by

Rektor UHN: Galungan dan Kuningan Menjadi Kemenangan Dharma

Kabar Damai I Kamis, 15 April 2021

Jakarta I kabardamai.id I Rektor Universitas Hindu Negeri (UHN) IGB Sugriwa, I Gusti Ngurah Sudisna, menyampaikan bahwa Galungan dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Rabu Kliwon Wuku Dunggulan.

Hari Raya Galungan dan Kuningan merupakan momen spesial bagi umat Hindu.

“Bagi orang Bali, Galungan dan Kuningan merupakan momen spesial yang menandakan kemenangan Dharma (kebenaran) melawan adharma (kejahatan),” kata I Gusti Ngurah Sudiana usai melaksanakan sembahyang pagi di Bali, Rabu (14/4/2021), seperti dikutip kemenag.go.id.

Melansir laman Kementerian Agama RI, disampaikan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali ini,  menjadi pemandangan biasa jika kemenangan dirayakan dengan kegembiraan. “Di depan rumah biasanya ada ‘penjor’ yang dihias dengan berbagai hasil bumi (padi, kelapa, tebu dan lain-lain),” jelasnya.

I Gusti Ngurah Sudiana menjelaskan, penjor adalah perlambang gunung yang memberikan kesejahteraan dan keselamatan. Wujudnya seperti Naga Basuki. Penjor dibuat seindah mungkin dengan menggunakan unsur-unsur alam seperti bambu, janur, padi, umbi-umbian (pala bungkah), pala gantung (kelapa, pisang, tebu). Semua hasil bumi ditaruh di penjor sebagai wujud syukur atas segala kemakmuran dari Sang Hyang Jagadkarana.

Sehari sebelumnya, lanjut pria berkumis tebal ini, ada Penyajaan (hari Senin) dan Panampahan (hari Selasa) yang menjadi momen untuk membuat segala macam jajan (kue) dan juga olahan lawar.

Menurut I Gusti, momen Panampahan sangat ditunggu-tunggu karena bisa makan makanan spesial, yakni makan masakan olahan daging. Kenapa spesial? karena kebanyakan keluarga-keluarga atau masyarakat di Bali saat itu sangat jarang makan daging. Masakan daging disajikan dalam momen tertentu, terutama untuk persembahan Yadnya. Selesai dihaturkan kepada Ida Hyang Bhatara, baru bisa “ngelungsur” sebagai Prasadham.

 

Baca Juga : Umat Hindu Helat Panampahan Jelang Galungan

 

Selain momen makan spesial, tambah I Gusti Ngurah Sudiana,  suasana perayaan juga ditandai dengan memakai baju baru. Begitulah sebabnya, Galungan selalu ditunggu anak-anak, utamanya karena akan dibelikan baju baru.

Bahkan, lanjut I Gusti Ngurah Sudiana, momentum Galungan menjadi sangat spesial bagi sang pengantin baru. Karena warga Banjar akan datang ke rumah penganten membawa banten tumpeng.

“Warga sekitar juga bisa ikut merayakan dan merasakan kegembiraan pasangan penganten baru. Pulang dari rumah penganten biasanya diberi “tape”, sehingga bisa ikut merasakan manisnya tape,” terangnya.

 

Makna Galungan dan Kuningan

Sejatinya Hari Raya Galungan dimaksudkan agar umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma = kebenaran) di dalam diri manusia. Kebahagiaan bisa diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran.

Dilihat dari sisi upacara, adalah sebagai momen umat Hindu untuk mengingatkan baik secara spiritual maupun ritual agar selalu melawan adharma dan menegakkan dharma.

Jadi, inti dari Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar umat Hindu mendapat pendirian serta pikiran yang terang, yang merupakan wujud dharma dalam diri manusia.

Kesimpulannya, hakikat Galungan adalah perayaan menangnya dharma melawan adharma. Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma.

Sepuluh hari kemudian, tepatnya pada saat Kuningan, umat Hindu mengadakan upacara menghaturkan sesaji dan hendaknya dilaksanakan pada pagi hari, serta menghindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

 

Penulis: Ahmad Nurcholish

Sumber: kemenag.go.id I Times Indonesia

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed