by

Refleksi HUT 21 ICRP: Dulu, Kini dan Mendatang

Kabar Damai I Jumat, 23 Juli 2021

Jakarta I Kabardamai.id I Pertambahan usia menjadi momentum berharga tidak hanya bagi individu namun juga bagi sebuah organisasi. Melalui pertambahan usia ini dapat dijadikan sebagai sebuah refleksi guna menjadi suatu hal yang lebih baik dan bermanfaat kepada lebih banyak masyarakat yang ada.

Begitu pula dengan ICRP yang genap berusia 21 tahun. Dalam dua dekade keberadaannya, organisasi ini telah banyak memberikan kontribusi dan sumbangsih melalui gerakan-gerakan baik yang dilakukan.

Dalam rangka memperingati hari jadinya, ICRP menyelenggarakan kegiatan bertajuk Gotong Royong Merawat Kebinekaan. Berbagai tokoh lintas generasi yang konsisten bergerak dan memperjuangkan isu kemanusiaan berkumpul tidak hanya untuk melakukan doa bersama bagi pulihnya bangsa Indonesia kini namun juga menjadi ajang refleksi ICRP dulu, kini dan masa yang akan datang.

Budi S. Tanuwibowo: ICRP Relevan dan Harus Dilanjutkan

Budi mengungkapkan terdapat pertanyaan yang menggelitik terhadao ICRP.Hal tersebut berupa pertanyaan apakah setelah 21 tahun misi ICRP akan tetap dilanjutkan atau harus tetap dilanjutkan. Menurutnya, misi ICRP masih relevan dan tetap harus dilanjutkan, hal ini karena jangankan dalam ranah keluarga bangsa yang sangat majemuk seperti Indonesia, dalam keluarga kecil saja yang dapat dikatakan homogen selalu ada persoalan-persoalan diantara anggotanya. Ini karena keluarga bangsa Indonesia sangatlah beragam.

Baca Juga: 21 tahun ICRP: Agama dan Kedamaian

Berbagai etnis, berbagai kepercayaan, berbagai suku bangsa atau keyakinan dan agama seiring berjalannya waktu pasti ada saja persoalan yang harus ditengahi dan harus dirawat agar tidak menimbulkan ketidakharmonisan.

Melihat permasalahan tersebut, Budi melihat ICRP menjadi solusi karena menjadi sarana mencegah konflik sejak dini.

“Jadi, apa yang menjadi misi ICRP untuk ikut dalam mengeratkan persatuan bangsa tanpa perlu menyamakan tapi saling menghargai diantara sesama warga bisa terus dijembatani sehingga persoalan-persoalan yang mungkin akan menyebabkan hal-hal yang menyebabkan persoalan dapat diatasi sejak dini,” ungkapnya.

Ia juga berharap agar kedepan terdapat variasi dalam upaya mempereat perbedaan. Upaya yang membosankan harus ditinggalkan dan diagnti dengan cara-cara yang lebih kreatif.

“Tentu persoalan kedepan tidak bisa ditangani dengan cara yang monoton, tapi harus ada kreatifitas sesuai dengan perkembangan zaman. Caranya yang harus dirubah dan diperkaya sehingga tidak membuat orang jenuh atau bosan,”.

“Selama ini, upaya mempererat perbedaan selalu dilakukan dengan dialog, saya berkecimpung dalam dialog sudah puluhan tahun dan terus terang merasa jenuh dan perlu dicarikan cara-cara yang kreatif, katakanlah yang berbau seni, budaya atau bahkan olahraga sehingga pergaulan sesama anak bangsa bisa lebih cair karena melibatkan emosi, melibatkan rasa, hati dan seterusnya,”.

“Kalau kita hanya terjebak dalam dialog-dialog saja apalagi dialognya diantara orang-orang yang sepaham itu tidak efektif dan lama-lama bisa membuat orang jenuh dan meninggalkannya,” jelasnya panjang lebar.

Oleh karenanya, ia mengajak semua pihak utamanya generasi muda agar lebih meningkatkan persatuan.

“Saya ingin mengetuk kreatifitas generasi penerus bagaimanapun juga generasi muda adalah pemilik zaman yang bisa memahami persoalan zamannya. Bisa menciptakan cara-cara yang kreatif dan hidup yang bisa melibatkan emosi sehingga antara satu dan yang lain bisa lupa bahwa mereka memiliki bendera masing-masing tapi bisa luruh dalam kebersamaan yang lebih alami,” harapnya.

J.N Hariyanto: ICRP Untuk Bangsa yang Makmur dan Bermartabat

Perihal pentingnya keberadaan ICRP juga dituturkan J.N Hariyanto. Menurutnya ICRP dapat dijadikan sarana menjadikan manusia lebih makmur dan bermartabat dalam kebinekaan.

“ICRP kedepan harus tetap ada, ICRP bersama dengan semua pihak menyiapkan masa depan bangsa ini agar bukan hanya akan lebih makmur kedepan tapi juga lebih hidup sebagai manusia yang bermartabat dengan kekayaan kebinekaannya,” tuturnya.

Menurutnya pula, walaupun ada nama agama dalam ICRP, namunICRP tidak pernah masuk dalam ranah ajaran-ajaran agama untuk saling dipertentangkan. Salah satu yang selalu ia tegaskan adalah slogan ‘kalau saya benar apakah orang lain harus salah’. Dalam agama memang ada kekayaan-kekayaannya, memang membawa manusia pada kebenaran tapi yang harus diingat bahwa kebenaran multak bukan pada agama tetapi pada sang pencipta, sang khalik itu sendiri.

ICRP tidak bekerja sendiri, negara juga turut menjadi stakeholder organisasi ini. Walaupun demikian, organisasi ini akan melaksanakan hak kritik jika negara abai.

“Tanda kita menghargai perbedaan dan memperjuangkannya dengan baik adalah ketika hak-hak sipil dapat diwujudkan dengan baik dan setara. Negara harus menjadi pemeran yang penting karena negara harus hadir untuk menjamin bahwa hak sipil warga negara itu terwujud secara setara,”.

“Disini kita bekerjasama dengan segala pihak termasuk dengan negara, tetapi kita juga akan mengkritik negara kalau negara tidak melaksanakan kewajibannya,” tegasnya.

Tantowi Anwari: Kiprah ICRP Perlu Diapresiasi

Selama dua dekade ICRP berkiprah, Thowik biasa ia disapa menyatakan bahwa ICRP menjadi kekuatan penting dalam gerakan lintas iman dengan melibatkan agamawan, intelektual agama, aktivis kebebasan beragama dan berkeyakinan dan jaringan penggerak isu kemanusiaan yang sangat luas. Itu kiprah yang perlu diapresiasi bersama.

Tidak banyak organisasi masyarakat sipil yang dapat bernafas sepanjang ICRP. Sejak awal reformasi 1998, 1999 hingga 2000 bertumbuhan organisasi masyarakat sipil dan namun tidak banyak yang bisa bertahan dan relevan untuk masyarakat maupun gerakan bersama seperti ICRP.

Pengaruh ICRP yang kuat membuat organisasi ini terus bertahan hingga saat ini. Hal ini turut didukung banyak faktor termasuk perkembangan program yang juga melibatkan anak muda.

“Karena itu, konsistensi ICRP inilah yang kemudian saya kira membuat pengaruhnya semakin kuat. ICRP tidak sekadar semakin maju dalam membuat dialog dalam elit-elit lintas iman namun saya tahu persis terus memperkuat isu toleransi dan kemanusiaan dikalangan muda,”.

“Maka, program-program seperti peace train dan ragam literasi untuk dialog lintas iman diruang digital yang dilakukan ICRP dan melibatkan orang muda serta menyasar orang muda harus terus ditingkatkan,” tuturnya.

Selain itu, jangkauan kerja ICRP yang luas juga menjadi bukti bahwa ICRP benar-benar organisasi kemanusiaan yang memperjuangkan semua golongan.

“Hal berikutnya yang perlu disampaikan adalah inisiatif lintas iman ICRP juga menjangkau kerja-kerja interseksionalitas. ICRP tidak hanya berpaku pada dialog yang melibatkan komunitas agama-agama tetapi juga menjangkau komunitas ragam gender dan seksualitas, etnis dan disabilitas,”.

“Sangat tampak keberagaman isu yang diangkat oleh ICRP diacara-acara online ICRP dan dipandu oleh kawan-kawan muda,” bebernya.

 

Thowik kembali menambahkan bahwa yang juga penting diapresiasi adalah ICRP bersama jaringan kerjanya sangat sigap dalam kontribusi merespon pandemi. Situasi pandemi dua tahun ini, ICRP banyak melakukan kerja-kerja kemanusiaan, mulai dari semprot desinfektan ditempat-tempat yang banyak digunakan berkumpul banyak orang seperti rumah ibadah, sekretariat masyarakat sipil lain sampai pembagian sembako dan alat pelindung diri (APD) yang tidak hanya didistribusikan kepada kalangan rentan seperti driver dan juga komunitas rentan lintas iman. Termasuk kontribusinya sampai menjangkau kelompok disabilitas, minoritas seksual seperti waria dan transpuan.

“Ini sesuatu yang patut diapresiasi oleh kita semua karena gerakan lintas iman bisa menjangkau sektor-sektor atau komunits-komunitas yang tidak hanya isu agama,” terangnya.

Diakhir pemaparannya, Thowik berharap ICRP dapat terus menjadi organisasi yang aman dan nyaman bagi semua golongan dan terus bertumbuh lebih baik seiring dengan usia yang terus bertambah.

Penulis: Rio Pratama

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed