Refleksi Demokrasi Melalui Perjalanan Gus Dur

Jakarta | Kabardamai.id | Jaringan Gusdurian memperingati wafatnya Gus Dur—Abdurrahman Wahid—dengan diskusi mendalam tentang demokrasi dan nilai-nilai yang dipegang oleh Gus Dur, Kamis (7/9). Diskusi yang diselenggarakan secara daring ini menghadirkan tokoh-tokoh yang bersinggungan langsung dengan Gus Dur.

 

 

Gus Dur merupakan seorang pemikir, pemimpin, dan aktivis yang dikenal karena dedikasinya terhadap demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia. Pada Haul Gus Dur, sejumlah orang dari berbagai daerah berkumpul untuk merayakan warisan intelektual dan moral Gus Dur.

Tokoh Agama dan Sahabat Gus Dur, Simon Filantropa mengatakan Gus Dur adalah orang yang tak pernah gentar membela orang yang lemah. Menurut Simon, Gus Dur mengajarkan kepada kita bahwa demokrasi bukan hanya tentang pemilihan pemimpin, tetapi juga tentang penghormatan terhadap perbedaan, perlindungan hak asasi manusia, dan penegakan hukum yang adil.

“Gagasan Gus Dur itu demokrasi terjadi apabila hak-hak minoritas dijamin, selama itu tidak terjadi maka tidak ada demokrasi,” ucap Simon.

Lebih lanjut, Pendiri Rumah Kitab, Lies Marcoes menceritakan bagaimana Gus Dur memantik isu perempuan dan mempertemukan dua pemahaman berbeda, yaitu feminis sekuler dan feminis religious. Gus Dur percaya bahwa demokrasi yang sejati hanya dapat terwujud ketika hak-hak perempuan dihormati dan kepentingan mereka diakui dalam semua aspek kehidupan.

Baca juga: Perjuangan Perempuan Melawan Tradisi Adat (kabardamai.id)

“Yang pertama kali bicara soal peran kyai dan perubahan sosial dengan memperhatikan aspek gender adalah Gus Dur, kesimpulannya apa yang ditinggalkan oleh Gus Dur adalah pondasinya,” ungkap Lies.

Senada dengan Lies, Dekan Fakultas Islam Nusantara Pascasarjana UNUSIA, Ahmad Suaedy mengatakan Gus Dur adalah sosok yang selalu menggaungkan soal inklusi, pluralisme, dan toleransi sebagai pondasi dari demokrasi yang kuat. Selain itu, Gus Dur juga mampu menjembatani kesenjangan antara berbagai kelompok agama dan etnis di Indonesia.

“Gus Dur itu bagi perempuan adalah pembela hak-hak perempuan, bagi pekerja migran adalah pembela pekerja migran, begitu pun bagi pihak yang kalah pemilu, semua orang merasa diperjuangkan oleh pimpinannya,” ungkap Sueady.

 

Reporter: Nurul Sayyidah Hapidoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *