by

Rekomendasi 5 Buku Masterpiece, Mahakarya dari Balik Jeruji

Kabar Damai, Kamis 15 July 2021

Jakarta I kabardamai.id I Dalam perkembangan sejarah negara Indonesia, banyak tokoh yang dilemparkan ke penjara akibat dari pemikirannya. Bagi para tokoh tersebut, penjara yang dapat membuat seseorang berada dalam keterasingan, seakan tak mampu untuk membatasi pemikiran yang kemudian ditulis untuk keabadian. Kasus pemenjaraan tokoh-tokoh penting tersebut terjadi pada zaman yang berbeda, mulai dari kolonialisme, orde lama, dan orde baru.

Baca Juga: Rekomendasi Novel Indonesia Sarat Nilai Toleransi

Indonesia Vrij – Mohammad Hatta (1928)

Opnamedatum:2019-07-30

Pada masa kolonialisme, Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia, pernah mengalaminya. Mochammad Hatta, harus mendekam dibalik jeruji besi Belanda, karena dianggap memiliki peran penting terhadap pemberontakan yang terjadi di tanah kelahirannya. Hatta membuat penolakan yang dibacakan di persidangan kedua kasusnya, yang berjudul Indonesia Vrij, atau Indonesia Merdeka, di Belanda, pada tanggal 22 Maret 1928.

Indonesia Menggugat – Soekarno (1930)

Sumber Foto: Kumparan

Begitu juga dengan tokoh Soekarno, meski fisik dalam belenggu, Soekarno tetap menentang kolonialisme dan imperialisme. Ia bersama tiga rekannya, Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata, yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia dalam persidangan atas tuduhan hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda, Soekarno menulis pembelaan yang kemudian dibukukan dalam Indonesia menggugat pada tahun 1930.

Dari Penjara ke Penjara -Tan Malaka (1948)

Kemudian memasuki masa orde lama, sosok Datuk Ibrahim Sutan Malaka atau kerap dipanggil Tan Malaka menjadi salah satu tokoh yang dipenjara juga akibat gerakannya. Tan Malaka dipenjarakan karena kekukuhan mengkritik kekuasaan Soekarno. Dari balik pengurungan dirinya di penjara lahir autobiografi Tan Malaka: Dari Penjara ke Penjara yang mengisahkan kehidupan Tan Malaka.

Selain itu juga karya masterpiece-nya, Madilog pun ditulis secara sembunyi-sembunyi di penjara. Buku bertajuk “dari penjara ke penjara” ini merupakan salah satu karya penting yang dianggap sebagai salah satu buku paling berpengaruh dan memberikan kontribusi terhadap gagasan kebangsaan. Disebutkan bahwa meski berada di balik jeruji Tan Malaka tetap berusaha mendobrak semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Catatan Subversif – Mochtar Lubis (1980)

Tak ketinggalan, pemimpin surat kabar Indonesia Raya Mochtar Lubis, yang juga merupakan salah satu tokoh yang gencar mengkritik penguasa ia mendekam dalam tahanan orde lama selama sepuluh tahun karena sikapnya yang kritis terhadap bermacam bentuk penyelewengan kekuasaan. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku catataan Subversif (1980).

Tetralogi Pulau Buru (1980-1988)

Beralih ke masa orde baru, pemerintah telah mengambil tahun-tahun terbaik dalam hidupnya. Meski begitu dia tidak bisu dan mengalah pada keadaan seperti tokoh-tokoh bangsa lainnya yang berada dalam bui penjara. Penjara boleh jadi mengurung tubuh kita, tapi tidak menghalangi pikirannya berkelana dan menghasilkan karya luar biasa. Karya-karyanya dan semangatnya tetap hidup dan menjadi warisan yang luar biasa untuk semua anak bangsa

Pramoedya Ananta Toer dipenjara selama 15 tahun. Selama dalam penjara (1965-1979) ia menulis empat rangkaian novel sejarah yang terkenal dengan sebutan Tetralogi Pulau Buru. Bumi dan Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca merupakan literatur produk penjara yang paling terkenal karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulis selama 10 tahun mendekam di pulau Buru.

Penulis: Ai Siti Rahayu

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed