempatnya karena selalu hidup di bawah bayang-bayang masa lalu sehingga sulit berkembang.

Menurut dia, muslim tidak sekadar harus mampu menjadi pemilik peradaban yang dikembangkan, namun di sisi lain juga harus bersedia menjadi tamu dari peradaban dan pemikiran dari tempat yang lain.

“Bagaimana nilai-nilai universal Islam kita gaungkan, kita lantangkan, dan membuka diri dari pemikiran tempat atau kalangan lain,” ujarnya.

Hal tersebut, menurut dia, dapat kembali merujuk pada masa Harun Ar-Rasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang amat memberikan penghargaan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Pada saat itu, kata dia, siapa pun ilmuwan, baik muslim maupun bukan, yang membantu mengembangkan ilmu pengetahuan diberi penghargaan emas seberat buku yang ditulis atau diterjemahkan.

“Ini indikasi bahwa Islam menghargai ilmu, dan ilmu pengetahuan,” ujar Fathul.

Pada abad ketiga sampai kelima setelah Islam hadir, dikatakan Fathul, banyak muslim kelas menengah yang mempunyai sumber daya dan minat tinggi dalam mempelajari ilmu pengetahuan.

Pada saat itu, sebagaimana dicatat oleh sejarah, daulah memberikan tempat yang terhormat untuk ilmu pengetahuan Yunani. Penyebaran ilmu pengetahuan menjadi luas karena dorongan dan sambutan kelas menengah muslim. Situasi spiritual pada tiga abad pertama Islam, menurut dia, amat kondusif untuk masuknya ide dan sistem pemikiran Yunani.

“Jika kita sepakat, bahwa saat ini, muslim cenderung tertinggal dalam pengembangan ilmu pengetahuan atau peradaban, mungkin kita bisa melakukan refleksi terhadap cerita tersebut,” kata dia.

Interaksi Islam dengan Peradaban Yunani

Pergumulan atau interaksi orang-orang Islam dengan peradaban Yunani sudah dimulai sejak masa awal Islam. Disebutkan bahwa al-Harits ibn Qaladah, seorang sahabat Nabi, sempat mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur, Persia. Interaksi ini mendapatkan bentuknya yang paling nyata seiring dilakukannya proses perluasan wilayah atau pembebasan (al-futûh̠ât) di sejumlah daerah yang menjadi pusat-pusat peradaban Yunani seperti Iskandariyah (Mesir), Damaskus, Antioch, Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia), dan Jundishapur (Persia).

Baca Juga: Masjid Damarjati, Potret Pusat Syiar Islam Sekaligus Saksi Sejarah Perang Diponegoro

Khasanah ilmu pengetahuan Yunani di beberapa tempat tersebut menjadi harta karun yang tak ternilai harganya. Di tempat-tempat itu lahir dorongan untuk melakukan kegiatan penelitian dan penerjemahan karya-karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani yang nantinya didukung dan disponsori oleh para penguasa Muslim (Madjid, 2005). Hellenisme, yakni semua pemikiran, kesenian, kesusastraan, dan kebudayaan yang terkait Yunani,  akhirnya menjadi salah satu unsur terpenting yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Muslim (Hitti, 2008).

Sebagai contoh yaitu salah satu ajaran Neoplatonisme yang nantinya banyak diadopsi oleh dunia Islam adalah idenya tentang “Yang Esa” (the One) sebagai prinsip tertinggi atau sumber penyebab. Neoplatonisme yaitu aliran filsafat yang dikembangkan oleh Plotinus (w.270 M) yang memadukan arus besar filsafat Yunani Klasik seperti Platonisme, Aristotelianisme, Pythagorianisme, dan Stoisme (Fakhry, 2002).

Penerjemahan karya-karya berbahasa Suryani ataupun Yunani ke dalam bahasa Arab kira-kira dimulai pada abad ke-8 M. Sumber-sumber klasik memuji dukungan Khalid ibn Yazid (w. 704 M) dari Dinasti Umayyah sebagai penyelenggara penerjemahan karya-karya kedokteran, kimia, dan astrologi ke dalam bahasa Arab. Ia menyediakan sejumlah harta dan memerintahkan para sarjana Yunani yang bermukim di Mesir. Upaya ini merupakan awal mula dilakukannya proyek penerjemahan dalam sejarah Islam.

Pada masa Dinasti Abbasiyah, Khalifah Harun Al-Rasyid beberapa kali melakukan serangan ke Romawi dan menjadi jalan masuknya manuskrip-manuskrip Yunani terutama yang berasal dari Amorium dan Ankara. Pada masa Al-Makmun, dia mengirim utusan ke Konstantinopel untuk menghadap ke Raja Leo dari Armenia dalam rangka mencari manuskrip-manuskrip Yunani tersebut.

Untuk memahami naskah-naskah tersebut, khalifah bersandar pada terjemahan dari para sarjana di daerah yang ditaklukkan, baik Yahudi, Kristen, maupun Penyembah Berhala (Shabi’in). Para sarjana ini menjadi penghubung pertama yang memperkenalkan orang-orang Arab-Muslim dengan peradaban Yunani, sebab naskah-naskah tersebut terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani dan kemudian ke dalam bahasa Arab.

Pengaruh Peradaban Yunani dalam Dunia Islam

Babak penerjemahan karya-karya Yunani tersebut segera dilanjutkan dengan aktivitas kreatif para sarjana Muslim. Dalam proyek pembangunan budaya, mereka tidak hanya membaurkan kebijakan kuno Persia dan Yunani klasik, tetapi juga mengadaptasi keduanya sesuai dengan kebutuhan khusus dan pola pikir mereka. Banyak karya-karya baru bermunculan dalam berbagai bidang keilmuan seperti kimia, astronomi, matematika, dan geografi. Begitu juga dalam bidang hukum, teologi, filologi, dan bahasa di mana mereka berhasil mengembangkan pemikiran dan penelitian yang orisinil (Hitti, 2008).

Dari berbagai unsur peradaban Yunani, khususnya dalam bidang pemikiran, Neoplatonisme dan Aristotelianisme merupakan yang paling berpengaruh di dalam dunia Islam. Pemikiran Neoplatonisme sangat berpengaruh dalam pembentukan filsafat Islam. Ibnu Sina, misalnya, dapat dikatakan sebagai seorang Neoplatonis karena ajarannya tentang mistik perjalanan ruhani menuju Tuhan sebagaimana yang dimuat dalam karyanya yang berjudul Isyârât.

Selain itu, pengaruh besar lainnya yaitu Aristotelianisme yang dapat disaksikan dengan kenyataan bahwa kaum muslim banyak yang menggunakan atau memanfaatkan metode berpikir logis menurut logika formal atau silogisme Aristoteles. Dalam dunia filsafat, Aristoteles mendapatkan penghormatan yang begitu tinggi sehingga mendapatkan julukan sebagai “guru pertama”. Namun demikian, perlu dicatat bahwa kebanyakan yang diambil oleh para filosof Muslim bukanlah pikiran asli Aristoteles melainkan pikiran, pemahaman, dan tafsir orang lain terhadap pemikiran Aristoteles (Madjid, 2005).

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam dunia Islam inilah yang kemudian mengantarkan Eropa menuju era Renaisance. Proses transmisi keilmuan ini khususnya terjadi di sejumlah tempat seperti Andalusia, Sicilia, dan Suriah yang pernah menjadi bagian dari peradaban Islam. Wilayah-wilayah itu kemudian membangun dasar-dasar ilmu yang memberi pondasi pemikiran Eropa pada Abad Pertengahan.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Diolah dari berbagai sumber

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed